BRIN Temukan Tiga Spesies Ikan Sapu-sapu di Indonesia, Ancaman Baru bagi Ekosistem Perairan

- Kamis, 30 April 2026 | 15:25 WIB
BRIN Temukan Tiga Spesies Ikan Sapu-sapu di Indonesia, Ancaman Baru bagi Ekosistem Perairan
PARADAPOS.COM - Jakarta, 30 April 2025. Ancaman spesies ikan asing invasif di perairan Indonesia kian nyata, dengan ikan sapu-sapu menjadi sorotan utama. Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Gema Wahyudewantoro, mengungkapkan bahwa dari sekitar 15 jenis ikan sapu-sapu yang ada secara global, tiga spesies kini telah ditemukan di Indonesia. Temuan ini menandai peningkatan signifikan dari sebelumnya yang hanya satu spesies, memicu kekhawatiran akan tekanan terhadap biodiversitas perairan lokal.

Lonjakan Spesies dan Dampak Ekologis

Dalam acara Media Lounge Discussion (Melodi) di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (30/4), Gema menyampaikan kekhawatirannya. “Padahal sebelumnya hanya ditemukan satu spesies, sehingga (ikan sapu-sapu) perlu diantisipasi agar tidak seluruhnya masuk dan memperparah tekanan terhadap biodiversitas perairan Indonesia,” ujarnya. Secara biologis, ikan sapu-sapu memiliki usia hidup hingga 15 tahun. Ikan ini tidak hanya memakan alga, tetapi juga telur ikan lain. Kemampuan reproduksinya pun tergolong tinggi, mampu menghasilkan tiga hingga lima ribu butir telur dalam satu siklus. “Aktivitasnya di dasar perairan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan,” jelasnya. Gema menambahkan, ikan sapu-sapu bukanlah predator, melainkan kompetitor yang kuat. Kemampuan adaptasinya yang tinggi, ditambah mekanisme pernapasan tambahan, memungkinkannya bertahan di perairan dengan kualitas rendah. Di Jakarta, ikan ini marak diburu karena dianggap mengganggu ekosistem sungai.

Ancaman Ekonomi dan Kesehatan

Dampak keberadaan ikan sapu-sapu tidak berhenti pada lingkungan. Gema mengungkapkan, dari sisi ekonomi, ikan ini berpotensi menurunkan hasil tangkapan ikan bernilai tinggi karena menggeser ikan lokal dan merusak habitat. “Dari sisi kesehatan, beberapa penelitian menunjukkan potensi kandungan logam berat dan bakteri seperti Escherichia coli di dalam tubuh ikan invasif,” terangnya.

Strategi Pengendalian Populasi

Untuk mengendalikan populasi, Gema mendorong sejumlah langkah strategis. Penangkapan rutin dan terjadwal perlu dilakukan, idealnya sebelum musim reproduksi agar lebih efektif. Selain itu, diperlukan penelitian siklus reproduksi, identifikasi musuh alami, restorasi lingkungan, edukasi masyarakat, serta penegakan hukum yang tegas. “Sebagian besar spesies asing masuk karena aktivitas manusia. Tanpa pengelolaan yang baik, mereka dapat menjadi invasif dan mengancam biodiversitas lokal,” tutur Gema. Pencegahan, menurutnya, tetap menjadi langkah paling efektif melalui penguatan kebijakan, riset, dan peningkatan kesadaran publik. Penelitian lanjutan untuk mengetahui waktu musim reproduksi ikan ini juga dinilai krusial. Di tengah hiruk-pikuk perkotaan, sungai-sungai di Jakarta menjadi saksi bisu perjuangan melawan spesies asing yang terus mengintai.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar