PARADAPOS.COM - Alexandra Eala, petenis asal Filipina, mencatat sejarah di Wimbledon dengan menyingkirkan juara bertahan Iga Swiatek pada babak ketiga, Sabtu (4/7). Unggulan ke-29 itu menang 7-6(9), 6-2 di Centre Court, mengamankan tiket ke babak keempat Grand Slam untuk pertama kalinya bagi petenis Filipina. Kemenangan ini mengakhiri langkah Swiatek yang gagal mempertahankan gelar.
Laga Sengit di Centre Court
Pertandingan dimulai dengan tekanan. Swiatek langsung mematahkan servis Eala pada awal set pertama. Namun, Eala tidak gentar. Ia bangkit, bermain tanpa beban, dan memaksa set pertama berlangsung selama 84 menit sebelum akhirnya memenangi tie-break yang ketat.
Memasuki set kedua, momentum sepenuhnya berpihak pada Eala. Kepercayaan dirinya melonjak. Sebaliknya, Swiatek justru kehilangan ritme. Total 44 kesalahan sendiri dilakukan peringkat satu dunia itu, membuatnya tak mampu mengejar ketertinggalan. Eala menuntaskan laga pada match point ketiganya.
Ungkapan Hati Sang Pemecah Sejarah
“Saya berhasil mencapai pekan kedua Grand Slam dan ini luar biasa bagi saya. Iga adalah pemain yang luar biasa dan pribadi yang sangat baik,” ujar Eala, dikutip dari laman resmi Wimbledon.
Dengan nada penuh haru, ia menambahkan, “Bagi orang yang tumbuh besar di Filipina, yang setiap hari berlatih bersama kakak dan kakeknya dengan kaus kaki berenda, sepatu yang menyala, dan pipi tembam, ini adalah segalanya.”
Petenis berusia 21 tahun itu mendedikasikan kemenangan bersejarah ini untuk tanah airnya. “Kemenangan ini saya persembahkan untuk mereka, keluarga saya, dan semua anak perempuan kecil yang memiliki mimpi besar,” tuturnya.
Meski telah mencatat sejarah, Eala menegaskan ambisinya belum usai. “Mari lanjut ke babak berikutnya,” ujarnya singkat.
Catatan Baru untuk Filipina
Pencapaian ini menjadi tonggak baru. Eala adalah petenis Filipina pertama yang menembus babak keempat turnamen Grand Slam. Sebelumnya, ia belum pernah menjadi unggulan, belum pernah mencapai putaran ketiga, dan belum pernah mengalahkan pemain peringkat 10 besar dunia di ajang sebesar ini. Kemenangan ini sekaligus menghentikan upaya Swiatek menjadi petenis putri pertama yang mempertahankan gelar Wimbledon sejak Serena Williams pada 2016.
Pengakuan dari Sang Juara Bertahan
Swiatek, yang tampil penuh perjuangan, memberikan pujian untuk lawannya. “Alexandra bermain lebih berani pada momen-momen penting,” jelasnya.
Ia juga mengakui kesulitan yang dihadapinya sepanjang pertandingan. “Saya berusaha tetap fokus pada set kedua, tetapi servisnya semakin lambat sehingga semakin sulit untuk saya antisipasi,” ungkapnya.
Editor: Annisa Rachmad
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pemerintah Genjot Food Estate Kalteng dengan Pendekatan Baru, Terapkan Manajemen Risiko Lintas Sektor
Ribuan Suporter Prancis Padati Stadion Philadelphia, Optimis Mbappe Bawa Kemenangan atas Paraguay
Prancis Kehilangan Tchouameni karena Cedera, Duet Kone-Rabiot Jadi Andalan Hadapi Paraguay di 16 Besar Piala Dunia 2026
Ketua DPRD TTU: Dokter Icha Mengaku Tiga Kali Coba Bunuh Diri Akibat Tekanan dan Intimidasi