PARADAPOS.COM - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, memberikan pernyataan tegas terkait Selat Hormuz menyusul gelombang serangan baru Amerika Serikat terhadap Iran. Dalam unggahan di platform X pada Kamis, Qalibaf menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka sesuai aturan Iran, bukan karena tekanan atau ancaman dari AS. Pernyataan ini muncul setelah media Iran melaporkan serangan AS pada Rabu malam (8/7) yang menyasar sejumlah lokasi di wilayah selatan dan tenggara Iran, yang kemudian dikonfirmasi oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) sebagai operasi lanjutan untuk melemahkan kemampuan Iran mengancam kebebasan pelayaran di selat strategis tersebut.
Peringatan Keras dari Teheran
Dalam cuitannya, Qalibaf menyoroti bahwa Amerika Serikat belum sepenuhnya menyadari perubahan dinamika hubungan bilateral. Menurutnya, tindakan intimidasi dan pengingkaran janji tidak lagi bisa dilakukan tanpa konsekuensi yang jelas.
“Amerika Serikat belum belajar bahwa tindakan mengintimidasi dan mengingkari janji tidak lagi bisa dilakukan tanpa konsekuensi. Izinkan saya menegaskan: Jika Anda menyerang, Anda juga akan diserang,” kata Qalibaf.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Iran tidak akan tinggal diam terhadap setiap agresi militer yang menyasar wilayahnya. Qalibaf menekankan bahwa kedaulatan Iran atas Selat Hormuz bersifat mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar oleh kekuatan asing mana pun.
Serangan AS dan Respons Militer
Gelombang serangan terbaru yang dilancarkan AS pada Rabu malam disebut menargetkan infrastruktur di wilayah selatan dan tenggara Iran. CENTCOM mengonfirmasi bahwa operasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membatasi kemampuan Iran dalam mengganggu jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu titik paling vital dalam rantai pasokan energi global. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap harinya. Ketegangan di kawasan ini selalu memicu kekhawatiran akan lonjakan harga energi dan gangguan ekonomi global.
Implikasi bagi Stabilitas Regional
Pernyataan Qalibaf tidak hanya ditujukan kepada Washington, tetapi juga menjadi pesan bagi negara-negara tetangga dan komunitas internasional. Dengan nada yang tidak memberi ruang kompromi, Teheran ingin menunjukkan bahwa setiap tekanan eksternal justru akan memperkuat posisi mereka dalam mengelola jalur perairan tersebut.
Di tengah situasi yang memanas, beberapa negara seperti Oman dan Arab Saudi dilaporkan terus menjalin komunikasi untuk membahas keamanan maritim di kawasan. Sementara itu, kapal-kapal niaga seperti Pertamina Pride dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz tanpa insiden berarti, menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran masih berlangsung meskipun di bawah bayang-bayang konflik.
Ketegangan antara Iran dan AS di Selat Hormuz bukanlah hal baru, namun eskalasi terbaru ini menunjukkan bahwa kedua pihak masih berada dalam jalur konfrontasi. Belum ada tanda-tanda de-eskalasi dalam waktu dekat, dan pernyataan Qalibaf seolah menutup pintu bagi negosiasi di bawah tekanan militer.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pabrik Baterai Lithium Semcorp di Hungaria Dihentikan Operasinya Akibat Pencemaran Air Tanah Ekstrem
Menteri ESDM Resmi Luncurkan B50, Hemat Devisa Rp170 Triliun dan Serap 2,1 Juta Tenaga Kerja
Perwira Polri di Nduga Ubah Stigma Warga Lewat Pendekatan Humanis, Redam Konflik Tanpa Kekerasan
Wali Kota Medan Dorong Digitalisasi Pajak Restoran Lewat Sistem QRESTO untuk Cegah Kebocoran PAD