Hantavirus Mengintai di Selokan dan Pasar, Indonesia Abai Meski Data Risiko Sudah Ada Sejak 1980-an

- Senin, 11 Mei 2026 | 01:50 WIB
Hantavirus Mengintai di Selokan dan Pasar, Indonesia Abai Meski Data Risiko Sudah Ada Sejak 1980-an

PARADAPOS.COM - Di balik gemerlap lampu kota dan hiruk-pikuk pembangunan, ada ancaman kesehatan yang bergerak diam-diam di selokan dan los pasar. Hantavirus, yang sejak 1980-an telah ditemukan pada tikus dan manusia di berbagai kota Indonesia, nyaris luput dari perhatian sistem kesehatan. Kajian ilmiah pada 2019 bahkan menempatkan Indonesia sebagai salah satu kantong utama hantavirus di Asia Tenggara, dengan sekitar satu dari enam mamalia kecil diperkirakan membawa virus ini. Ironisnya, di tengah hiruk-pikuk diskusi soal zoonosis pasca-pandemi, virus yang sudah ada di depan mata ini masih menjadi catatan kaki.

Ketika Tikus Bukan Sekadar Gangguan Estetika

Malam hari, siluet kota-kota besar Indonesia memang tampak modern. Lampu gedung perkantoran, jalan layang yang ramai, dan baliho bertuliskan "smart city" berjejer rapi. Namun, di lorong sempit di belakang bangunan, pemandangannya berbeda: tumpukan sampah, selokan tersumbat, dan tikus yang bebas berlari. Di ruang seperti inilah, jauh dari panggung diskusi kebijakan, hantavirus bergerak senyap.

Hantavirus sering dianggap sebagai penyakit luar negeri. Padahal, bukti-bukti di lapangan menunjukkan sebaliknya. Sejak 1980-an, studi di pelabuhan dan permukiman Indonesia menemukan bahwa 10 hingga 30 persen tikus membawa virus ini. Mayoritas adalah Seoul virus pada tikus got dan tikus rumah, serta varian lokal yang disebut Serang virus. Temuan terbaru di pasar Bogor bahkan lebih mengkhawatirkan: satu ekor tikus bisa membawa hantavirus dan bakteri leptospirosis sekaligus, menciptakan sumber infeksi ganda yang mematikan bagi manusia.

Di atas kertas, data ini sudah cukup untuk menyalakan lampu kuning. Namun di lapangan, lampu kuning itu nyaris tak tampak, tertelan rutinitas. Normalisasi risiko menjadi masalah tersendiri. Kita sudah terlanjur menganggap tikus sebagai penghuni tetap rumah, sehingga kehadirannya tidak lagi dianggap sebagai ancaman kesehatan, melainkan hanya gangguan estetika.

Gejala yang Mirip, Diagnosis yang Keliru

Secara sederhana, hantavirus bisa menyerang paru-paru dan ginjal. Pada sebagian orang, infeksi menyebabkan radang paru dan napas sesak. Pada orang lain, virus ini merusak ginjal sehingga penderitanya sulit buang air kecil dan tubuh membengkak. Gambaran kasarnya: demam, nyeri otot, mual, trombosit turun, lalu berlanjut ke sesak napas dan gagal ginjal.

Sering kali, gejalanya menyerupai dengue berat atau leptospirosis. Di Indonesia, hampir semua infeksi hantavirus akut awalnya didiagnosis sebagai dengue. Dokter melihat demam tinggi, trombosit rendah, kadang ruam dan perdarahan ringan. Refleks pertama adalah dengue, terutama saat musim outbreak. Baru ketika sampel diperiksa ulang di laboratorium penelitian, terungkap bahwa sebagian pasien sebenarnya terinfeksi Seoul virus. Temuan serupa muncul di Jakarta, Maumere, hingga klinik ginjal di Makassar. Bukan virusnya yang jarang; sistem kita yang jarang menoleh.

Sebuah studi pada pasien demam akut di delapan rumah sakit besar menunjukkan bahwa sekitar satu dari sepuluh pasien memiliki antibodi terhadap hantavirus. Ini adalah bukti paparan masa lalu yang luput dari statistik. Salah diagnosis yang berlarut-larut ini bukan hanya soal nyawa, tetapi juga soal efisiensi anggaran. Penanganan gagal ginjal kronis di tingkat lanjut jauh lebih mahal dibandingkan pencegahan di hulu.

Mengapa Hantavirus Terpinggirkan?

Salah satu penyebab utama adalah cara sistem melihat demam. Di banyak fasilitas kesehatan, pola pikirnya baku: cari dulu dengue dan leptospirosis karena alat tersedia dan masuk program. Hantavirus terpinggirkan karena absennya 'ruang resmi' dalam sistem pelaporan.

Di luar sektor kesehatan, data tentang tikus jarang dibaca sebagai sinyal kesehatan. Ledakan populasi tikus di pelabuhan, pasar, dan permukiman padat masih diperlakukan sebagai urusan kebersihan kota, bukan sebagai indikator risiko penyakit yang dibawa tikus. Padahal, dokumen kesiapsiagaan global merekomendasikan agar indikator lingkungan seperti ini dibaca bersama data klinis, terutama dalam kerangka 7-1-7: tujuh hari deteksi, satu hari notifikasi, tujuh hari respons. Kita rajin menyebut One Health dalam presentasi, namun di lapangan, data kesehatan, lingkungan, dan hewan berjalan sendiri-sendiri, jarang bertemu di meja yang sama.

Langkah Konkret agar Tidak Menjadi COVID Kecil

Apa yang bisa dilakukan agar hantavirus tidak menjadi COVID kecil yang terlambat kita tanggapi? Ada beberapa langkah yang bisa diambil.

Pertama, pilih beberapa rumah sakit besar sebagai pos pantau. Di kota-kota dengan bukti hantavirus kuat seperti Jakarta, Semarang, Denpasar, Makassar, Maumere, dan Bogor, pasien demam dengan gangguan ginjal atau paru yang hasil uji dengue dan leptospirosisnya negatif bisa ditawarkan pemeriksaan hantavirus, minimal dengan tes antibodi. Dari sini, kita akan mendapat gambaran lebih jernih tanpa harus memeriksa semua orang.

Kedua, angkat data tentang tikus ke meja kesehatan. Dinas kesehatan, lingkungan hidup, dan kebersihan sebenarnya sudah memiliki potongan data: jumlah tikus yang tertangkap, hasil pemeriksaan hantavirus dan Leptospira di tikus, serta titik-titik sampah yang menumpuk. Satukan dan baca bersama data pasien demam dari puskesmas dan rumah sakit.

Ketiga, bekali dokter dan petugas pelacak kasus dengan alat bantu yang praktis. Misalnya, kartu saku tentang kapan harus curiga hantavirus: demam, trombosit rendah, ada gangguan ginjal atau paru, tes dengue dan leptospirosis negatif, dan ada cerita jelas soal tikus di rumah, di tempat kerja, atau di lingkungan pasien. Jika pola ini muncul di daerah dengan banyak tikus, kirim sampel darah ke laboratorium yang bisa memeriksa hantavirus.

Keempat, buat komunikasi risiko ke warga lebih konkret. Bukan hanya "jaga kebersihan", tetapi langkah spesifik: simpan makanan agar tak dijangkau tikus, tutup lubang di dapur dan gudang, kelola sampah rumah tangga, dan jangan menyapu kotoran tikus kering. Membasahi lantai dan memakai disinfektan sebelum dibersihkan adalah langkah kecil yang menyelamatkan nyawa karena mencegah virus terhirup sebagai aerosol.

Ujian Kejujuran Membaca Data

Ini semua tidak akan mengubah hantavirus menjadi epidemi besok pagi. Tujuannya justru memastikan: kalau suatu saat hantavirus mulai "mengangkat suara", kita tidak lagi tuli. Selama ini, hantavirus hidup di persimpangan antara pengetahuan dan kebijakan. Di meja peneliti, ia tampak jelas: angka, peta, dan sekuens virus. Di meja pengambil keputusan, namanya nyaris tak terdengar.

Indonesia sudah membayar mahal untuk belajar bahwa menunggu kurva kasus naik sebelum bertindak adalah strategi yang buruk. Kali ini, kita punya keuntungan: data hantavirus sudah ada, bahkan lebih dari tiga dekade. Pertanyaannya, apakah kita berani melihatnya dengan jujur?

Membangun sistem yang tangguh bukan soal menebak virus baru apa yang akan muncul, tetapi soal kejujuran membaca data yang sudah ada dan menutup celah yang jelas di depan mata. Hantavirus adalah salah satu ujiannya.

Kamaluddin Latief. Epidemiolog Senior, Pengamat Global Health Security, Wasekjen Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar