PARADAPOS.COM - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut sejumlah kebijakan era Presiden ke-2 RI, HM Soeharto, layak diadopsi untuk memperkuat kemandirian nasional. Salah satu contoh yang disorot adalah keberhasilan swasembada pangan pada 1984 yang dicapai melalui program Revolusi Hijau. Pernyataan itu disampaikan Fadli Zon usai membuka seminar nasional tentang Pak Harto di Universitas Trilogi, Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Revolusi Hijau dan Koperasi Desa
Menurut Fadli Zon, transformasi sistem pertanian dari tradisional ke modern menjadi kunci utama di era Soeharto. Program Revolusi Hijau saat itu berfokus pada peningkatan produksi pangan, terutama padi. Ia juga menyoroti peran Koperasi Unit Desa (KUD) yang menjadi tulang punggung sektor pertanian, bersamaan dengan mulai bergeraknya industrialisasi dan investasi di Indonesia.
“Sebagaimana diketahui, Indonesia berhasil swasembada pangan di tahun 1984. Yang tadinya kita kelaparan, menjadi swasembada pangan. Itu kan prestasi yang luar biasa,” kata Fadli Zon di lokasi acara.
Ia kemudian membandingkan KUD dengan program anyar pemerintah saat ini, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurut Fadli, meskipun konsepnya hampir serupa, KDMP memiliki cakupan yang lebih luas karena menyentuh seluruh aspek perekonomian desa.
“Koperasi itu kekuatannya kan kebersamaan, mereka bisa menentukan harga produknya,” ujarnya.
Fadli Zon menjelaskan, tujuan utama KDMP adalah menggerakkan roda ekonomi desa. Petani, nelayan, pekebun, hingga pedagang kecil bisa menitipkan produk mereka dan mendapatkan harga yang pantas.
Jasa Soeharto di Mata Dua Menteri
Lebih jauh, Fadli Zon menilai Soeharto memiliki banyak jasa bagi Indonesia, mulai dari keterlibatannya di medan perang, masa transisi kepemimpinan, hingga akhir masa pemerintahannya.
“Kita bisa melihat, keterlibatan Pak Harto di ASEAN, APEC, maupun Gerakan Non Blok. Bahkan Pak Harto juga dicatat sebagai mediator dalam berbagai konflik antar negara, di Kamboja maupun Philipina,” ungkapnya.
Senada dengan Fadli, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, juga memberikan apresiasi. Ia menyebut jasa Soeharto sangat besar dalam kemajuan dan pembangunan bangsa, khususnya di sektor pendidikan.
“Terutama dalam sektor pendidikan, yaitu dalam program pengentasan buta aksara dan pemenuhan pendidikan dasar,” kata Abdul Mu'ti.
Ia menambahkan, angka buta aksara di awal pemerintahan Soeharto masih sangat tinggi. Berkat program pendidikan dasar, terutama pembangunan SD Inpres, Indonesia berhasil bebas dari buta aksara, buta angka, dan buta pengetahuan dasar.
“Ini lah jasa-jasa beliau yang tak bisa kita abaikan,” ujar Abdul Mu’ti.
Rekor MURI dan Rangkaian Acara Haul
Peringatan Haul ke-105 Soeharto tidak hanya berisi seminar. Rangkaian acara diawali dengan peluncuran buku dan sarasehan bertajuk “Ketahanan Nasional, Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen, Analisis SWOT Negara ala Jawa” karya B. Wiwoho. Acara kemudian berlanjut di Universitas Trilogi dengan lomba melukis sketsa Jenderal Besar H.M. Soeharto.
Antusiasme peserta sangat tinggi. Tercatat 1.126 peserta dari berbagai kalangan—mulai dari siswa PAUD, SD, SMP, SMA, mahasiswa, hingga masyarakat umum—mengikuti lomba tersebut. Besarnya jumlah peserta ini pun dicatatkan dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai sebuah pencapaian tersendiri.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Komisi IX DPR Desak Usut Tuntas 100 Titik Dapur Makan Bergizi Gratis Fiktif di Cilacap
Bom Molotov Salah Sasaran di Koja, Ibu dan Anak Jadi Korban Cemburu Pelaku
MER-C Temukan Kerusakan Parah di RS Jabal Amel Lebanon Akibat Serangan Israel
Residivis Penganiayaan Tersangka Penyekapan dan Penganiayaan Berat Kekasih di Bandung, Polisi Bentuk Satgas Khusus