Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 Tetapkan Tiga Kandidat Polisi Pelindung Perempuan dan Anak

- Senin, 11 Mei 2026 | 03:50 WIB
Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 Tetapkan Tiga Kandidat Polisi Pelindung Perempuan dan Anak
PARADAPOS.COM - Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 telah menetapkan tiga kandidat untuk kategori Polisi Pelindung Perempuan, Anak, dan Kelompok Rentan. Keputusan ini diambil dalam rapat yang berlangsung di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Rabu (6/5/2026). Ketiga polisi tersebut dinilai memiliki dedikasi tinggi dalam mengungkap kasus dan memberikan perlindungan terbaik bagi kelompok rentan. Mereka adalah AKP Siti Elminawati, Ipda Kadek Sumerta, dan AKBP Ema Rahmawati.

Proses Seleksi yang Ketat

Rapat Dewan Pakar berlangsung dinamis dan penuh diskusi mendalam. Para anggota dewan berdebat secara ketat untuk memilih tiga nama terbaik dari sejumlah kandidat. Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 terdiri dari Ketua Komisi III DPR, Dr. Habiburokhman, S.H., M.H.; Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Qotrunnada Wahid, M.Psi; Wakil Ketua Komnas HAM, Putu Elvina, S.Psi., MM; Mantan Plt Pimpinan KPK, Dr. Mas Achmad Santosa, S.H., LL.M.; serta anggota Kompolnas, Gufron Mabruri. Saat ini, uji publik untuk Hoegeng Awards 2026 telah resmi dibuka. Masyarakat dapat memberikan masukan mengenai ketiga kandidat tersebut. Redaksi menjamin kerahasiaan identitas setiap pengirim informasi. Masukan dapat dikirimkan melalui email ke [email protected] dengan subjek "Hoegeng Awards 2026" dan menyertakan dokumen atau data pendukung. Jangan lupa mencantumkan nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Panitia dan Dewan Pakar menegaskan tidak menerima segala bentuk penggalangan dukungan dalam proses uji publik ini.

Profil Tiga Kandidat

Berikut ini profil singkat ketiga kandidat Polisi Pelindung Perempuan, Anak dan Kelompok Rentan Hoegeng Awards 2026. Perlu dicatat, urutan dan nomor di bawah ini bukan berdasarkan pemeringkatan.

1. AKP Siti Elminawati

AKP Siti Elminawati, yang kini menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Sigi, Polda Sulawesi Tengah, telah berkecimpung di bidang perlindungan perempuan dan anak sejak awal tahun 2000-an. Selama menjadi penyidik, ia telah mengungkap sejumlah kasus besar. Salah satu yang paling menyita perhatian publik adalah kasus pemerkosaan remaja perempuan oleh 11 orang, di mana para pelakunya termasuk kepala desa dan oknum anggota brimob. Direktur Eksekutif Libu Perempuan Sulteng, Dewi Rana, memberikan penilaian tinggi terhadap AKP Siti. Menurutnya, perwira polisi ini memiliki dedikasi yang tinggi, profesional, dan selalu berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan saat menangani kasus. "Dalam setiap pelaksanaan tugas, beliau senantiasa menempatkan perlindungan terhadap perempuan dan anak sebagai prioritas utama, khususnya bagi korban kekerasan baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat. AKP Siti Elminawati juga dikenal sebagai sosok yang humanis, responsif, dan konsisten dalam memberikan pendampingan kepada korban, sehingga kehadirannya mampu menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Kepolisian," ujar Dewi Rana. Selain kasus pemerkosaan, AKP Siti juga menangani kasus orang tua yang menjual bayi kandungnya seharga Rp 12,5 juta. Ia juga mengungkap kasus bayi yang dibuang di Hutan Kota Palu serta kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) anak asal Sulteng di Seram Bagian Timur (SBT), Maluku. Rekam jejak yang panjang ini mengantarkan Siti sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai Kasat Reskrim di Polres jajaran Polda Sulteng. Sebelumnya, ia juga pernah menjabat sebagai Kapolsek Mantikulore, Polres Palu. "Anak ini adalah generasi muda yang nanti menjadi agen perubahan. Perempuan (akan jadi) ibu dari anak-anak, (sehingga) harus smart menghasilkan generasi yang unggul," tutur Siti saat berbincang dengan detikcom.

2. Ipda Kadek Sumerta

Ipda Kadek Sumerta, yang kini menjabat sebagai Panit Reskrim Polsek Blahbatuh, Gianyar, Bali, aktif membina Yayasan Bhakti Senang Hati. Yayasan ini menaungi lebih dari 100 penyandang disabilitas. Program pembinaan ini berawal dari kunjungannya sebagai Bhabinkamtibmas di wilayah setempat sejak tahun 2017. Saat itu, ia mengajarkan para penyandang disabilitas untuk baca tulis hingga memberikan pembinaan agar mereka bisa mandiri. Kehadiran Ipda Sumerta sangat dirasakan oleh warga setempat. Pendiri Yayasan Bhakti Senang Hati, Putu Suryati, menceritakan pengalamannya. "Setelah kenal sama Pak Sumerta, beliaunya sering juga berkunjung ke yayasan kami dan cara beliau membimbing, mengajar anak-anak di sana, akhirnya kami akrab kayak gimana itu, kami disayangi. Jadinya anak-anak itu hormat sama beliau gitu," ungkap Putu Suryati. Saat ini, ada 130 anak yang dibina di yayasan tersebut. Sebanyak 20 di antaranya tinggal di yayasan, sementara sisanya tinggal di rumah masing-masing. Ipda Sumerta mengajarkan anak-anak tentang baca tulis dan bahasa Inggris, serta mendorong mereka untuk mandiri. Yayasan ini didirikan oleh Putu Suryati pada sekitar tahun 2015 dan tidak memiliki donatur tetap untuk biaya operasional sehari-hari. "Mereka cari sendiri dengan menjual lukisan karena ada beberapa warga yang bisa melukis, menjual kerajinan, terus bantuan-bantuan dari relawan, bantuan dari masyarakat, bantuan dari instansi," imbuh Sumerta. Ipda Sumerta mengaku bahwa keputusannya untuk membina yayasan ini berangkat dari rasa keprihatinan. Menurutnya, para penyandang disabilitas di sana kerap seolah diabaikan. Dari situlah ia merasa perlu berbuat sesuatu agar keberadaannya di tempat bertugas memberikan manfaat nyata.

3. AKBP Ema Rahmawati

AKBP Ema Rahmawati saat ini menjabat sebagai Kasubbag Binops Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pidana Perdagangan Orang (PPO) Bareskrim Polri. Ia dikenal memiliki komitmen tinggi dalam memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak. Polwan ini melakukan pendekatan jemput bola dalam menangani permasalahan terkait PPA dan berperan penting dalam pembentukan Direktorat PPA-PPO di sejumlah Polda. Komitmennya yang kuat membuat AKBP Ema menjadi sosok yang komunikatif dengan masyarakat yang terkait kasus PPA. Hal ini membuat masyarakat merasa nyaman karena keberpihakan AKBP Ema kepada kelompok rentan. "Sama Bu Ema itu kayak merasa nyaman ketika dalam proses penanganan kasus dan saya kira Bu Ema orang yang sudah punya komitmen lama di penanganan kasus perempuan dan anak, di mana beliau juga sudah menangani berbagai macam kasus dengan segala tantangan hambatan, dan beliau bisa menyelesaikannya dalam upaya pemenuhan hak perempuan dan anak korban kekerasan," jelas Siti Mazuma, lawyer dari Women Crisis Center Perempuan Nusantara. AKBP Ema mengaku mulai berkecimpung di bidang PPA Bareskrim Polri sejak tahun 2010, namun mulai fokus pada 2016. Ia menjadi Polwan yang sangat paham tentang perkembangan unit PPA di Bareskrim. "Saya juga merintis terbentuknya Direktorat PPA di Mabes Polri maupun di polres, sekarang ada 11 Polda dan 22 Satres PPA-PPO yang ada di Polres. Jadi, saya tahu banget perjalanan, perkembangan dari unit PPA ini yang dulunya memang unit, kemudian beberapa kali dialihkan berbeda subit. Kemudian sampai dengan terbentuknya Direktorat PPA di Bareskrim dan Ditres PPA-PPO di 11 Polda dan Satres PPA-PPO di 22 Polres," ungkap AKBP Ema.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar