Paus Leo XIV Serukan Pendekatan Lebih Manusiawi dalam Krisis Migrasi saat Kunjungi Lampedusa

- Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:50 WIB
Paus Leo XIV Serukan Pendekatan Lebih Manusiawi dalam Krisis Migrasi saat Kunjungi Lampedusa
PARADAPOS.COM - Paus Leo XIV mengunjungi Pulau Lampedusa, Italia, pada Sabtu, 4 Juli 2026, untuk menyerukan pendekatan yang lebih manusiawi dalam menangani krisis migrasi global. Dalam kunjungan yang bertepatan dengan peringatan 250 tahun Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, Paus pertama kelahiran AS itu mendesak para pemimpin Eropa dan Amerika Serikat untuk mengedepankan solidaritas ketimbang kebijakan penangkalan terhadap para migran. Ia memilih Lampedusa, yang dikenal sebagai salah satu pintu masuk utama migran ke Eropa, sebagai lokasi simbolis untuk menyampaikan pesan tersebut.

Pesan Solidaritas di Tengah Kebijakan Perbatasan yang Semakin Ketat

Kunjungan ini berlangsung kurang dari dua pekan setelah Uni Eropa menyetujui aturan migrasi baru yang kontroversial. Aturan tersebut memperluas kewenangan penahanan migran serta membuka peluang pembentukan pusat deportasi di luar wilayah blok tersebut. Di tengah iklim kebijakan yang semakin keras, Paus Leo XIV justru menawarkan perspektif yang berbeda. "Dari sudut Eropa yang terpencil di Laut Mediterania ini, kita dapat melihat dengan lebih jelas besarnya tantangan yang ditimbulkan fenomena migrasi bagi masyarakat Eropa," ujarnya kepada warga dan para peziarah yang berkumpul di pulau tersebut. Ia menegaskan bahwa para migran harus dipandang sebagai manusia yang membutuhkan perlindungan, bukan semata-mata sebagai tantangan keamanan. Menurutnya, Eropa mampu menangani persoalan migrasi melalui kebijakan yang "menerima, melindungi, mendukung, dan mengintegrasikan para migran", sekaligus membantu negara-negara asal agar masyarakat tidak terpaksa meninggalkan tanah air mereka.

Mengenang Tragedi Laut Mediterania

Kunjungan Paus Leo XIV ke Lampedusa mengingatkan banyak pihak pada lawatan pertama mendiang Paus Fransiskus di luar Roma pada 2013. Saat itu, Fransiskus juga memilih Lampedusa untuk menyoroti tragedi para migran yang menyeberangi Laut Mediterania. Kini, lebih dari satu dekade kemudian, Leo XIV melanjutkan tradisi kepausan tersebut dengan pesan yang tak kalah mendesak. Selama berada di pulau itu, ia berdoa di makam para migran yang meninggal saat mencoba menyeberang dari Afrika Utara menuju Eropa. Ia juga mengunjungi monumen Gateway to Europe dan bertemu dengan sebuah keluarga migran. Dalam misa terbuka yang digelar di pulau tersebut, Paus membandingkan penderitaan para migran dengan kisah orang Samaria yang baik hati dalam Injil. "Di sini, Anda tidak hanya melihat satu, tetapi ribuan manusia yang dirampok, diperlakukan dengan kejam, lalu ditinggalkan dalam keadaan hampir mati," ujarnya. Ia juga memberikan penghormatan kepada para migran yang meninggal di laut dan mengatakan kehadiran mereka menjadi panggilan bagi hati nurani masyarakat Eropa.

Lampedusa: Gerbang Eropa yang Penuh Ironi

Lampedusa, yang berjarak sekitar 145 kilometer dari Tunisia, telah lama menjadi pusat perdebatan mengenai migrasi di Eropa. Pulau kecil ini menjadi saksi bisu dari ribuan kisah harapan dan keputusasaan. Menurut data Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR), lebih dari 14.000 migran tiba di Italia pada paruh pertama tahun ini, dengan hampir 60 persen di antaranya mendarat di Lampedusa. Sebagian besar memulai perjalanan dari Libya. Di tengah meningkatnya kebijakan pengendalian perbatasan dan deportasi di berbagai negara Eropa maupun Amerika Serikat, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Lampedusa yang selama ini menerima para migran dan mendukung operasi penyelamatan di laut. Ia menyebut sikap tersebut sebagai "keajaiban belas kasih". Pulau yang sunyi itu, dengan ombak Mediterania yang menghantam karang-karangnya, seolah menjadi saksi atas dua realitas yang bertolak belakang: di satu sisi, kebijakan yang semakin menutup pintu, dan di sisi lain, panggilan kemanusiaan yang tak pernah padam.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar