PARADAPOS.COM - PT Elnusa Petrofin, anak usaha PT Elnusa Tbk yang tergabung dalam Subholding Upstream Pertamina, resmi menyalurkan Biosolar Industri B50 dari Fuel Terminal Indonesia Bulk Terminal (IBT) Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Langkah ini merupakan bagian dari dukungan terhadap program mandatori B50 nasional yang dicanangkan pemerintah, sekaligus memperkuat rantai pasok energi berbasis bahan bakar nabati (biofuel) untuk sektor industri.
Penyaluran Perdana untuk Sektor Industri
Proses distribusi perdana diawali dengan penerimaan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berspesifikasi B50 pada Rabu, 1 Juli 2026, melalui kapal MT Ocean Link. Keesokan harinya, Kamis, 2 Juli 2026, penyaluran perdana Biosolar Industri B50 dilakukan kepada kapal OB Ocean Brave untuk pelanggan VHS Patra Logistik.
Direktur Utama Elnusa Petrofin, Doni Indrawan, menegaskan bahwa pencapaian ini membuktikan kesiapan operasional perusahaan dalam mendukung agenda strategis pemerintah.
"Program mandatori B50 merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi berbasis sumber daya dalam negeri. Elnusa Petrofin bangga dapat menjadi bagian dari ekosistem Pertamina Group dalam mendukung penyaluran perdana Biosolar Industri B50," ujar Doni dalam keterangan tertulis, Jumat, 3 Juli 2026.
Menurut dia, keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa infrastruktur dan kapabilitas operasional perusahaan telah siap mendukung berbagai inisiatif strategis Pertamina, termasuk transisi energi dan dekarbonisasi.
"Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan operational excellence dan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) yang unggul dalam setiap aktivitas operasional," papar Doni.
Teknologi Inline Blending di Terminal Strategis
Fuel Terminal IBT Pulau Laut berperan sebagai fasilitas penting dalam rantai pasok energi nasional. Terminal ini menerima pasokan FAME dan solar murni, lalu mencampurkannya sebelum disalurkan ke pelanggan industri, khususnya sektor pertambangan.
Untuk memastikan kualitas dan efisiensi, terminal telah dilengkapi teknologi Automatic Inline Blending (ILB). Sistem ini memungkinkan proses pencampuran biodiesel berlangsung secara otomatis di dalam pipa dengan kapasitas alir mencapai 250 hingga 1.000 kiloliter per jam. Hasilnya, proses blending lebih presisi, efisien, dan sesuai standar mutu yang ditetapkan pemerintah.
Implementasi B50 sejalan dengan strategi Pertamina dalam mempercepat transisi energi dan mendukung target dekarbonisasi nasional. Dengan meningkatkan bauran biofuel, Pertamina mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan, sekaligus menciptakan nilai tambah bagi industri kelapa sawit dalam negeri.
Kebijakan ini juga diharapkan mampu menekan ketergantungan terhadap impor energi fosil serta memperkuat kemandirian energi nasional.
"Elnusa Petrofin menyatakan akan terus memperkuat perannya melalui pengembangan infrastruktur, inovasi teknologi, dan tata kelola operasional yang berorientasi pada keberlanjutan," tegas Doni.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Dinkes Tangerang Siagakan Delapan Puskesmas dan Bagikan 10 Ribu Masker Akibat Kebakaran TPA Jatiwaringin
Jenazah Ayatollah Ali Khamenei untuk Pertama Kalinya Diperlihatkan ke Publik di Teheran
KPK Tangkap Bupati Langkat dan Enam Orang Lain dalam OTT, Sita Uang Ratusan Juta Rupiah
Bareskrim Turun Langsung Buru Bandar Narkoba di Katingan Usai Anggota Polisi Tewas Dikeroyok Warga