Goldman Sachs: Guncangan Pasokan Tak Separah Perkiraan, Dolar AS Tetap Kuat

- Minggu, 26 April 2026 | 02:00 WIB
Goldman Sachs: Guncangan Pasokan Tak Separah Perkiraan, Dolar AS Tetap Kuat
PARADAPOS.COM - Goldman Sachs menilai prospek dolar AS saat ini dibentuk oleh fenomena yang mereka sebut sebagai “kasus aneh dari guncangan pasokan yang menyusut.” Meskipun konflik di Timur Tengah masih berlangsung dan mengganggu aliran energi global, dampak ekonomi riil terhadap nilai tukar mata uang utama dunia itu ternyata tidak separah yang diperkirakan sebelumnya. Bank investasi raksasa tersebut mengamati bahwa harga energi yang lebih tinggi dan kekurangan produk memang sedang membentuk kembali keseimbangan global, namun efeknya terhadap perekonomian nyata masih terbatas.

Guncangan Pasokan yang Tak Terduga

Dalam sebuah catatan analitis, Goldman Sachs menggambarkan situasi ini secara kontras. “Setelah gangguan aliran energi yang jauh lebih lama dari yang diperkirakan, dampaknya sejauh ini terlihat jauh kurang mencolok daripada yang kami perkirakan pada awal konflik,” ungkap pihak Goldman dalam laporan yang dikutip pada Minggu, 26 April 2026. Ketahanan data aktivitas ekonomi justru mengejutkan para analis. Goldman mencatat bahwa sebagian besar pelacak aktivitas frekuensi tinggi menunjukkan kinerja yang cukup baik. Hal ini mengindikasikan bahwa akumulasi persediaan dan rantai pasokan yang lebih fleksibel mungkin berhasil meredam dampak negatif—setidaknya untuk sementara waktu. Kondisi ini membuka kemungkinan bahwa Goldman sendiri mungkin telah “terlalu berhati-hati terhadap mata uang siklikal seperti AUD dan terlalu optimis terhadap Dolar.” Jika pasokan global terbukti lebih elastis dari perkiraan, maka posisi mereka terhadap mata uang tertentu perlu dievaluasi ulang.

Kesenjangan Pertumbuhan Global dan Dolar

Bank tersebut terus melihat perbedaan dalam pertumbuhan global sebagai pendorong utama pergerakan mata uang. Goldman telah merevisi perkiraan pertumbuhan global ke bawah, dengan pemotongan yang lebih tajam terjadi di luar Amerika Serikat—khususnya di ekonomi Asia-Pasifik di luar Tiongkok. Sementara itu, prospek ekonomi AS relatif lebih baik. Kesenjangan yang melebar ini telah mendukung dolar dalam jangka pendek. Goldman mencatat bahwa “depresiasi dolar secara luas tertunda” dalam perkiraan nilai tukar tiga bulannya. Artinya, penguatan dolar masih berlanjut meskipun ada tekanan dari berbagai sisi.

Risiko yang Masih Mengintai

Meski demikian, risiko tetap tidak merata. Lalu lintas yang terbatas melalui jalur pengiriman utama dan tanda-tanda awal tekanan pasokan yang lebih luas—terutama di Eropa—membuat risiko harga komoditas tetap tinggi. Goldman memperingatkan bahwa pasar harus tetap waspada terhadap “risiko kenaikan harga komoditas yang berkelanjutan” dan “dampak yang hampir mekanis” dari biaya energi yang lebih tinggi terhadap neraca transaksi berjalan. Dalam konteks itu, bank tersebut berpendapat bahwa mata uang Eropa mungkin masih meremehkan risiko pasokan energi yang lebih ketat. Meskipun pasar telah mulai menyesuaikan diri dalam beberapa sesi terakhir, kekhawatiran akan gangguan pasokan yang lebih parah belum sepenuhnya tercermin dalam harga. Di lapangan, para pelaku pasar tampak masih mencermati setiap perkembangan di Timur Tengah. Fluktuasi harga minyak dan jalur pelayaran menjadi indikator yang terus dipantau. Namun, sejauh ini, optimisme terhadap ketahanan ekonomi AS masih menjadi faktor dominan yang menopang dolar.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar