PARADAPOS.COM - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan pada Jumat, 12 Juni 2026, dan terancam mencatat kerugian mingguan terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Pemicu utamanya adalah meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang membuka harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz—jalur strategis bagi seperlima pasokan minyak dan gas global. Minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Agustus ambles 3,7 persen ke posisi USD87,00 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli terkoreksi 3,6 persen menjadi USD84,54 per barel. Kedua patokan tersebut berada di jalur untuk mengalami pelemahan mingguan lebih dari enam persen.
Sinyal Damai dari Washington dan Teheran
Katalis utama penurunan harga datang dari pernyataan Presiden Donald Trump pada Kamis malam. Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah tercapai dan bisa ditandatangani dalam waktu dekat, bahkan mungkin pada akhir pekan. Komentar positif juga mengalir dari Teheran dan mediator utama Pakistan pada hari Jumat, yang semakin memperkuat sentimen bullish di pasar.
“Kesepakatan itu akan membuka blokade Selat Hormuz dan mengakhiri blokade angkatan laut Amerika terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran,” ujar Trump. Ia juga menegaskan bahwa Iran “tidak akan pernah” memiliki senjata nuklir berdasarkan kesepakatan tersebut.
Namun, keesokan paginya, Trump mengkritik Iran atas retorika yang menurutnya “tidak ada hubungannya dengan kebenaran.” Pernyataan ini muncul setelah Kantor Berita Mehr Iran melaporkan bahwa nota kesepahaman dengan Washington akan mencakup pelepasan dana Iran yang dibekukan. Negosiasi akhir, menurut laporan tersebut, hanya akan fokus pada masalah nuklir dan ekonomi tanpa menyentuh program rudal Iran.
Brent Kembali ke Level Terendah Sejak Awal Maret
Harapan akan gencatan senjata telah mendorong harga minyak mentah Brent kembali ke level yang terakhir terlihat pada awal Maret, tepat setelah dimulainya serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Meski demikian, Brent masih bertahan di atas level pra-perang sekitar USD70 per barel.
Lonjakan harga minyak akibat konflik sebelumnya telah memicu guncangan inflasi, sebagaimana tercermin dalam data harga konsumen dan produsen utama AS pekan ini. Bank Sentral Eropa pada hari Kamis bahkan menyebut lonjakan harga minyak terkait Iran sebagai faktor utama di balik keputusannya menaikkan suku bunga.
Menariknya, tekanan jual di pasar minyak semakin deras sejak akhir Mei seiring menguatnya ekspektasi bahwa pertempuran akan segera berakhir.
“Penurunan harga minyak mentah baru-baru ini sekitar USD11 per barel sejak 22 Mei dipicu oleh optimisme pasar seputar kemungkinan kesepakatan AS-Iran untuk membuka Selat Hormuz,” jelas Vikas Dwivedi, ahli strategi energi global di Macquarie. “Penurunan ini mendorong harga minyak mentah kembali ke titik terendah yang menurut kami akan bertahan selama Selat tersebut tetap tertutup secara efektif.”
Dwivedi menambahkan bahwa dari titik ini, potensi kenaikan jangka pendek lebih besar dibandingkan penurunan lebih lanjut, tanpa adanya perubahan besar menuju pembukaan kembali selat. “Bahkan, rasio risiko/imbalan terbaik sejak perang dimulai adalah dengan mengesampingkan model ‘terperinci’ dan berdagang di kisaran sekitar USD10 (mungkin lebih dekat ke USD6),” tuturnya.
Ia juga menyoroti fenomena menarik di pasar: “Meskipun terjadi konflik kinetik yang diperbarui dan potensi eskalasi, pasar telah mempertahankan lintasan penurunannya—menandakan pandangan bahwa kesepakatan masih terus berjalan. Tantangannya seiring berjalannya waktu adalah AS tampaknya termotivasi untuk menyelesaikan kesepakatan dan Iran termotivasi untuk menunggu.”
OPEC Pangkas Prospek Permintaan Minyak
Di sisi fundamental, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada hari Kamis merevisi turun proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun 2026. Kartel minyak tersebut kini memperkirakan permintaan hanya akan tumbuh sebesar 1 juta barel per hari dibandingkan tahun lalu, turun dari estimasi sebelumnya yang sebesar 1,2 juta barel per hari.
Sebaliknya, OPEC menaikkan prospek permintaan untuk tahun 2027 menjadi pertumbuhan 1,7 juta barel per hari, naik dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 1,5 juta barel per hari.
Panduan OPEC ini terbilang jauh lebih optimis dibandingkan peramal lainnya. Badan Informasi Energi AS (EIA) misalnya, memperkirakan permintaan minyak dunia akan turun sebesar 1,1 juta barel per hari pada tahun 2026. Sementara Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan kontraksi sebesar 420.000 barel per hari.
“Kinerja ekonomi global tetap tangguh sejauh tahun ini. Peristiwa geopolitik, serta perkembangan terkait tarif AS, tetap menjadi isu utama yang perlu dipantau pada paruh kedua tahun 2026,” demikian pernyataan OPEC, seraya mempertahankan perkiraan pertumbuhan PDB global yang tidak berubah untuk tahun 2026 dan 2027.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Hukum Menggabungkan Niat Puasa Qada Ramadan dengan Puasa Sunah Tasua dan Asyura, Ini Penjelasan Ulama
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp74.550 per Kg, Telur Ayam Rp30.100 per Kg
Pertamina Pastikan Stok Pertalite Aman dan Distribusi Normal di Seluruh SPBU
Speedboat Tenggelam di Perairan Maluku Barat Daya, Delapan Penumpang Masih Hilang