PARADAPOS.COM - Harga minyak dunia bergerak datar sepanjang pekan ini, ditopang oleh optimisme pelaku pasar terhadap kelanjutan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pada perdagangan akhir pekan, harga Brent berjangka naik tipis 14 sen atau 0,19 persen ke posisi USD71,94 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat sembilan sen atau 0,13 persen menjadi USD68,78 per barel. Pergerakan ini terjadi di tengah volume perdagangan yang relatif sepi akibat libur Hari Kemerdekaan AS, serta harapan investor agar Selat Hormuz segera beroperasi penuh setelah konflik berkepanjangan.
Harapan di Tengah Ketegangan
Para pedagang masih mencermati perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran. Sejumlah analis menilai bahwa meskipun ada kemajuan, proses negosiasi tetap berjalan di atas es tipis. Seperti yang diungkapkan oleh analis Commerzbank, optimisme pasar saat ini sangat bergantung pada pembicaraan damai yang terus berlangsung.
"Proses pembuatan kesepakatan AS-Iran tetap rapuh tetapi berlanjut untuk saat ini, karena pertanyaan tentang tarif dan administrasi Selat Hormuz tetap kontroversial," tulis analis Citi dalam sebuah catatan riset.
Menariknya, para pengamat melihat bahwa kedua belah pihak memiliki insentif yang kuat untuk tidak meninggalkan meja perundingan. "Kami memperkirakan MoU (nota kesepahaman) akan tetap berlaku, bukan karena kepercayaan tiba-tiba muncul, tetapi karena insentif untuk membatalkannya sangat rendah bagi kedua belah pihak," lanjut analis Citi.
Ketidakpastian di Selat Hormuz Masih Tinggi
Meskipun beberapa pengiriman sudah mulai berjalan kembali melalui Selat Hormuz sesuai kesepakatan awal, situasi di lapangan masih jauh dari normal. Ketegangan kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan akhir pekan lalu, dipicu oleh insiden Iran yang menyerang sebuah kapal kargo.
Di sisi produksi, negara-negara Teluk mulai menggenjot output mereka. Data survei Reuters menunjukkan bahwa produksi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada bulan Juni melonjak hingga 3,3 juta barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya. Kuwait menjadi salah satu contoh paling mencolok, di mana produksinya meroket menjadi 1,65 juta barel per hari pada Juni, dari sebelumnya hanya 580 ribu barel per hari pada Mei, menurut sumber yang dekat dengan masalah tersebut.
Pasokan Membludak, Permintaan Lesu
Lonjakan pasokan dari kawasan Teluk mulai terlihat nyata. Setidaknya lima kapal tanker super bermuatan total 10 juta barel minyak Saudi telah berhasil meninggalkan Selat Hormuz. Saudi Aramco bahkan disebut telah beralih dari kontrak jangka panjang ke penetapan harga spot demi mempercepat penjualan di pasar Asia, menurut sumber perdagangan dan data pengiriman.
"Secara keseluruhan, pemulihan pasokan di Timur Tengah melampaui ekspektasi awal kami sementara permintaan impor yang tertekan oleh Tiongkok tetap lemah," ujar Rory Johnston, pendiri buletin Commodity Context.
Akibatnya, struktur pasar minyak pun berubah drastis. Dari sebelumnya berada dalam kondisi "backwardation"—di mana harga kontrak jangka pendek lebih tinggi dari jangka panjang—kini pasar beralih ke "contango". Kondisi ini mencerminkan ekspektasi pelaku pasar bahwa pasokan justru akan melimpah dalam waktu dekat. Indikasinya terlihat jelas: harga minyak mentah Brent untuk pengiriman segera saat ini diperdagangkan di bawah kontrak untuk pengiriman hingga enam bulan ke depan, menandakan adanya kelebihan pasokan jangka pendek di pasar.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Gunung Lewotobi Laki-Laki Erupsi, Kolom Abu Capai 1.400 Meter dan Hujan Kerikil Landa Sejumlah Desa
Polresta Yogyakarta Tetapkan 14 Pengasuh Baru sebagai Tersangka Kekerasan di Daycare Little Aresha, Total Jadi 27 Orang
Penyaluran PKH, BPNT, dan TPG Dimulai Juli 2026, Harga BBM Diesel Resmi Turun
JPMorgan Revisi Target Harga Emas Jadi USD4.500 per Ons, Suku Bunga Tinggi Jadi Penghambat