Menteri Ekonomi ASEAN Serukan Stabilitas Rantai Pasok Global di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

- Senin, 04 Mei 2026 | 19:25 WIB
Menteri Ekonomi ASEAN Serukan Stabilitas Rantai Pasok Global di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
PARADAPOS.COM - Para menteri ekonomi negara-negara anggota ASEAN, yang tergabung dalam Dewan Komunitas Ekonomi ASEAN (AECC), menyerukan perlunya menjaga stabilitas rantai pasok global dan jalur perdagangan maritim. Seruan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Dalam pertemuan melalui konferensi video pada 30 April lalu, mereka menyatakan keprihatinan mendalam bahwa gangguan di selat strategis tersebut—yang menjadi jalur bagi seperempat ekspor minyak dan gas alam cair dunia—telah memicu krisis energi serta berdampak luas pada sektor perdagangan, pangan, dan keuangan.

Kekhawatiran atas Gangguan di Jalur Energi Global

Selat Hormuz, yang selama ini menjadi titik rawan, kembali memanas sejak konflik antara AS dan Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari. Iran mengambil alih kendali jalur maritim tersebut sebagai respons atas serangan yang dilancarkan lawan-lawannya. Tak lama kemudian, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di selat itu setelah negosiasi damai gagal pasca-berakhirnya gencatan senjata. Situasi ini, menurut AECC, telah menimbulkan efek domino yang mengkhawatirkan. Gangguan pada arus energi global tidak hanya memicu lonjakan harga minyak, tetapi juga mengancam ketahanan pangan dan stabilitas sistem keuangan di kawasan.

Pernyataan Bersama: Menjaga Jalur Laut Tetap Terbuka

“Untuk meminimalkan gangguan terhadap arus perdagangan energi, kami menggarisbawahi pentingnya menjaga jalur laut yang aman dan terbuka, memastikan kebebasan navigasi, dan jalur transit kapal dan pesawat yang aman, tanpa hambatan, dan berkelanjutan di selat yang digunakan untuk navigasi internasional, sesuai dengan hukum internasional, termasuk Konvensi PBB tentang Hukum 1982 (UNCLOS),” demikian bunyi pernyataan bersama AECC yang dimuat dalam laman Keketuaan Filipina untuk ASEAN 2026, Senin (4/5). Para menteri juga menegaskan kembali komitmen mereka untuk menerapkan Perjanjian ASEAN. Mereka berjanji menahan diri dari memberlakukan langkah-langkah non-tarif yang tidak perlu serta kebijakan lain yang berpotensi menghambat perdagangan, terutama pada sektor energi, pangan, dan komoditas penting lainnya.

Langkah Lanjutan dan Pemantauan Krisis

Sembari terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah, ASEAN berencana memperkuat kerja sama, termasuk dengan mitra eksternal, untuk merespons krisis dan mendukung ketahanan kawasan. “Kami menugaskan pejabat ekonomi senior dan badan-badan sektoral terkait untuk memantau dan menilai secara cermat perkembangan strategi regional yang komprehensif dan terpadu untuk mengatasi dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah,” demikian pernyataan AECC. Di lapangan, situasi di Selat Hormuz masih menjadi sorotan. Langkah-langkah yang diambil oleh AS dan Iran di jalur tersebut terus memicu ketidakpastian, sementara negara-negara pengimpor energi di Asia Tenggara mulai merasakan tekanan dari volatilitas harga dan keterbatasan pasokan.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar