Elon Musk Gugat OpenAI Rp2.400 Triliun, Sidang California Ungkap Perebutan Kendali dan Konflik Visi Pendiri

- Minggu, 10 Mei 2026 | 22:50 WIB
Elon Musk Gugat OpenAI Rp2.400 Triliun, Sidang California Ungkap Perebutan Kendali dan Konflik Visi Pendiri
PARADAPOS.COM - Gugatan senilai US$150 miliar atau sekitar Rp2.400 triliun yang diajukan Elon Musk terhadap OpenAI memasuki babak krusial di pengadilan California, Amerika Serikat. Sidang yang berlangsung di hadapan Hakim Distrik Yvonne Gonzalez Rogers ini mengungkap konflik internal para pendiri, mulai dari perebutan kendali saham hingga perbedaan visi tentang arah bisnis perusahaan di balik ChatGPT. Musk menuntut Sam Altman dan Greg Brockman atas tuduhan pelanggaran kepercayaan amal dan pengayaan tidak adil, sementara OpenAI menilai gugatan ini hanya bertujuan menguntungkan perusahaan rintisan AI milik Musk, xAI.

Akar Konflik: Dari Nirlaba ke Laba

Musk ikut mendirikan OpenAI pada 2015 bersama Altman dan sejumlah tokoh teknologi lainnya. Namun, ia keluar tiga tahun kemudian setelah terjadi perebutan pengaruh di internal perusahaan. Persoalan utama yang diangkat Musk dalam gugatannya adalah keputusan OpenAI membuka unit berorientasi laba pada 2019, tiga tahun sebelum perusahaan itu meluncurkan ChatGPT yang kemudian memicu ledakan pasar kecerdasan buatan komersial. Menurut kesaksian Greg Brockman di pengadilan, pertemuan internal pada Agustus 2017 menjadi salah satu titik panas dalam sejarah OpenAI. Saat itu, para pendiri mulai membahas kebutuhan dana besar untuk mengembangkan kecerdasan buatan. Suasana berubah drastis ketika pembahasan masuk ke pembagian saham dalam rencana pembentukan unit berorientasi laba. "Saya benar-benar mengira dia [Musk] akan menyerang [pukul] saya secara fisik," kata Brockman dalam kesaksiannya, dikutip dari pemberitaan media internasional.

Perebutan Kendali dan Ancaman Pendanaan

Brockman mengungkapkan bahwa Musk menginginkan kendali mayoritas dan menolak usulan agar seluruh pendiri memperoleh porsi saham yang setara. Musk kemudian disebut menolak pendiri lain memiliki suara dalam pengambilan keputusan. "Saya akan menahan pendanaan sampai Anda memutuskan apa yang harus dilakukan," kata Musk, seperti yang disampaikan Brockman dalam kesaksiannya. Brockman juga menggambarkan pertemuan panas pada 2017 itu sebagai momen ketika suasana hati Musk berubah tiba-tiba setelah usulannya untuk memiliki pengaruh lebih besar di OpenAI ditolak. Di sisi lain, Musk dalam kesaksiannya mengatakan bahwa Brockman dan Altman telah menyesatkannya mengenai niat mereka saat melakukan perubahan bertahap di OpenAI sebelum dia menggugat pada 2024.

Donasi Awal dan Bantahan OpenAI

Musk menyebut telah memberikan donasi awal senilai US$38 juta kepada OpenAI. Namun, OpenAI pada 2024 menekankan bahwa perusahaan juga telah mengumpulkan US$90 juta dari sumber selain Musk. Musk meminta pengadilan melarang Altman dan Brockman bekerja di OpenAI serta memerintahkan perubahan lain untuk membatalkan restrukturisasi apabila juri dan hakim menyatakan mereka bertanggung jawab.

Ketegangan di Ruang Sidang

Persidangan ini dipimpin Hakim Distrik Amerika Serikat Yvonne Gonzalez Rogers, hakim federal yang dikenal tegas dan tidak mudah goyah. Suasana ruang sidang sempat memanas ketika Musk mencoba memainkan peran seperti penasihat hukumnya sendiri dengan menuduh pengacara OpenAI, William Savitt. "Bukan begitu cara kerjanya," kata Gonzalez Rogers kepada Musk. "Mari kita ingatkan semua orang di ruang sidang bahwa Anda bukan pengacara," lanjut hakim tersebut. "Saya bukan pengacara. Secara teknis saya pernah mengambil Law 101 di sekolah," ujar Musk, yang memancing tawa pengunjung ruang sidang. Hakim tersebut juga menegur Musk karena unggahan di platform X yang menyerang OpenAI dan Altman, termasuk ketika Musk menyebut Altman sebagai "Scam Altman". "Bagaimana kita bisa menyelesaikan ini tanpa Anda memperburuk keadaan di luar ruang sidang?" kata Gonzalez Rogers kepada Musk. "Bagaimana kalau kita mulai dari awal? Mulai hari ini," kata Gonzalez Rogers. "Ya," jawab Musk.

Keraguan Brockman terhadap Pemahaman AI Musk

Brockman juga menyatakan sempat kecewa terhadap pemahaman Musk mengenai kecerdasan buatan, meski dia mengagumi sebagian rekam jejak bisnis Musk. "Dia memahami roket, dia memahami mobil listrik, dan saya percaya dia tidak—dan tidak sampai sekarang memahami AI," kata Brockman. Brockman menyebut Musk terlihat tidak terkesan saat diperkenalkan dengan GPT-1, teknologi awal yang kemudian menjadi dasar ChatGPT. Musk menyebut teknologi itu "bodoh" dan mengatakan "anak-anak di internet" bisa bekerja lebih baik, pernyataan yang membuat seorang pegawai awal OpenAI kecewa berat. Gonzalez Rogers pada akhirnya akan menjadi penentu akhir perkara tersebut. Ia memberi tahu para juri bahwa penyampaian bukti dalam perkara ini bisa selesai awal pekan depan, sehingga mereka dapat mulai bermusyawarah.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar