PARADAPOS.COM - Harga emas dunia bergerak stabil pada perdagangan Jumat waktu setempat, setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan meredakan spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Kondisi ini mendorong pemulihan logam mulia yang sebelumnya sempat tertekan. Emas batangan diperkirakan mencatat kenaikan mingguan pertama dalam lima pekan, setelah sempat menyentuh level terendah dalam delapan bulan pada awal pekan.
Data Nonfarm Payrolls Meredakan Tekanan Suku Bunga
Harga emas melonjak pada Kamis setelah data nonfarm payrolls AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja Juni berada di bawah ekspektasi pasar. Data tersebut meredakan perkiraan kenaikan suku bunga The Fed tahun ini. Pasar tenaga kerja yang kuat selama ini menjadi salah satu indikator penting bagi bank sentral AS dalam menentukan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Rilis data itu memberikan sentimen positif bagi emas setelah logam mulia tersebut mengalami tekanan sepanjang kuartal kedua akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga. Selama kuartal yang berakhir pada Juni, harga emas kehilangan sekitar 13 persen, sekaligus menghapus seluruh penguatan yang sempat dibukukan sejak awal tahun.
Pergerakan Harga dan Volume Perdagangan
Mengutip data pasar, harga emas spot naik 1,1 persen menjadi USD4.170,99 per troy ons. Sementara itu, harga emas berjangka menguat 1,4 persen menjadi USD4.182,36 per troy ons. Dalam sepekan terakhir, harga emas spot tercatat meningkat sekitar dua persen. Volume perdagangan relatif tipis menjelang libur pasar di Amerika Serikat.
Pelemahan Dolar Angkat Harga Logam Mulia
Indeks dolar AS melemah dari level tertinggi hampir 13 bulan setelah data ketenagakerjaan dirilis. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga logam mulia lainnya. Harga perak spot melonjak 2,4 persen menjadi USD62,4075 per troy ons, sedangkan harga platinum spot naik 1,9 persen menjadi USD1.656,84 per troy ons.
Meski demikian, emas dan logam mulia masih mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan sepanjang kuartal kedua karena kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Sikap The Fed Masih Jadi Perhatian Pasar
Para pembuat kebijakan The Fed menyampaikan sikap yang cenderung hawkish dalam pertemuan pada Juni. Ketua The Fed Kevin Warsh juga kembali menegaskan komitmen bank sentral mempertahankan target inflasi tahunan sebesar 2 persen.
Analis OCBC menilai prospek jangka pendek emas mulai membaik apabila data ekonomi Amerika Serikat terus menekan imbal hasil riil dan melemahkan dolar AS.
"Dalam jangka pendek, kami akan mengubah nada dari hati-hati menjadi hati-hati namun konstruktif. Emas dapat memperpanjang pemulihan jika data AS yang masuk terus membatasi imbal hasil riil dan USD," ujar analis OCBC dalam sebuah catatan.
Meski demikian, OCBC mengingatkan risiko masih perlu dicermati. "Namun dengan tingkat pengangguran yang masih stabil, retorika The Fed yang masih agresif, dan risiko inflasi yang masih menjadi perhatian The Fed, kehati-hatian taktis memang diperlukan," tulis analis OCBC.
Bank asal Singapura tersebut juga telah memangkas proyeksi harga emas tahunan pada awal pekan ini. Langkah tersebut didasarkan pada ekspektasi suku bunga AS yang masih tinggi serta imbal hasil obligasi yang diperkirakan tetap menjadi hambatan bagi harga emas. OCBC turut merevisi turun proyeksi harga perak tahunannya.
Editor: Rico Ananda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Apple Siapkan Desain Ulang MacBook Pro Entry-Level dan MacBook Layar Sentuh pada 2027
Korban Tewas Gempa Kembar Venezuela Capai 2.645 Jiwa, Lebih dari 12.000 Luka-luka
Argentina Susah Payah Taklukkan Debutan Tanjung Verde 3-2 di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Capai 2.645 Jiwa, Lebih dari 12.600 Luka-luka