PARADAPOS.COM - Presiden ke-7 RI Joko Widodo dikabarkan akan kembali gencar melakukan kunjungan ke berbagai daerah. Langkah ini, menurut pengamat politik, tidak semata-mata untuk mempromosikan putranya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ada motif yang lebih dalam: menjaga keselamatan politik dirinya dan keluarga di tengah ketidakpastian Pemilu 2029.
Misi “Cari Selamat” di Tengah Ketidakpastian Politik
Pengamat politik Hendri Satrio, yang akrab disapa Hensa, memberikan perspektif yang menarik. Menurutnya, apa yang dilakukan Jokowi saat ini adalah sebuah strategi bertahan.
“Jadi Jokowi itu turun gunung, bukan semata-mata mempromosikan Gibran, PSI atau Kaesang. Tapi dia sedang dalam misi mencari selamat, misi keselamatan untuk siapa? Untuk dirinya dan keluarganya,” ujar Hensa, Rabu, 3 Juni 2026.
Pernyataan ini muncul dari analisisnya terhadap peta politik nasional yang dinamis. Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu menjelaskan bahwa faktor utama di balik langkah Jokowi adalah ketidakpastian politik pada Pemilu 2029. Ia menilai mantan Walikota Solo itu harus mengantisipasi berbagai kemungkinan, terutama jika kepemimpinan nasional ke depan tidak sejalan dengan dirinya.
Antisipasi Skenario Terburuk di 2029
Hensa kemudian merinci skenario yang mungkin diantisipasi oleh Jokowi. Situasi politik bisa berubah drastis dalam beberapa tahun ke depan.
“Dia harus jaga-jaga kalau 2029 Presidennya bukan Prabowo dan anaknya tidak berhasil menjadi Wakil Presiden Prabowo atau anaknya tidak berhasil menjadi Presiden, maka keselamatan dia dan keluarganya bisa terancam,” kata dia.
Lebih lanjut, Hensa menyoroti potensi tekanan politik yang bisa muncul. Tidak ada jaminan bahwa Presiden Prabowo Subianto akan tetap berada dalam garis politik yang sama dengan Jokowi di masa mendatang. Hubungan politik, menurutnya, bisa berubah sewaktu-waktu.
“Jokowi perlu cari selamat karena bisa jadi dikutak-atik oleh Presiden yang bisa jadi oposisi dirinya jika ia tak melakukan ini, bahkan tidak ada yang bisa menjamin bahwa Prabowo tidak akan menjadi oposisi Jokowi nantinya di 2029,” ujarnya.
Strategi Jangka Panjang untuk Pengaruh Politik
Hensa berpandangan bahwa langkah Jokowi saat ini bukanlah reaksi spontan. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan pengaruh politik sekaligus menjaga stabilitas bagi dirinya dan keluarga.
Ia mencontohkan peran Jokowi dalam Pilpres 2024. Pada saat itu, Jokowi dinilai berhasil mengamankan posisi politik keluarganya. Caranya adalah melalui dukungan penuh kepada Prabowo Subianto serta mendorong putranya, Gibran Rakabuming Raka, untuk menjadi calon wakil presiden.
“Dia sudah berhasil di 2024 menyelamatkan keluarganya melalui dukungan kepada Prabowo dan mendorong Gibran sebagai wakil presiden. Tetapi 2029 bisa saja berubah, sehingga dia harus kembali mencari langkah aman,” pungkas Hensa.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Ditahan Kejagung atas Dugaan Korupsi Jual Beli Titik Dapur Program Makan Bergizi Gratis
Kejagung Tetapkan Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Tersangka Mark-Up Anggaran Rp1 Triliun
50 Bentor Dimusnahkan di Yogyakarta, Pengemudi Terima Becak Listrik dari KAI
Menkeu Apresiasi Efektivitas Pembahasan RUU P2SK, OJK Bakal Awasi Bursa Karbon hingga Aset Kripto