Menteri Perindustrian Bantah PHK Massal, Sebut Sektor Manufaktur Serap 20 Juta Tenaga Kerja

- Jumat, 08 Mei 2026 | 07:00 WIB
Menteri Perindustrian Bantah PHK Massal, Sebut Sektor Manufaktur Serap 20 Juta Tenaga Kerja
PARADAPOS.COM - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan sektor manufaktur Indonesia tetap kokoh di tengah tekanan ekonomi global, seraya membantah adanya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Dalam pernyataannya di Badung, Bali, Jumat lalu, ia mengungkapkan bahwa penciptaan lapangan kerja baru di sektor ini justru jauh melampaui angka PHK. Data terbaru menunjukkan hingga Februari 2026, industri manufaktur telah menyerap sekitar 20 juta tenaga kerja, dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 19,07 persen atau Rp1.179 triliun pada kuartal pertama tahun ini.

Bantahan terhadap Narasi PHK Massal

Agus mengakui bahwa PHK memang terjadi di sejumlah perusahaan. Namun, ia menekankan bahwa jumlah tenaga kerja baru yang terserap jauh lebih signifikan. “Data kami menunjukkan penciptaan lapangan kerja di sektor manufaktur masih jauh lebih tinggi dibanding PHK,” ujarnya saat meresmikan Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Badung. Ia menambahkan bahwa hingga Februari 2026, sektor ini berhasil menyerap sekitar 20 juta tenaga kerja. Angka itu, menurutnya, menjadi bukti nyata bahwa industri manufaktur nasional masih tumbuh dan tetap menjadi motor utama perekonomian Indonesia.

Ketahanan Sejak Pandemi

Menurut Agus, ketahanan sektor manufaktur sudah teruji sejak pandemi COVID-19. Saat itu, industri ini menjadi salah satu sektor yang paling cepat pulih dibanding sektor ekonomi lainnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat klaim tersebut. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan industri manufaktur mencapai 5,04 persen, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 4,55 persen.

Kontribusi terhadap PDB dan Ekspor

Selain pertumbuhan, kontribusi perusahaan manufaktur terhadap PDB nasional tetap dominan. Pada kuartal pertama 2026, sektor ini menyumbang sekitar 19,07 persen terhadap PDB dengan nilai mencapai Rp1.179 triliun. “Kontribusi manufaktur terhadap ekonomi nasional justru terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” katanya, membantah narasi bahwa Indonesia sedang mengalami deindustrialisasi dini. Dari sisi investasi, sektor manufaktur juga masih menjadi magnet utama. Pada triwulan I 2026, realisasi investasi di industri ini mencapai Rp182 triliun, setara 36,5 persen dari total investasi nasional. Tak hanya itu, sektor manufaktur juga mendominasi ekspor Indonesia. Berdasarkan data BPS periode Januari-Februari 2026, ekspor produk manufaktur menyumbang 83,6 persen dari total ekspor nasional. “Artinya sebagian besar ekspor Indonesia berasal dari produk manufaktur. Ini menunjukkan betapa pentingnya sektor manufaktur bagi perekonomian nasional,” ujar Agus.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar