Iran Latih dan Persenjatai Warga Sipil Antisipasi Kemungkinan Invasi AS

- Minggu, 17 Mei 2026 | 22:00 WIB
Iran Latih dan Persenjatai Warga Sipil Antisipasi Kemungkinan Invasi AS
PARADAPOS.COM - Pemerintah Iran mulai mempersenjatai dan melatih warga sipil sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan invasi darat dari Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Televisi pemerintah Iran pada Jumat (15/5/2026) menayangkan program-program bernuansa militer yang mengajak masyarakat bersiap menghadapi perang. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pertahanan nasional Iran untuk menghadapi potensi eskalasi konflik dengan AS dan sekutunya.

Pelatihan Senjata dan Mobilisasi Massal

Saluran televisi pemerintah Ofogh menampilkan seorang komandan bertopeng dari Korps Garda Revolusi Islam yang memberikan pelatihan penggunaan senapan serbu AK-47 kepada masyarakat. Dalam siaran tersebut, warga juga diajak mendatangi stan-stan pelatihan senjata yang dibuka saat demonstrasi pro-pemerintah. Suasana di lapangan terlihat semakin intens ketika segmen itu diakhiri dengan aksi pembawa acara menembakkan senapan ke udara sebelum mengarahkan tembakan ke bendera Uni Emirat Arab, di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara Teluk tersebut. Di saluran lain, presenter televisi Mobina Nasiri tampil memegang senapan serbu sambil menyatakan kesiapannya. “Aku siap mengorbankan nyawaku demi Iran,” ujar Nasiri dalam siaran tersebut.

Pengamanan Kota dan Pos Pemeriksaan

Selain pelatihan senjata, kota-kota besar Iran kini dipenuhi kendaraan lapis baja dan pos pemeriksaan yang dijaga pria bersenjata bertopeng. Pemandangan ini menjadi pemandangan umum di jalan-jalan utama, menandakan kesiapsiagaan yang meningkat di tingkat akar rumput. Mobilisasi sipil ini disebut menjadi bagian dari strategi pertahanan nasional Iran untuk menghadapi kemungkinan eskalasi perang dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Langkah tersebut dilakukan setelah pemerintah Iran terus memperingatkan bahwa konflik dapat kembali pecah sewaktu-waktu jika negosiasi dengan Washington gagal.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar