PPIH Matangkan Skema Murur untuk Lansia dan Jemaah Risiko Tinggi saat Puncak Haji di Armuzna

- Minggu, 17 Mei 2026 | 18:50 WIB
PPIH Matangkan Skema Murur untuk Lansia dan Jemaah Risiko Tinggi saat Puncak Haji di Armuzna
PARADAPOS.COM - Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tengah mematangkan skema murur bagi calon jemaah haji Indonesia, khususnya untuk fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Skema ini dirancang untuk jemaah lanjut usia, berisiko tinggi (risti), dan pendampingnya agar tidak perlu turun dan bermalam di Muzdalifah. Keputusan ini diambil untuk mengurangi kepadatan di lokasi tersebut sekaligus menjaga kondisi kesehatan jemaah yang rentan. Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj sekaligus Wakil Penanggung Jawab II PPIH Arab Saudi, Puji Raharjo, mengungkapkan bahwa persiapan teknis terus dimatangkan menjelang puncak ibadah.

Skema Murur: Solusi untuk Jemaah Rentan

Puji Raharjo menjelaskan bahwa kebijakan ini lahir dari keterbatasan ruang di Muzdalifah. "Karena keterbatasan space di Muzdalifah, nanti sebagian jemaah kita yang risiko tinggi, lansia, punya komorbid dan pendampingnya akan langsung kita bawa ke Mina," katanya pada Minggu, 17 Mei 2026. Calon jemaah yang masuk kategori murur akan langsung melanjutkan perjalanan dari Arafah menuju Mina menggunakan bus setelah menjalani wukuf. Dengan skema ini, mereka tidak perlu turun di Muzdalifah atau menunggu hingga tengah malam sebelum diberangkatkan kembali. "Ini yang mereka tidak harus turun di Muzdalifah dan tidak harus menunggu tengah malam untuk melewati Muzdalifah," ujarnya. Sementara itu, jemaah yang dalam kondisi sehat tetap akan menjalani mabit di Muzdalifah sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina setelah lewat tengah malam. Perbedaan perlakuan ini diharapkan dapat mengurai kepadatan dan meminimalkan risiko kesehatan.

Koordinasi Teknis dan SOP

PPIH Arab Saudi bersama Satuan Operasi Armuzna masih menyelesaikan pembahasan teknis terkait pelaksanaan murur dan tanazul. Pembahasan ini mencakup pembagian jemaah serta penyusunan standar operasional prosedur (SOP). Koordinasi juga terus dilakukan dengan ketua kloter, pembimbing ibadah, tenaga kesehatan, hingga Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). "Kita berharap semua jemaah bisa mengikuti puncak ibadah haji secara normal, sehat, dan tanpa terkendala hal-hal yang menghambat ibadah," ucap Puji.

Disiplin Jemaah dan Penempatan Petugas

Menurut Puji, disiplin calon jemaah dalam mengikuti arahan petugas menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan Armuzna tahun ini. Ia tidak ingin persoalan yang pernah terjadi pada musim haji sebelumnya kembali terulang. "Kita tidak ingin ada lagi jemaah yang kesiangan keluar dari Muzdalifah atau sampai harus berjalan kaki karena kepadatan," ujarnya. Selain skema murur, PPIH juga menyiapkan penempatan petugas lebih awal di Arafah dan Mina. Beberapa petugas bahkan akan disiagakan khusus di Mina sebelum puncak haji dimulai. "Ada petugas yang memang kita dedikasikan khusus di Mina supaya jamaah tidak tersesat dan bisa terlayani dengan baik," kata Puji. Sebagian petugas yang ditempatkan di Mina merupakan personel berpengalaman yang telah beberapa kali mengikuti penyelenggaraan haji. Di sisi lain, layanan safari wukuf bagi calon jemaah lansia dan penyandang disabilitas juga tetap disiapkan dengan kuota sekitar 300 hingga 400 orang. Jumlah peserta safari wukuf tahun ini telah melalui pemeriksaan kesehatan dan pemantauan kondisi yang lebih ketat sejak dari Indonesia hingga di Arab Saudi.

Pesan untuk Jemaah: Jaga Stamina

Menjelang puncak ibadah haji, Puji mengingatkan calon jemaah agar menjaga stamina dan tidak memaksakan diri melakukan aktivitas berat sebelum wukuf di Arafah. "Haji itu puncaknya di Arafah. Jangan sampai tenaganya habis sebelum waktunya," ujarnya.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar