PARADAPOS.COM - Bank Indonesia (BI) kini mewaspadai sejumlah faktor yang berpotensi menekan inflasi domestik. Risiko utama yang menjadi perhatian adalah rambatan kenaikan harga energi dan komoditas global, serta potensi gangguan cuaca akibat fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada paruh kedua tahun 2026. Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengungkapkan, tekanan dari kenaikan harga minyak dunia sudah mulai terlihat pada harga-harga yang diatur pemerintah, seperti penyesuaian harga BBM non-subsidi beberapa waktu terakhir.
Kenaikan Harga Global dan Dampaknya ke Dalam Negeri
Dalam konferensi pers yang digelar Kamis (18/6), Aida menjelaskan bahwa saat ini faktor risiko inflasi yang paling mencuat adalah imported inflation. “Faktor risiko inflasi yang mungkin sekarang ini mencuat dan menjadi perhatian adalah tentunya tentang rambatan global yaitu harga-harga minyak dan komoditas ke dalam negeri atau kita sebut dengan imported inflation,” jelasnya.
Dampak dari kenaikan harga global ini langsung tercermin pada administered prices. Salah satu contoh nyatanya adalah perubahan harga BBM non-subsidi. Aida menyebut, kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Turbo ikut memberi tekanan pada inflasi. Meski di sisi lain ada penurunan harga Dex Lite dan Pertamina Dex, secara keseluruhan perubahan harga BBM ini diperkirakan menyumbang sekitar 0,25% terhadap inflasi nasional.
El Nino dan Ancaman Terhadap Inflasi Pangan
Selain energi, perhatian BI juga tertuju pada kelompok volatile food, khususnya komoditas hortikultura. Risiko tekanan inflasi dari sektor pangan dinilai bisa meningkat jika fenomena El Nino mulai mengganggu produksi dalam negeri. “Ini belum terjadi tapi kita perlu alert untuk menghadapinya yaitu gangguan cuaca,” ujar Aida.
BI memperkirakan dampak El Nino baru akan mulai terasa pada akhir Juni hingga Oktober atau November 2026. Meski demikian, Aida menegaskan bahwa inflasi secara keseluruhan masih diproyeksikan berada dalam target BI sebesar 2,5% plus minus 1%. “Jadi paling tinggi kita 3,5%, ini masih dalam target tersebut,” tuturnya.
Sementara itu, Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali melaporkan bahwa inflasi nasional pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini masih berada dalam rentang sasaran. Namun, tekanan yang cukup besar mulai terlihat pada kelompok volatile food yang naik hingga 6,24% yoy. “Nah, inflasi volatile food ini yang sangat terasa terutama di daerah-daerah,” ungkap Ricky.
Tekanan Inflasi di Daerah dan Komoditas Pemicu
Dari hasil pemantauan BI, terdapat 25 provinsi yang inflasinya masih berada dalam rentang sasaran. Namun, ada 13 provinsi yang mulai menunjukkan kenaikan inflasi cukup tinggi dan perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa daerah dengan inflasi tinggi antara lain Papua Barat sebesar 5,94%, Aceh 5,12%, dan Kalimantan Tengah 4,55%.
Ricky menjelaskan, tekanan inflasi di sejumlah daerah itu dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah. Ia juga menyoroti risiko El Nino yang diperkirakan dapat menurunkan produktivitas hortikultura, terutama di kawasan Indonesia Timur. “Intensitas El Nino ini diperkirakan berisiko untuk menurunkan produktivitas terutama dari hortikultura di beberapa wilayah, khususnya di kawasan Indonesia Timur,” ujarnya.
Antisipasi dan Langkah Pengendalian
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, BI bersama 46 kantor perwakilan daerah terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah. Langkah ini dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Selain itu, BI juga menjalankan program Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) guna menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan stabilitas harga pangan di berbagai wilayah.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
AS dan Iran Sepakati Gencatan Senjata 60 Hari serta Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Kejagung Verifikasi 41 Nama dan Proyek Fiktif Korupsi MBG yang Diungkap Tersangka Sony Sonjaya
OJK Minta Direksi Baru BEI Perkuat Tata Kelola dan Keberlanjutan Reformasi Pasar Modal
Warna Pink Dominasi Piala Dunia 2026, Messi Pilih Klasik Biru-Putih Sementara Ronaldo Pakai Sepatu Merah Muda