Peneliti Temukan Dua Subtipe Autisme Berdasarkan Pola Konektivitas Otak

- Kamis, 18 Juni 2026 | 13:00 WIB
Peneliti Temukan Dua Subtipe Autisme Berdasarkan Pola Konektivitas Otak
PARADAPOS.COM - Tim peneliti internasional berhasil mengidentifikasi dua subtipe autisme berdasarkan bukti biologis yang ditemukan di otak manusia dan tikus. Studi yang diterbitkan di jurnal Nature Neuroscience ini menggunakan analisis lintas spesies untuk memverifikasi temuan mereka, mengonfirmasi perbedaan pola konektivitas otak yang mendasari dua subtipe tersebut. Penemuan ini diharapkan mendorong pergeseran dari pendekatan “satu ukuran untuk semua” menuju pengembangan program terapi yang lebih tepat sasaran bagi penderita autisme.

Dua Subtipe Berdasarkan Konektivitas Otak

Para peneliti menganalisis pemindaian otak dari tikus yang membawa 20 model berbeda dengan karakteristik mirip autisme, serta data dari 940 anak-anak dan dewasa muda dengan autisme dan 1.036 individu neurotipis. Dari analisis tersebut, muncul dua kelompok pola yang serupa. Kelompok pertama adalah hipokonektivitas, di mana autisme dikaitkan dengan berkurangnya konektivitas otak. Aktivitas otak pada kelompok ini berhubungan dengan gen-gen yang terlibat dalam persimpangan sinaps, yaitu titik-titik yang memungkinkan sel-sel otak saling berkomunikasi. Kelompok kedua adalah hiperkonektivitas, yang dikaitkan dengan meningkatnya konektivitas di seluruh bagian otak. Pola otak kelompok ini berhubungan dengan gen-gen yang berkaitan dengan sistem imun, dan menunjukkan tingkat keparahan autisme yang sedikit lebih tinggi. “Selama beberapa dekade, kami telah mengamati variasi yang luar biasa dalam cara autisme bermanifestasi, tetapi kami tidak memiliki bukti langsung bahwa perbedaan-perbedaan ini mencerminkan biologi yang berbeda di baliknya,” ujar ahli neurosains dari Institut Teknologi Italia, Alessandro Gozzi. “Pendekatan kami memungkinkan kami untuk mengisolasi faktor genetik dan imun yang spesifik, lalu menerjemahkan tanda-tanda tersebut ke dalam pemindaian otak manusia, dan menunjukkan bahwa pola konektivitas yang berbeda mencerminkan jalur mekanistik yang berbeda pula sebagai dasar dari autisme,” lanjutnya. Fakta bahwa temuan ini dapat direplikasi pada tikus maupun manusia, serta pada berbagai kumpulan data yang berbeda, merupakan bukti kuat bahwa kedua subtipe ini benar-benar nyata secara ilmiah. Namun, masih ada kemungkinan temuan lebih lanjut: sekitar satu dari empat otak manusia dengan autisme yang dianalisis masuk ke dalam kelompok hipokonektivitas atau hiperkonektivitas. “Model tikus memberi kami ‘Batu Rosetta’ secara biologis,” jelas ahli neurosains dari Child Mind Institute di Amerika Serikat, Adriana Di Martino. “Kami dapat melihat jalur biologis mana yang mendorong tanda konektivitas tertentu, lalu mencari pola yang sama pada manusia.”

Implikasi dan Langkah ke Depan

Masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan. Namun jika kedua subtipe ini dapat dikonfirmasi dan didiagnosis, maka terapi yang lebih spesifik untuk masing-masing kategori autisme dapat dikembangkan berdasarkan ciri-ciri biologis yang ditemukan dalam penelitian ini. Ini bukan pertama kalinya para peneliti berupaya menemukan pola yang serupa dan membagi autisme ke dalam beberapa jenis. Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2025 menemukan empat jenis autisme pada 5.000 anak, meski kategori-kategorinya didefinisikan menggunakan lebih dari 230 ciri perilaku yang berbeda, bukan pendekatan pencitraan otak seperti yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian lain juga telah melihat bagaimana manifestasi autisme dapat bergantung pada waktu perkembangannya, masa kanak-kanak awal, masa kanak-kanak akhir, masa remaja, atau usia dewasa muda. Semua studi ini dapat berkontribusi pada tujuan yang lebih besar, yaitu mengidentifikasi dan memahami autisme dengan lebih baik. Anda mungkin pernah mendengar autisme digambarkan sebagai sebuah spektrum, dalam upaya untuk mencakup beragam cara berkomunikasi dan berperilaku pada individu autistik. Namun, sejumlah pakar berpendapat istilah ini bukan cara yang paling tepat untuk menggambarkan neurodiversitas, dan mereka mendorong pendekatan-pendekatan baru. Para peneliti menyarankan kumpulan data yang lebih besar dan teknik analisis yang lebih canggih akan memungkinkan identifikasi lebih banyak subtipe di masa depan. Sementara itu, mereka telah membuka akses terhadap data yang dikumpulkan beserta alat analisis yang digunakan kepada ilmuwan lain, sehingga penelitian selanjutnya dapat lebih mudah dibangun di atas studi ini. “Pendekatan lintas spesies kami menyediakan kerangka translasional yang lebih maju untuk stratifikasi autisme yang multidimensi dan berbasis biologi,” tulis para peneliti dalam makalah yang telah diterbitkan di Nature Neuroscience. “Basis data kami tersedia secara terbuka bagi komunitas penelitian, untuk mendukung investigasi di masa depan mengenai perubahan konektivitas yang berkaitan dengan autisme.”

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar