PARADAPOS.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyatakan bahwa tidak ada risiko penularan luas Hantavirus di kalangan masyarakat umum, dan tidak diperlukan pembatasan perjalanan. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Kepala Kantor WHO Eropa, Hans Kluge, pada Senin lalu melalui platform media sosial X, sebagai respons atas pemberitaan mengenai dugaan wabah di sebuah kapal pesiar. Klarifikasi ini muncul setelah media melaporkan tiga orang meninggal dunia dalam insiden di kapal MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Tanjung Verde.
Pernyataan Resmi WHO: Tidak Perlu Panik
Dalam unggahannya, Hans Kluge menegaskan bahwa infeksi Hantavirus pada dasarnya terkait dengan paparan lingkungan, bukan penularan antarmanusia. Ia menjelaskan bahwa sumber utama infeksi adalah kontak langsung dengan urine atau feses hewan pengerat yang terinfeksi.
“Infeksi Hantavirus umumnya terkait paparan lingkungan, seperti kontak dengan urine atau feses hewan pengerat yang terinfeksi. Meski dalam beberapa kasus bisa parah, virus ini tidak mudah menular antarmanusia,” ujarnya.
Ia pun menambahkan kalimat yang menekankan ketenangan publik.
“Risiko bagi masyarakat luas tetap rendah. Tidak ada alasan untuk panik atau melakukan pembatasan perjalanan,” tuturnya.
Konteks Kejadian di Kapal MV Hondius
Sebelum pernyataan WHO dirilis, pemberitaan sempat diramaikan oleh kabar mengenai tiga orang yang meninggal dunia di kapal MV Hondius. Kapal tersebut diketahui tengah dalam pelayaran dari Argentina menuju Tanjung Verde. Dugaan awal menyebutkan bahwa kematian tersebut berkaitan dengan wabah Hantavirus di atas kapal.
Meski begitu, WHO menekankan bahwa kasus-kasus seperti ini bersifat sporadis dan sangat bergantung pada kondisi lingkungan setempat, bukan indikasi bahwa virus telah menyebar luas atau mampu menular antarmanusia secara efisien.
Mekanisme Penularan yang Sangat Spesifik
Dari sudut pandang medis, Hantavirus memang dikenal sebagai virus yang ditularkan melalui hewan pengerat. Manusia biasanya terinfeksi ketika menghirup partikel debu yang terkontaminasi oleh kotoran tikus. Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi, dan hanya dilaporkan dalam beberapa kasus di luar benua Amerika.
Oleh karena itu, pernyataan WHO ini memperkuat pemahaman bahwa masyarakat tidak perlu mengubah kebiasaan bepergian atau melakukan karantina khusus. Yang lebih penting justru adalah menjaga kebersihan lingkungan, terutama di area yang berpotensi menjadi sarang tikus.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Cunha Dukung Carrick Jadi Pelatih Tetap Manchester United: Ia Bawa Kembali Magis Era Ferguson
Polisi Ungkap Rekaman CCTV: Kepala Desa di Sidoarjo Terekam Mondar-mandir Sebelum Ditemukan Tewas
40 Ormas Islam Laporkan Ade Armando, Abu Janda, dan Grace Natalie ke Bareskrim atas Dugaan Framing Video Ceramah Jusuf Kalla
Polisi Sidoarjo Bongkar Pengoplosan LPG Subsidi di Rumah Berpapan ‘Dijual’, Kerugian Negara Capai Rp20 Juta per Bulan