BRIN Deteksi Sinyal Awal Fenomena Upwelling Musim Timur 2026 di Perairan Selatan Indonesia

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 05:25 WIB
BRIN Deteksi Sinyal Awal Fenomena Upwelling Musim Timur 2026 di Perairan Selatan Indonesia
PARADAPOS.COM - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mendeteksi sinyal awal fenomena upwelling musim timur 2026 di sejumlah perairan selatan Indonesia, khususnya di Samudera Hindia selatan Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor. Informasi ini disampaikan oleh Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, pada Sabtu, 6 Juni 2026. Meski sinyal telah terlihat, intensitasnya masih berada dalam kategori lemah hingga sedang dan belum merata secara spasial.

Sinyal Awal di Perairan Selatan

Berdasarkan prediksi parameter oseanografi periode 1-7 Juni 2026, indikasi upwelling di wilayah selatan Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor mulai tampak. Fenomena ini ditandai oleh penurunan suhu permukaan laut, peningkatan salinitas, keberadaan arus vertikal ke atas, serta kenaikan konsentrasi klorofil. “Berdasarkan prediksi parameter oseanografi periode 1-7 Juni 2026, sinyal awal keaktifan upwelling mulai terlihat di beberapa wilayah perairan Indonesia. Namun, intensitasnya masih berada pada kategori lemah hingga sedang dan belum merata secara spasial,” ujar Widodo dalam keterangan resminya. Kombinasi faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa massa air kaya nutrien dari lapisan dalam mulai terangkat ke permukaan yang mendapat paparan sinar matahari. Proses alami ini memegang peranan penting dalam ekosistem laut, karena nutrien yang terbawa akan merangsang pertumbuhan fitoplankton sebagai fondasi rantai makanan laut. "Kondisi ini sering kali berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas perairan dan potensi sumber daya perikanan," tambahnya.

Indikasi di Wilayah Lain

Selain di koridor selatan Indonesia, BRIN juga menemukan indikasi peningkatan produktivitas perairan di sejumlah wilayah lain. Di antaranya adalah Laut Banda bagian selatan-tenggara, Laut Arafura, perairan barat Sumatra hingga Laut Andaman, serta kawasan selatan Selat Makassar menuju Laut Flores. Namun demikian, mekanisme yang terjadi di wilayah-wilayah tersebut tidak selalu mencerminkan proses upwelling pantai klasik. Widodo menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas di Laut Arafura kemungkinan dipengaruhi oleh proses pencampuran massa air akibat angin dan pasang surut di wilayah paparan dangkal. Sementara itu, di perairan barat Sumatra hingga Laut Andaman, peningkatan klorofil diduga berkaitan dengan interaksi front oseanografi, pusaran arus (eddy), pencampuran massa air, serta pengaruh massa air dari Teluk Benggala. "Di bagian selatan Selat Makassar, proses vertikal lokal diduga dipicu oleh interaksi Arus Lintas Indonesia atau ARLINDO, topografi dasar laut, tidal pump, eddy, dan gelombang internal yang mendorong pengangkatan massa air ke lapisan atas," ungkapnya.

Wilayah yang Belum Terdampak

Di sisi lain, beberapa wilayah perairan Indonesia masih belum menunjukkan tanda-tanda upwelling yang signifikan. Wilayah seperti Selat Malaka, Selat Karimata, Laut Jawa, bagian selatan Laut China Selatan, Laut Halmahera, Laut Sulawesi, serta perairan Pasifik barat di utara Papua hingga timur Filipina masih didominasi perairan yang relatif hangat. Konsentrasi klorofil di wilayah-wilayah tersebut masih tergolong rendah hingga sedang, menandakan bahwa proses pengangkatan massa air belum terjadi secara optimal.

Fase Awal yang Perlu Dipantau

Berdasarkan hasil analisis tersebut, BRIN menginterpretasikan kondisi awal Juni 2026 sebagai fase awal (onset) upwelling musim timur 2026. Pusat aktivitasnya berada di koridor selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor. Widodo menegaskan bahwa perkembangan fenomena ini masih perlu diamati secara intensif hingga Juli–Agustus 2026 untuk mengetahui potensi penguatannya. "Upwelling yang mulai terdeteksi pada awal Juni ini perlu terus dipantau melalui observasi suhu permukaan laut, salinitas, kecepatan arus vertikal, nutrien, klorofil, dan angin permukaan. Pemantauan berkelanjutan akan membantu memahami perkembangan fenomena ini sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara lebih adaptif," tuturnya.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar