BPBD Jawa Barat Imbau Waspada Kekeringan dan Karhutla, 49 Juta Jiwa Terancam Dampak Kemarau

- Senin, 11 Mei 2026 | 10:00 WIB
BPBD Jawa Barat Imbau Waspada Kekeringan dan Karhutla, 49 Juta Jiwa Terancam Dampak Kemarau

PARADAPOS.COM - Ancaman kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) di Jawa Barat kini berada pada level tinggi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diprediksi membawa dampak luas. Potensi penduduk yang terdampak diperkirakan mencapai lebih dari 49 juta jiwa, dengan kerugian ekonomi mencapai sekitar Rp89,37 triliun.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, menyampaikan kekhawatirannya atas skala dampak yang mungkin terjadi. Angka kerugian ekonomi tersebut, menurutnya, merupakan hasil perhitungan yang mempertimbangkan berbagai sektor yang bergantung pada ketersediaan air.

“Potensi penduduk terdampak kekeringan di Jawa Barat diperkirakan mencapai lebih dari 49 juta jiwa. Potensi kerugian ekonomi akibat kemarau dan kekeringan diperhitungkan mencapai sekitar Rp89,37 triliun,” ungkap Teten, dikutip Media Indonesia, Senin, 11 Mei 2026.

Langkah Antisipasi dan Koordinasi Lintas Sektor

Menghadapi situasi ini, BPBD Jawa Barat telah menggelar rapat koordinasi pada akhir pekan lalu. Pertemuan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber ahli, termasuk Kepala Pusat Air Tanah Badan Geologi, Agus Cahyono Adi, dan Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rakhmat Prasetya. Dalam forum itu, ditekankan pentingnya kesiapsiagaan di tingkat daerah serta penguatan koordinasi lintas sektor.

Teten menambahkan, rapat koordinasi ini juga menjadi wadah untuk membahas langkah mitigasi dan penanganan darurat yang cepat, terarah, terpadu, dan terkoordinasi. Ia menegaskan bahwa respons terhadap bencana tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan semua pemangku kepentingan.

Prakiraan Musim Kemarau dan Fenomena El Nino

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rakhmat Prasetya, memaparkan prakiraan musim kemarau tahun 2026 serta potensi fenomena El Nino. Menurutnya, penurunan curah hujan diperkirakan akan terjadi pada periode Juni hingga Agustus. Kondisi ini tentu memperkuat urgensi kesiapsiagaan sejak dini.

Di sisi lain, pakar lingkungan dari Badan Geologi, Idham Effendi, menyoroti kondisi ketersediaan air tanah di Jawa Barat. Ia menekankan bahwa mitigasi harus dilakukan secara konkret dan terukur.

“Untuk menghadapi kemarau, ada beberapa langkah mitigasi yang dapat dilakukan, di antaranya pembangunan sarana penampungan air, konservasi sumber daya air, optimalisasi sumur pantau, serta penguatan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Jawa Barat,” tandas Idham.

Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meminimalkan risiko, terutama bagi wilayah-wilayah yang selama ini rentan terhadap krisis air bersih dan kebakaran lahan. Dengan koordinasi yang solid dan kesiapsiagaan masyarakat, dampak musim kemarau diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar