PARADAPOS.COM - Iran telah menyusun mekanisme pengaturan lalu lintas maritim melalui rute khusus di Selat Hormuz dan berencana mengenakan biaya atas layanan khusus yang diberikan dalam sistem tersebut. Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyatakan bahwa skema baru ini akan segera diumumkan. Langkah ini muncul di tengah ketegangan yang masih membara pasca-serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu, yang memicu penutupan selat strategis tersebut dan berujung pada blokade laut Amerika Serikat sejak pertengahan April.
Rute Khusus Hanya untuk Kapal yang Kooperatif
Dalam pernyataannya di platform media sosial X, Azizi menegaskan bahwa sistem baru ini tidak akan berlaku untuk semua kapal. “Dalam proses ini, hanya kapal komersial dan pihak-pihak yang bekerja sama dengan Iran yang akan mendapatkan manfaat darinya,” tulisnya.
Azizi juga menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup bagi pihak-pihak yang mengoperasikan "Project Freedom". Inisiatif dari Amerika Serikat ini dirancang untuk memandu kapal-kapal yang terjebak dan tidak bisa melintasi Selat Hormuz akibat perang antara Iran dengan AS dan Israel.
Latar Belakang Konflik dan Blokade
Ketegangan di kawasan Teluk mencapai puncaknya ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu segera memicu aksi balasan dari Teheran, yang tidak hanya menyasar Israel tetapi juga sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk. Sebagai bagian dari respons tersebut, Iran menutup Selat Hormuz—salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.
Gencatan senjata baru tercapai pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan lanjutan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen. Situasi semakin rumit ketika AS memberlakukan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di selat tersebut, mulai 13 April.
Proyek Freedom dan Penangguhannya
Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan "Project Freedom" pada awal Mei. Dalam pengumumannya, Trump berjanji akan mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Janji ini dibuat meskipun Iran dengan tegas menyatakan bahwa setiap pelayaran melalui jalur perairan strategis itu memerlukan persetujuan sebelumnya dari Teheran.
Namun, situasi berubah cepat. Trump kemudian mengumumkan penangguhan inisiatif tersebut, meninggalkan tanda tanya besar mengenai efektivitas dan kelanjutan proyek pengawalan kapal di tengah sengketa yang belum terselesaikan.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Sersan Todongkan Senjata ke Benny Moerdani saat Gagalkan Penculikan Nasution, Berujung Persahabatan Seumur Hidup
China dan AS Sepakati Pembelian Pesawat Boeing, Mesin, dan Komponen Penerbangan
PSK di Bandar Lampung Ditikam Tamu Usai Tagih Uang Kencan
Jeratan Tali Rafia di Leher Siswi MI Kubu Raya Berawal dari Penolakan Tukar Kursi, Tiga Pelaku Dikeluarkan dari Sekolah