PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menginstruksikan tim negosiatornya untuk tidak terburu-buru dalam mencapai kesepakatan dengan Iran, meskipun sebelumnya ia menyatakan bahwa perjanjian bilateral tersebut hampir rampung. Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa negosiasi tengah membahas gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta rencana perundingan lanjutan mengenai program nuklir Teheran. Sikap hati-hati dari Gedung Putih ini sekaligus mencerminkan dinamika rumit di medan perundingan yang melibatkan kepentingan keamanan regional dan tekanan politik domestik.
Pembicaraan Konstruktif, Namun Butuh Waktu
Dalam unggahan di media sosial, Trump menyebut pembicaraan berlangsung “konstruktif,” namun kedua pihak harus meluangkan waktu agar hasilnya tepat. Pernyataan ini kontras dengan optimisme yang ia sampaikan sehari sebelumnya, saat ia mengatakan bahwa kesepakatan “sebagian besar telah dinegosiasikan.” Spekulasi mengenai pengumuman resmi yang akan segera dilakukan pun sempat mengemuka.
Di sisi lain, pejabat Iran juga memberi sinyal adanya kemajuan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menggambarkan posisi kedua negara dengan metafora yang mencolok. “Kami sangat dekat sekaligus sangat jauh dari tercapainya kesepakatan,” ujarnya.
Media AS melaporkan bahwa kesepakatan yang tengah dibahas bukanlah penyelesaian final. Sejumlah isu sensitif masih akan dinegosiasikan lebih lanjut, termasuk tuntutan Iran terkait pencabutan sanksi, pembebasan dana Iran yang dibekukan, serta desakan Washington agar Teheran membatasi ambisi nuklirnya.
Partai Republik Terbelah soal Langkah Trump
Rencana kesepakatan itu memicu perpecahan di internal Partai Republik. Senator Ted Cruz menyebut kesepakatan tersebut akan menjadi “kesalahan besar yang menghancurkan.” Sikap keras juga datang dari Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, Roger Wicker, yang menilai gencatan senjata 60 hari akan membuat seluruh hasil “Operation Epic Fury” menjadi sia-sia.
Namun, tidak semua suara dari kubu Republik bernada kritis. Anggota Komite Urusan Luar Negeri DPR AS, Mike Lawler, justru menilai pemerintahan Trump berhasil memaksa Iran masuk ke dalam “negosiasi sungguhan.” Perbedaan pandangan ini menunjukkan betapa isu Iran telah menjadi garis patah di dalam partai yang tengah berkuasa.
Ketegangan ini tidak bisa dilepaskan dari rangkaian peristiwa sebelumnya. Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu konflik terbuka di Timur Tengah. Iran membalas dengan menyerang Israel dan negara-negara Teluk sekutu AS, serta secara efektif menutup Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Setelah gencatan senjata dicapai pada awal April, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Trump menegaskan bahwa blokade itu akan tetap berlaku penuh sampai kesepakatan dicapai dan ditandatangani.
Isu Nuklir dan Sinyal dari Teheran
Dalam unggahannya pada Minggu, Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengembangkan senjata nuklir. Teheran berulang kali mengatakan program nuklirnya hanya bertujuan damai. Sejumlah laporan media AS menyebut kesepakatan itu dapat mencakup penyerahan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran.
Saat ini, Iran diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen—hanya selangkah lagi menuju tingkat 90 persen yang dapat digunakan untuk membuat bom nuklir. Di tengah tekanan ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan negaranya. “Kami siap meyakinkan dunia bahwa kami tidak mengejar senjata nuklir,” tuturnya.
Kemajuan Signifikan dan Harapan dari Mediator
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya mengatakan kemajuan yang dicapai dalam negosiasi bersifat “signifikan” meski belum final. Ia juga mengisyaratkan bahwa perkembangan dalam 48 jam terakhir dapat membuka kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya.
Sementara itu, Baghaei pada Sabtu mengungkapkan bahwa Iran tengah menyelesaikan “memorandum of understanding” yang akan membuka jalan bagi pembicaraan tambahan menuju kesepakatan final. Trump pun menyebut kesepakatan itu sebagai “memorandum of understanding” dalam unggahan di Truth Social.
Harapan juga datang dari pihak mediator. Wakil Perdana Menteri Pakistan Ishaq Dar, yang menjadi penengah perundingan, mengatakan perkembangan terbaru memberi “alasan untuk optimistis” bahwa hasil positif sudah berada dalam jangkauan.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pendaki Tewas Tersambar Petir di Puncak Gunung Monrolo, Empat Rekannya Selamat
Polisi Tangkap Sopir yang Diduga Memerkosa Pembantu Rumah Tangga di Kelapa Gading
Polri Pastikan Blackout Sumatera Akibat Faktor Teknis dan Cuaca Ekstrem, Bukan Sabotase
Polri Temukan Kabel Transmisi Putus Diduga Akibat Cuaca Buruk di Balik Blackout Sumatra