Duka di Balik Pemulihan: 16 Korban Tewas dalam Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi

- Rabu, 29 April 2026 | 21:50 WIB
Duka di Balik Pemulihan: 16 Korban Tewas dalam Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi
PARADAPOS.COM - Tragedi tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam telah merenggut 16 nyawa. Memasuki hari kedua pasca-insiden, gerbong KRL yang ringsek telah berhasil disingkirkan dari rel, dan aktivitas di stasiun yang sempat lumpuh total perlahan kembali menggeliat. Namun, di balik pemulihan infrastruktur, tersisa duka mendalam dari keluarga yang kehilangan orang tercinta. Berikut adalah rangkaian kisah pilu dan kenangan dari para korban yang gugur dalam musibah tersebut.

Pilu Radit di Pusara Istrinya, Korban Tragedi Stasiun Bekasi Timur

Di TPU Cipayung, Jakarta Timur, Radit (36) melepas kepergian istrinya, Harum Anjarsari (30), untuk selamanya. Harum menjadi salah satu dari 16 korban tewas setelah kereta yang ditumpanginya dihantam dari samping. Di tengah linangan air mata, Radit justru mengenang pekan yang seharusnya menjadi momen bahagia sebelum dirinya harus mutasi tugas ke Tasikmalaya. “Kemarin tuh seharusnya kita sudah mulai mau jalan-jalan,” kenang Radit dengan suara bergetar. Harum, yang tetap memilih masuk kerja untuk menghadiri acara halal bihalal kantor meski sudah dalam masa cuti, dikenang sebagai pribadi yang pekerja keras dan istri yang setia. Radit mengaku kerap diliputi rasa bersalah melihat istrinya bekerja tanpa kenal lelah. “Dia keras kepala, tapi positif. Enggak pernah mau berhenti kerja. Saya sempat merasa bersalah, kenapa dia harus kerja sekeras ini,” ujarnya lirih. Ia menambahkan, “Istri yang baik, baik banget. Baik banget, istri yang baik.” Malam nahas itu, komunikasi terakhir mereka terjadi saat Harum memberi kabar bahwa dirinya sudah tiba di Stasiun Bekasi Timur. Tak berselang lama, sebuah pesan singkat masuk yang menjadi kontak terakhir mereka. “Sayang, ini keretanya nabrak ini... nabrak mobil,” tulis Harum. Setelah pesan itu, Radit kehilangan kontak dan bergegas menyusuri lokasi kecelakaan serta rumah sakit. Pencariannya berlangsung semalaman. Harapan sempat muncul ketika ponsel Harum masih aktif, namun yang menjawab justru petugas pemadam kebakaran. “Saya berdoanya ya handphone-nya aja yang di situ, jadi orangnya istri saya tuh sudah di rumah sakit,” ucapnya. Namun, harapan itu sirna setelah jenazah Harum teridentifikasi di RS Polri Kramat Jati melalui pencocokan DNA. Meski kehilangan istri akibat kecelakaan yang dipicu taksi mogok di rel, Radit memilih untuk tidak menyalahkan siapa pun. Ia memandang tragedi itu sebagai takdir yang sudah digariskan. “Manusiawi kalau marah. Tapi kalau menyalahkan kejadian, buat saya enggak dewasa. Apapun sudah digariskan Tuhan. Nikah, punya anak, sampai meninggal pun sudah ditulis,” tuturnya. Beban terberat yang ia rasakan justru datang dari rasa bersalah kepada keluarga istrinya. “Kan pasti ya kalau nikahin anak orang tuh apalagi seorang laki-laki selalu nitipin anaknya, nah saya ngerasa bersalah aja nggak bisa jaga anaknya, nggak bisa jaga istri saya,” ujarnya sembari menunduk. Kini, Radit harus merangkul kedua buah hatinya yang masih berusia 7 dan 3 tahun. Mereka harus tumbuh tanpa sosok ibu yang selama ini menjadi pusat dan pengikat keluarga.

Cerita Korban 10 Jam Terjepit di KRL: Tidur di Atas Orang dan Melihat Korban Jiwa

Endang Kuswati (40) menjadi salah satu penumpang yang mengalami pengalaman paling mencekam. Ia harus bertahan hidup selama 10 jam dalam kondisi tubuh terjepit di gerbong khusus wanita. “Jadi aku dapat salah satu foto dari pers itu korban itu masih di dalam dalam kondisi lemas dan sudah di dalam proses oksigen ya, karena di situ dia sudah posisinya sudah dari jam 9 malam juga untuk terjepit gitu,” kata Iqbal, kerabat Endang yang menceritakan ulang kejadian tersebut. Endang baru berhasil dievakuasi pada Selasa pagi. Ia termasuk korban terakhir yang dikeluarkan dari reruntuhan. Selama terjebak, ia harus bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. “Dia sampai tidur di reruntuhan orang ya, karena dia cukup banyak, karena di bawah ataupun di belakangnya itu masih banyak, ada beberapa yang meninggal,” ucap Iqbal menggambarkan situasi mengerikan yang dialami Endang.

Kisah Sausan, Korban Tabrakan Kereta: Terlempar hingga Tersangkut di Rak Bagasi

Kecelakaan itu juga menyisakan cerita dari para penumpang yang selamat, salah satunya Sausan (30). Penumpang KRL tujuan Stasiun Tambun ini mengalami kejadian yang sulit dipercaya. “Posisi duduk di sebelah kiri ya. Dia juga nggak tahu, lagi main HP, jadi langsung bunyi 'brak' gitu. Dia kayak enggak sadar, ingat-ingat posisi sudah ada di atas (rak bagasi) yang biasa kita naruh-naruh barang. Nah, dia sudah di situ,” kata Yuli, sang kakak, di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Selasa (28/4). Saat ditemui di lokasi, Sausan dalam kondisi lemas. Ia masih syok dan bertanya mengenai keadaannya sendiri serta barang bawaannya. Akibat benturan keras, Sausan mengalami patah tulang lengan kiri dan luka robek di paha kiri. “Lemas Kak. Aku masih hidup Kak? Tas aku Kak, handphone aku Kak?” ucap Yuli menirukan pertanyaan Sausan yang masih linglung.

Pemred Kompas TV Kenang Sosok Pegawainya yang Jadi Korban Tabrakan KRL di Bekasi

Duka juga menyelimuti keluarga besar Kompas TV. Nur Ainia Eka Rahmadhynna, akrab disapa Ain, menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam insiden ini. Ain dikenal sebagai pegawai yang sangat berdedikasi. Pemimpin Redaksi Kompas TV, Yogi Arief Nugroho, menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian Ain. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kami keluarga besar Kompas TV dan redaksi Kompas TV mengalami kehilangan yang luar biasa atas kepergian rekan kami, rekan kerja, sahabat, saudara kami,” kata Yogi di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4). Yogi mengenang Ain sebagai sosok yang sangat membantu dalam proses siaran. Sejak bergabung pada November 2015, Ain bertugas di Departemen Production Support. Pencarian akan keberadaan Ain berlangsung tegang hingga akhirnya kabar duka datang. “Akhirnya pukul pagi kita sudah putuskan krisis, kita siapkan untuk yang terburuk sembari berdoa tetap ada mukjizat. Tapi sekitar siang tadi pukul 14.00 kami mendapat konfirmasi bahwa rekan kami, sahabat kami, teman kerja kami sudah berpulang,” ucapnya.

Sosok Citra, Perantau Asal Jambi Korban Tabrakan KRL di Bekasi: Selalu Ceria

Nur Alimantun Citra (19), seorang perantau asal Jambi, juga menjadi salah satu korban meninggal. Ia dikenang oleh teman-temannya sebagai pribadi yang selalu ceria dan penuh perhatian. “Aku sedih banget, bener-bener sedih. Karena almarhumah ya orangnya ceria gitu. Terus kalo ke temen-temennya itu bener-bener care. Ya sering banget nanya, 'Cath lu kenapa'. Makanya waktu ngedenger kabar ini, bakal kebayang nanti nggak ada yang nanya gitu kali ya. Nggak ada yang se-care itu lagi kali ya sama gue,” kata Catherine saat ditemui di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4). Riza (21), teman satu kampus Citra, menjadi orang terakhir yang bertemu langsung dengan almarhumah sebelum kejadian nahas itu. Mereka pulang bersama dari kampus. “Jadi kita memang satu kampus, jadi bareng-bareng pulangnya. Kebetulan tujuan di keretanya sama, cuma beda rute saja. Jadi kita memang ada rencana buat bareng kan dari awal di kampus, terus sempat ngobrol-ngobrol, terus sebelum kereta juga sempat kita ngobrol-ngobrol dulu bentar, bincang-bincang,” ujarnya mengenang momen terakhir bersama Citra.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler