Harga Pertamax Rp 16.250 per Liter, Sekretaris Kabinet Sebut Masih Termurah di Asia Tenggara

- Minggu, 14 Juni 2026 | 12:50 WIB
Harga Pertamax Rp 16.250 per Liter, Sekretaris Kabinet Sebut Masih Termurah di Asia Tenggara
PARADAPOS.COM - Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa harga Pertamax di Indonesia, yang baru saja mengalami penyesuaian, masih lebih rendah dibandingkan harga bahan bakar dengan angka oktan setara di sejumlah negara Asia Tenggara. Pernyataan ini dirilis pada Minggu, 14 Juni 2026, sebagai respons atas kenaikan harga minyak mentah global yang mulai terasa sejak Maret 2026. Dengan harga saat ini dipatok Rp 16.250 per liter untuk RON 92, pemerintah berupaya menahan dampak fluktuasi energi dunia terhadap daya beli masyarakat.

Perbandingan Harga BBM di Kawasan Asia Tenggara

Teddy memaparkan data perbandingan harga untuk menunjukkan posisi kompetitif Indonesia. Di Filipina, harga BBM dengan spesifikasi serupa telah mencapai sekitar Rp 22.158 per liter. Sementara itu, Thailand mencatatkan angka Rp 28.910 per liter, dan Myanmar berada di kisaran Rp 25.085 per liter. Perbedaan yang lebih mencolok terlihat di dua negara lainnya. Laos membanderol BBM RON 92/95 sebesar Rp 31.945 per liter, sedangkan Singapura menjadi yang tertinggi dengan harga mencapai Rp 42.971 per liter. Berdasarkan data tersebut, pemerintah menilai harga Pertamax di Indonesia masih relatif kompetitif dan lebih terjangkau.

Tekanan Harga Minyak Dunia dan Kebijakan Pemerintah

Di tengah sorotan publik, Teddy menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah dunia telah memberikan tekanan besar terhadap biaya pengadaan energi nasional. Namun, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto disebut sengaja menahan penyesuaian harga selama berbulan-bulan demi menjaga stabilitas ekonomi domestik. "Harga minyak dunia sudah naik drastis sejak Maret 2026. Namun pemerintah sudah menahan kenaikan harga Pertamax selama berbulan-bulan," ujar Teddy dalam keterangannya. "Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding BBM RON 92/95 di negara lain," lanjutnya.

Dampak terhadap Masyarakat dan Langkah ke Depan

Penyesuaian harga bahan bakar nonsubsidi ini tak pelak menuai perhatian publik, terutama karena berpotensi memengaruhi biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok. Meski demikian, pemerintah berharap masyarakat dapat melihat kebijakan ini dalam konteks yang lebih luas, yaitu perkembangan harga energi global yang tengah tertekan. Dengan kondisi tersebut, pemerintah menegaskan akan terus memantau pergerakan harga minyak dunia. Langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan sektor energi nasional dan kemampuan masyarakat dalam mengakses bahan bakar berkualitas.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler