PARADAPOS.COM - Kasus meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang akrab disapa Dokter Icha, di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, memasuki babak baru. Ketua DPRD setempat, Kristo Efi, mengungkapkan fakta mengejutkan saat diperiksa penyidik pada Sabtu (4/7/2026). Ia menyebut almarhumah sempat mengaku tiga kali mencoba bunuh diri akibat tekanan psikologis dan dugaan intimidasi dari sejumlah pihak sebelum akhirnya meninggal dunia. Pengakuan ini menjadi sorotan utama dalam penyelidikan yang kini ditangani Polda NTT melalui tim investigasi gabungan.
Kristo Efi menjalani pemeriksaan selama dua jam dengan 21 pertanyaan. Ia dipanggil karena termasuk orang terakhir yang bertemu dan menjenguk Dokter Icha di rumah sakit. “Saya dimintai keterangan karena sempat menjenguk beliau di rumah sakit,” ujarnya saat ditemui usai pemeriksaan.
Dalam kesempatan itu, Kristo menuturkan bahwa Dokter Icha bercerita tentang kondisi batinnya yang kacau. Tekanan itu, kata Kristo, diduga datang dari sejumlah pihak, termasuk oknum anggota DPRD TTU yang disebut-sebut melakukan intimidasi dengan nada tinggi. “Beliau merasa seperti melakukan kesalahan besar, padahal menurut pengakuannya semua tindakan sudah sesuai SOP dan telah dikonsultasikan dengan dokter ahli,” jelas Kristo, menirukan isi pembicaraan dengan almarhumah.
Tekanan Berat dan Upaya Mengakhiri Hidup
Lebih jauh, Kristo mengungkapkan bahwa Dokter Icha secara gamblang menyebut telah tiga kali berusaha mengakhiri hidupnya. Hal itu diakui langsung oleh almarhumah saat mereka berbincang di ruang perawatan. “Waktu itu saya minta beliau tetap semangat karena masyarakat TTU masih sangat membutuhkan tenaga medis,” tuturnya, menggambarkan upayanya memberikan dukungan moral saat itu.
Menurut Kristo, almarhumah merasa terpojok dan seolah-olah telah melakukan malapraktik. Padahal, berdasarkan pengakuannya, seluruh prosedur penanganan pasien telah mengikuti standar operasional dan dikonsultasikan dengan dokter spesialis. Namun, protes keras dari pihak tertentu membuatnya merasa bersalah secara berlebihan.
Meski demikian, Kristo menegaskan bahwa Dokter Icha tidak menyebut secara spesifik nama-nama pelaku intimidasi. Ia hanya menyampaikan adanya protes dengan nada kasar terkait penanganan pasien yang dilakukannya. “Beliau tidak menjelaskan secara rinci siapa yang melakukan, hanya menyebut ada protes dengan nada tinggi,” ungkapnya.
Permohonan Maaf dan Langkah Kepolisian
Atas nama lembaga DPRD TTU, Kristo mengaku telah menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada keluarga almarhumah. Ia menyesalkan peristiwa yang menimpa tenaga medis tersebut dan berharap proses hukum dapat berjalan transparan.
Sementara itu, Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) mengambil alih penanganan kasus ini dengan membentuk tim investigasi gabungan. Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra menyatakan, langkah ini diambil untuk memastikan penyelidikan berjalan profesional, objektif, dan berbasis alat bukti ilmiah. “Kami ingin kasus ini terang benderang,” ujarnya.
Tim gabungan tersebut melibatkan sejumlah satuan, mulai dari Ditreskrimum, Dit PPA dan PPO, Ditreskrimsus, Polres TTU, hingga Polres Kupang. Mereka akan didukung oleh analisis ahli pidana, psikologi, grafologi, hingga medis forensik. Penyidik juga akan memeriksa ulang para saksi dan mendalami bukti elektronik untuk mengungkap secara utuh kasus yang menyita perhatian publik ini.
Catatan Redaksi: Berita ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit dan memiliki pemikiran serupa, segera hubungi layanan kesehatan mental atau profesional di rumah sakit terdekat.
Artikel Terkait
Ribuan Suporter Prancis Padati Stadion Philadelphia, Optimis Mbappe Bawa Kemenangan atas Paraguay
Prancis Kehilangan Tchouameni karena Cedera, Duet Kone-Rabiot Jadi Andalan Hadapi Paraguay di 16 Besar Piala Dunia 2026
Alexandra Eala Ciptakan Sejarah, Singkirkan Iga Swiatek di Babak Ketiga Wimbledon
Jasa Marga Gencarkan Transformasi Layanan Tol Berbasis Pengalaman Pelanggan dan Teknologi Digital