Survei Bankrate: Tiga dari Empat Warga AS Menyesal dengan Pengelolaan Keuangan, Tabungan Jadi Masalah Utama

- Minggu, 17 Mei 2026 | 21:51 WIB
Survei Bankrate: Tiga dari Empat Warga AS Menyesal dengan Pengelolaan Keuangan, Tabungan Jadi Masalah Utama

PARADAPOS.COM - Sebuah survei terbaru dari Bankrate mengungkapkan bahwa mayoritas warga Amerika Serikat menyesali pengelolaan keuangan mereka, dengan masalah kurangnya tabungan menjadi keluhan utama. Riset yang melibatkan 2.078 responden ini menunjukkan bahwa 3 dari 4 orang Amerika memiliki penyesalan finansial, dan sekitar 40 persen di antaranya menyebut masalah tabungan sebagai sumber utama kekhawatiran mereka. Fenomena ini tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga memiliki kemiripan dengan kondisi di Indonesia, di mana data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hanya 76,3 persen penduduk yang memiliki rekening bank formal.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, banyak orang baru tersadar pentingnya menabung ketika kondisi keuangan mulai terasa berat. Fenomena ini ternyata menjadi cermin bagi masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Serikat. Hasil survei Bankrate yang dirilis pada Minggu (16/5/2026) menggambarkan potret suram: penyesalan finansial menghantui hampir seluruh lapisan masyarakat Negeri Paman Sam.

Penyesalan Terbesar: Tabungan yang Tak Kunjung Terkumpul

Data survei menunjukkan bahwa penyesalan terbesar warga AS adalah tidak memiliki tabungan yang cukup, baik untuk dana darurat, pensiun, maupun biaya pendidikan anak. Sekitar 20 persen responden lainnya menyesal karena terlalu banyak mengambil utang, terutama dari kartu kredit dan pinjaman pendidikan.

"Penyesalan soal tidak menabung cukup untuk pensiun muncul setiap tahun, dan jumlahnya makin besar seiring usia," ujar analis finansial Bankrate, Stephen Kates, saat dikutip dari laporan internasional.

Yang lebih memprihatinkan, 43 persen responden mengaku belum melakukan langkah perbaikan apa pun atas penyesalan finansial mereka selama setahun terakhir. Ketika ditanya apa yang paling bisa membantu kondisi keuangan mereka, jawaban yang muncul cukup beragam: kebutuhan pokok yang lebih murah, peluang kerja yang lebih baik, tarif sewa yang lebih rendah, hingga pasar saham yang kembali pulih.

Potret Serupa di Indonesia

Kondisi serupa ternyata juga terjadi di Tanah Air. Data OJK menunjukkan bahwa dari total penduduk Indonesia, baru 76,3 persen yang memiliki rekening bank di lembaga keuangan formal. Sementara itu, data terakhir OJK mencatat sekitar 29 juta pekerja tercatat sebagai peserta dana pensiun, padahal jumlah angkatan kerja berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2025 mencapai 154 juta orang.

Angka ini menunjukkan kesenjangan yang cukup besar antara jumlah pekerja aktif dan mereka yang telah mempersiapkan dana pensiun. Para pakar keuangan pun angkat bicara, memberikan strategi yang relevan tidak hanya bagi warga AS, tetapi juga masyarakat Indonesia.

Strategi Mengatasi Penyesalan Finansial

Bagi Anda yang saat ini belum memiliki tabungan memadai untuk dana darurat dan pensiun, tiga pakar keuangan memberikan saran praktis. "Terlambat memulai lebih baik dibandingkan dengan tidak pernah memulai," kata Jake Martin, salah satu pakar yang dihubungi.

1. Bereskan 'Kebakaran Finansial' Terlebih Dahulu

Langkah pertama yang paling krusial adalah melunasi utang berbunga tinggi, seperti kartu kredit atau pinjaman online. Bunga yang menumpuk dapat menghabiskan ruang tabungan Anda. Cara lain untuk menambah ruang tabungan adalah dengan memotong pengeluaran tetap, sebuah strategi yang disebut oleh Ashton Lawrence sebagai mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan.

"Kenali di mana uang untuk hal-hal tidak wajib bocor, apakah untuk makan di luar, terlalu banyak layanan streaming, langganan aplikasi yang sudah lupa, layanan pesan-antar, belanja impulsif, atau gaya hidup yang semakin mahal. Setiap uang yang tidak kamu keluarkan adalah uang yang bisa kamu alokasikan untuk hal yang lebih berguna," jelas Lawrence.

2. Siapkan Dana Darurat untuk Hidup 3-6 Bulan

Dana darurat berfungsi sebagai jaring pengaman yang mencegah Anda kembali berutang ketika terjadi hal tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau biaya kesehatan mendadak. Para ahli menyarankan untuk mempersiapkan dana darurat dengan perhitungan biaya hidup selama 3 hingga 6 bulan. Keberadaan dana ini sangat krusial untuk mengurangi ketergantungan terhadap utang berbunga tinggi saat situasi darurat melanda.

3. Tingkatkan Tabungan Pensiun

Setelah dua langkah di atas berhasil dikendalikan, barulah Anda bisa fokus menyiapkan dana pensiun untuk hari tua. Martin menekankan pentingnya meningkatkan porsi tabungan secara signifikan bagi mereka yang terlambat memulai.

"Sementara sebagian besar orang menargetkan menabung 5% hingga 10% dari penghasilan mereka, seseorang yang sedang berusaha mengejar ketertinggalan sebaiknya mencari cara untuk meningkatkan porsi tabungannya menjadi 20% hingga 30%, terutama jika mulai menabung serius di usia 40-an," tutur Martin.

Dalam kondisi tertentu, Anda mungkin juga perlu mempertimbangkan untuk menunda usia pensiun jika membutuhkan lebih banyak waktu untuk menabung. "Jumlah pasti yang perlu Anda tabung akan berbeda-beda tergantung sejumlah faktor, termasuk usia Anda dan gaya hidup yang Anda inginkan saat pensiun," pungkasnya.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar