PARADAPOS.COM - Seorang sejarawan dan analis geopolitik asal Beijing, Profesor Jiang Xueqin, baru-baru ini mengemukakan prediksi yang cukup mencengangkan. Melalui konten TikTok-nya yang viral di Indonesia, ia mengidentifikasi tiga titik panas di Asia Timur yang dinilai berpotensi memicu konflik berskala besar. Ketiga titik tersebut adalah Taiwan, Selat Malaka, dan Semenanjung Korea. Analisis ini didasarkan pada pendekatan teori permainan dan kajian mendalam terhadap insentif strategis masing-masing aktor.
Suasana di kawasan memang tengah diuji oleh ketegangan yang tak kunjung reda. Jiang, dalam paparannya, mencoba membaca peta eskalasi dengan cara yang mungkin jarang terpikirkan oleh banyak orang.
Taiwan dan Posisi Vital Jepang
Menurut Jiang, Taiwan menjadi titik nyala paling rawan. Bagi Beijing, pulau ini adalah bagian tak terpisahkan dari wilayahnya. Namun, yang membuat situasi semakin kompleks adalah posisi Jepang. Negeri Sakura itu sangat bergantung pada jalur impor sumber daya yang melintasi Selat Malaka.
"Jika China ingin mengambil alih Taiwan, itu bisa menghentikan Jepang dari memiliki akses ke Malaka. Itu kemungkinan yang Jepang tidak bisa membenarkan," kata Jiang.
Prediksi ini bukan tanpa dasar. Pada 7 November 2025, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi secara terbuka menyatakan bahwa serangan Tiongkok terhadap Taiwan dapat dikategorikan sebagai "situasi yang mengancam kelangsungan hidup" Jepang. Pernyataan itu membuka jalan bagi pengerahan Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) berdasarkan undang-undang keamanan 2015 yang digagas era Shinzo Abe. Perlu diingat, wilayah Jepang terdekat hanya berjarak sekitar 110 kilometer dari Taiwan.
Reaksi Beijing pun keras. Konsul Jenderal Tiongkok di Osaka, Xue Jian, sempat menulis ancaman bernada "memenggal leher" yang ditafsirkan ditujukan kepada Takaichi. Unggahan itu kemudian dihapus.
Selat Malaka, Arena Tarik-Menarik AS-Tiongkok
Titik panas kedua yang disorot Jiang adalah Selat Malaka. Jalur perdagangan strategis ini menjadi arena tarik-menarik antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Washington ingin mengendalikannya, sementara Beijing menganggapnya vital bagi pertahanan ekonominya.
Selat Malaka merupakan urat nadi perdagangan minyak dan barang dari Timur Tengah serta Afrika menuju Asia Timur. Siapa pun yang menguasai jalur ini, secara efektif dapat menentukan kelangsungan rantai pasok energi dua raksasa Asia, Tiongkok dan Jepang.
Korea Utara Berpotensi Manfaatkan Vakum Pertahanan
Prediksi Jiang yang paling mengejutkan mungkin adalah tentang Semenanjung Korea. Ia menilai kondisi geopolitik global saat ini memberikan celah bagi Korea Utara untuk melancarkan tekanan terhadap Korea Selatan.
Mayoritas penduduk Korea Selatan terpusat di Seoul, ibu kota yang berjarak hanya sekitar 20 menit dari jangkauan artileri Korea Utara. Jiang berargumen, Pyongyang dapat menggunakan ancaman ini sebagai alat pemerasan strategis tanpa harus melancarkan serangan nyata.
"Saya tidak perlu menghancurkan Korea Selatan. Yang saya perlu lakukan adalah mengancam Korea Selatan, dan mereka akan memberi saya apa pun untuk tidak melakukan apa-apa," ujar Jiang dalam simulasi teori permainannya.
Argumen ini menjadi relevan dengan situasi terkini. Pentagon dilaporkan memindahkan sebagian komponen sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan baterai Patriot dari Korea Selatan ke Timur Tengah pada Februari-Maret 2026. Langkah ini terkait dengan dukungan operasi militer AS-Israel melawan Iran. Dua pesawat angkut C-5 Galaxy dan 11 unit C-17 Globemaster dilaporkan berangkat dari Pangkalan Udara Osan sejak 28 Februari 2026.
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengaku telah menyampaikan keberatan diplomatik. Namun, ia juga mengakui bahwa Seoul tidak memiliki banyak posisi tawar dalam situasi ini.
Komandan Pasukan AS di Korea, Jenderal Xavier Brunson, kemudian memastikan pada 21 April 2026 bahwa sistem THAAD utama tetap berada di Semenanjung Korea. Hanya amunisi dan sebagian komponen yang dikirim ke Timur Tengah.
Artikel Terkait
Putra Pemimpin Hamas Tewas dalam Serangan Israel di Gaza
Israel Serang Beirut, Langgar Gencatan Senjata dengan Lebanon
Obama Akui Netanyahu Bertahun-Tahun Mendesak Serangan Militer ke Iran Hingga Trump Akhirnya Tunduk
Iran Mewajibkan Kapal Asing Miliki Izin Resmi untuk Melintasi Selat Hormuz