Tekanan Sosial Infertilitas Meningkat Jelang Lebaran, Dokter Soroti Stigma yang Tak Sesuai Fakta Medis

- Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Tekanan Sosial Infertilitas Meningkat Jelang Lebaran, Dokter Soroti Stigma yang Tak Sesuai Fakta Medis

PARADAPOS.COM - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, pertanyaan “Kapan punya anak?” kembali menjadi momok bagi pasangan yang sedang berjuang mendapatkan keturunan. Praktisi Kesehatan Masyarakat, dr. Ngabila Salama, dalam sebuah wawancara khusus di kanal YouTube Cumicumi, menyoroti tekanan sosial yang kerap dialami para pejuang garis dua, terutama saat momen berkumpul keluarga. Ia mengungkapkan bahwa stigma infertilitas di Indonesia masih sering salah sasaran, padahal fakta medis menunjukkan bahwa faktor penyebabnya terbagi rata antara pria dan wanita. dr. Ngabila pun mendorong pasangan untuk tidak menunda konsultasi medis demi mengantisipasi masalah kesehatan yang mungkin mendasarinya.

Tekanan Sosial di Momen Lebaran

Pertanyaan “Kapan punya anak?” mungkin terdengar ringan dan lahir dari niat baik. Namun, bagi sebagian orang, pertanyaan itu justru menimbulkan keresahan yang mendalam. Alih-alih mencairkan suasana, pertanyaan tersebut kerap membuat para pejuang garis dua memilih untuk bersembunyi. Terlebih lagi, jika pertanyaan itu datang di momen-momen besar seperti hari raya Lebaran. Di hari yang seharusnya penuh kebahagiaan, mereka justru harus menerima tekanan sosial yang tidak ringan. “Tentu tekanan-tekanan sosial ya apalagi sudah ketemu lebaran. Nah, itu orang-orang teman-teman kita yang infertilitas kadang-kadang sudah rasanya udah pengin ngumpet itu. Hm. Iya kan? Tolonglah kami ini lagi berjuang gitu,” ucap dr. Ngabila Salama.

Stigma yang Tidak Sesuai Fakta Medis

Mirisnya, dalam budaya ketimuran seperti Indonesia, stigma hampir selalu jatuh kepada satu pihak, yakni perempuan. Padahal, fakta medis mengatakan hal yang berbeda. Dokter Ngabila menjelaskan bahwa tanggung jawab atas infertilitas tidak sepenuhnya berada di pundak wanita. Kedua belah pihak memiliki peran yang sama. “50% penyebabnya kemungkinan wanita, 50% pria. Tapi di kultur kita yang ketimuran ini kadang-kadang kita langsung menstigma kepada perempuan,” tegasnya.

Pentingnya Deteksi Dini

Berdasarkan fakta tersebut, dr. Ngabila mengajak para pasangan suami-istri untuk lebih aktif melakukan pemeriksaan secara medis. Banyak faktor yang bisa saja memengaruhi kondisi ini, mulai dari potensi adanya masalah kesehatan hingga obesitas. Jangan menunggu sampai satu tahun penuh untuk mencari tahu penyebabnya. “Oleh karena itu sebagai langkah kehati-hatian, saran saya di 6 bulan tersebut sudah melakukan konseling kepada dokter spesialis. Baik itu kandungan, minimal di USG saja dulu ya. Jadi ke dokter kandungan atau kalau laki-laki ada indikasi bisa juga ke spesialis andrologi. Nanti akan dilihat bagaimana permasalahan kesehatan, kualitas sperma, apakah dia juga ada obesitas, ada gangguan kesehatan, diabetes melitus atau penyakit-penyakit kronik yang kita bisa lihat sehingga tidak sampai menunggu 1 tahun,” tutupnya.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar