PARADAPOS.COM - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-48 ASEAN resmi dibuka di Filipina, dengan para pemimpin negara anggota, termasuk Presiden RI Prabowo Subianto dan tuan rumah Presiden Ferdinand Marcos Jr., kompak menyerukan penguatan kerja sama kawasan. Seruan ini muncul di tengah tekanan konflik geopolitik global dan ancaman krisis iklim, seperti risiko El Nino ekstrem yang disorot Prabowo terkait ketahanan pangan. Namun, di balik semangat persatuan tersebut, data perdagangan intra-ASEAN yang hanya mencapai 20 persen dari total perdagangan kawasan menjadi ironi, menunjukkan bahwa hambatan nontarif dan prinsip non-intervensi masih menjadi ganjalan besar bagi integrasi ekonomi dan politik ASEAN.
Seruan Satu Suara di Tengah Ketidakpastian Global
Dalam pidato pembukaannya, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menekankan urgensi solidaritas ASEAN di tengah konflik geopolitik yang semakin kompleks. “Kita harus bersatu,” ujarnya, menegaskan bahwa tidak ada satu pun negara anggota yang bisa menghadapi tantangan global sendirian.
Senada dengan itu, Presiden Prabowo Subianto mengingatkan para pemimpin kawasan akan bahaya laten El Nino ekstrem yang dapat mengganggu produksi pangan. Ia menyerukan koordinasi yang lebih ketat untuk memajukan cadangan pangan bersama. “Koordinasi kawasan sangat penting,” tuturnya.
Kerja sama memang telah menjadi fondasi ASEAN sejak didirikan pada 1967. Hampir lima dekade berlalu, berbagai kemitraan telah terjalin, baik antarnegara anggota maupun dengan mitra eksternal. Bahkan, traktat persahabatan ASEAN telah ditandatangani oleh 57 negara di dunia. Namun, jumlah kesepakatan yang banyak itu belum sepenuhnya menjawab keraguan akan soliditas ASEAN.
Ironi Perdagangan dan Hambatan Nontarif
Ukuran paling gamblang dari kerapuhan integrasi ini terlihat pada sektor perdagangan. Data menunjukkan bahwa perdagangan intra-ASEAN pada 2024 hanya menyumbang 20 persen dari total perdagangan kawasan. Bandingkan dengan Uni Eropa yang mencapai 60 persen. Angka ini menjadi ironi tersendiri mengingat ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) telah berlaku sejak 2010, yang secara teoritis menghapus hampir seluruh tarif antarnegara.
Artinya, hambatan terbesar bukan lagi tarif, melainkan hambatan nontarif. Regulasi yang tidak seragam, mulai dari aturan kandungan lokal, pembatasan ekspor, hingga sistem lisensi impor yang rumit, justru menciptakan biaya kepatuhan tinggi. Alih-alih membentuk pasar tunggal, para pelaku usaha dihadapkan pada kumpulan aturan yang berbeda-beda, membuat mereka enggan memandang ASEAN sebagai satu kesatuan ekonomi.
Prinsip ASEAN Way: Antara Stabilitas dan Stagnasi
Kegamangan persatuan ASEAN juga terlihat jelas dalam menghadapi konflik internal, seperti krisis Myanmar. Prinsip ASEAN Way yang mengedepankan non-intervensi selalu menjadi acuan. Akibatnya, mekanisme penyelesaian sengketa seperti Protokol Penyelesaian Sengketa atau mekanisme Good Offices hampir tidak pernah digunakan secara efektif.
Memang, prinsip ini mungkin telah menjaga stabilitas kawasan yang rawan konflik. Namun, di tengah krisis global saat ini—baik perang maupun bencana alam—refleksi atas persatuan menjadi semakin mendesak. Tidak ada satu pun negara ASEAN yang kebal dari ancaman krisis energi, seperti yang terlihat dari dampak perang di Timur Tengah. Potensi besar ASEAN di sektor energi bersih dan pangan pun tidak akan menjadi kekuatan tanpa persatuan yang kokoh.
Langkah Konkret Menuju ASEAN Win
Di tengah keraguan itu, muncul secercah harapan. Presiden Prabowo menunjukkan tekad nyata dalam KTT Khusus BIMP-EAGA (Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area) yang digelar sehari sebelum pembukaan KTT utama. Dalam forum tersebut, ia mempertanyakan kesiapan negara-negara anggota untuk bertindak berdasarkan potensi energi terbarukan yang melimpah.
“Potensi tenaga air, surya, hingga angin di kawasan ini sangat besar,” ungkapnya. Prabowo mendorong langkah konkret seperti pengembangan tenaga air di Kalimantan, perluasan proyek energi surya di Palawan, dan peningkatan kapasitas jaringan listrik Trans-Borneo Power Grid. Ini adalah contoh nyata bahwa persatuan harus diwujudkan dalam aksi, bukan sekadar retorika.
Kita berharap pertemuan di Filipina ini, baik KTT ASEAN maupun KTT khusus lainnya, mampu membawa perubahan nyata. Saatnya konsep ASEAN Way berbuah menjadi ASEAN Win, di mana perhimpunan ini benar-benar menjadi kekuatan yang memberikan keuntungan nyata bagi seluruh anggotanya.
Editor: Annisa Rachmad
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Dua WNI dan Satu WNA Singapura Tewas dalam Erupsi Gunung Dukono, Kemlu Koordinasi dengan Kedubes Singapura
Guru Ngaji di Surabaya Diciduk Polisi Usai Cabuli Tujuh Santri Laki-Laki
Presiden Prabowo Pakai Maung Garuda Buatan Pindad di KTT ASEAN, Curi Perhatian Delegasi Filipina
BMKG Deteksi Siklon Tropis Algupit, Picu Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia