YAICI dan Relawan Tangani Malnutrisi Balita di Tiga Wilayah Bencana, Anak Terpaksa Konsumsi Air Tajin

- Senin, 15 Juni 2026 | 05:00 WIB
YAICI dan Relawan Tangani Malnutrisi Balita di Tiga Wilayah Bencana, Anak Terpaksa Konsumsi Air Tajin
PARADAPOS.COM - Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menyisakan ancaman jangka panjang yang kerap tak kasat mata: malnutrisi pada balita. Di tiga wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama para sukarelawan bergerak merespons situasi ini. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, mereka telah menjangkau 250 keluarga di desa-desa terisolasi seperti Batang Ara, Pematang Durian, dan Serba, yang jarang tersentuh bantuan logistik. Fokusnya bukan sekadar menyalurkan bantuan, tetapi juga memberikan edukasi gizi kepada masyarakat yang paling rentan.

Air Tajin Pengganti Susu: Realitas Pahit di Kampung Terpencil

Di balik gemuruh bantuan darurat, ada kisah pilu yang terungkap. Satria Yudistria, Sekretaris Jenderal YAICI, mengungkapkan temuan di lapangan yang memprihatinkan. "Faktanya di lapangan, khususnya di Kampung Batang Ara (Aceh Tamiang) anak bawah tiga tahun (batita) terpaksa mengonsumsi air tajin sebagai pengganti susu," ucapnya dalam laporan publik, baru-baru ini. Lebih dari sekadar persoalan asupan, anak-anak juga mengalami trauma psikologis yang mendalam. Mereka ketakutan saat melihat hujan atau air, kondisi yang pada akhirnya mengganggu pola makan mereka. Menurut Satria, anak-anak adalah kelompok paling rentan, bukan hanya saat bencana terjadi, tetapi justru di masa pemulihan ketika perhatian dan bantuan mulai menyusut.

Pemulihan Menyeluruh: Lebih dari Sekadar Sembako

Menyadari kompleksitas masalah, YAICI bersama para mitra tidak hanya membagikan bahan makanan. Mereka menerapkan pendekatan pemulihan yang holistik. "Mulai dari trauma healing, distribusi mainan anak untuk memulihkan psikososial, diskusi kelompok bersama para ibu, hingga edukasi literasi gizi keluarga," jelas Satria. Pendekatan ini lahir dari kesadaran bahwa pemulihan pasca-bencana tidak bisa hanya mengandalkan sembako. Dibutuhkan pendampingan ahli secara berkesinambungan, terutama ketika bantuan dari pihak lain mulai terhenti. Sebagai langkah konkret, seluruh temuan riset dan pembelajaran lapangan dari tiga wilayah ini telah dirangkum menjadi rekomendasi resmi yang diserahkan kepada kementerian dan lembaga pemerintahan pusat.

Kader Aisyiyah: Ujung Tombak di Garis Depan

Gerakan kemanusiaan ini mendapat kekuatan dari peran masif Majelis Kesehatan PP Aisyiyah. Mereka mengerahkan kader-kader di daerah yang menjadi ujung tombak di lapangan. Dra. Chairunnisa, M.Kes., Wakil Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, menceritakan bagaimana para kadernya bekerja. Para kader melakukan pelacakan sasaran secara door-to-door, menyisir posko pengungsian hingga ke hunian sementara (Huntara) sempit berukuran 4x6 meter. Tujuannya mendata ibu hamil, ibu menyusui, dan balita terdampak agar intervensi gizi tidak salah sasaran. Tantangan lain muncul karena di pengungsian, masyarakat terbiasa dengan pola konsumsi pangan instan dan kental manis yang kerap dianggap susu pertumbuhan. "Kami mengumpulkan para ibu di mushola, sekolah, bahkan di area perkebunan sawit karena minimnya fasilitas. Kami mengedukasi konsep Gizi Seimbang atau 'Isi Piringku', membagikan pangan lokal bernutrisi," jelas Dra. Chairunnisa.

Menuju Kemandirian Pangan di Tengah Krisis

Rahmawati Husein MCP., Ph.D., perwakilan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP Aisyiyah, menegaskan bahwa pemenuhan gizi anak pada fase pemulihan sangat ditentukan oleh penanganan pada masa tanggap darurat. Fase ini seringkali berlangsung lama, bahkan hingga transisi darurat 6 sampai 7 bulan. Ia menyoroti pentingnya Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas terkait penyediaan pangan darurat dan pengelolaan data terpilah yang akurat sejak awal bencana. Rahmawati juga mengingatkan agar bantuan pemulihan gizi tidak membuat masyarakat ketergantungan pada makanan instan dari luar. Menurutnya, pemanfaatan bahan pangan lokal dan pelibatan perempuan dalam mengelola dapur balita sehat jauh lebih berkelanjutan. LLHPB PP Aisyiyah mendorong strategi edukasi mandiri melalui kebun pangan darurat di sekitar hunian sementara, sehingga masyarakat dapat mandiri menyediakan MPASI sehat.

Fase Pemulihan: Sebuah "Maraton" yang Penuh Tantangan

Dari perspektif manajemen bencana, Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah Budi Setiawan mengakui bahwa fase pemulihan pasca bencana adalah proses "maraton" jangka panjang. Fase ini membutuhkan pendekatan yang sangat berbeda dari fase tanggap darurat. Tantangan terbesarnya adalah penurunan drastis jumlah relawan dan buyarnya koordinasi lintas lembaga, sementara jaminan kesehatan dari pemerintah daerah biasanya hanya mencakup tiga bulan pertama. "Selama masa tanggap darurat, banyak lembaga kemanusiaan termasuk MDMC, cenderung berfokus pada cakupan logistik bahan mentah umum secara luas, sehingga pemenuhan gizi spesifik kelompok rentan seringkali terabaikan," jelas Budi. Oleh karena itu, MDMC sangat mengapresiasi langkah YAICI yang konsisten mengingatkan pentingnya integrasi aspek gizi. Budi menambahkan, ke depan, MDMC mendorong adanya SOP lintas lembaga dan standarisasi dapur umum yang terpilah—khusus untuk dewasa, lansia, dan balita—yang dilengkapi petunjuk resep praktis.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar