PARADAPOS.COM - Di sudut persimpangan 1927 S 20th Street, Philadelphia, seorang perempuan asal Bondowoso, Jawa Timur, bernama Kristine Jauwana—akrab disapa Cie Siang—menghidupkan kembali cita rasa nusantara lewat Warung Filadelphia. Sejak 2024, warung sederhana ini menjadi jembatan budaya antara Indonesia dan Amerika Serikat, tidak hanya melalui menu seperti nasi padang, sate, dan rujak cingur, tetapi juga lewat keramahan khas yang ditawarkan Cie Siang kepada setiap pelanggannya. Dengan harga mulai dua hingga 22 dolar AS untuk makanan, dan satu hingga tujuh dolar AS untuk minuman, tempat ini mampu menarik warga lokal dan diaspora Indonesia yang merindukan masakan kampung halaman.
Menyapa Pelanggan, Misi di Balik Senyuman
Bagi Cie Siang, menyapa setiap tamu yang duduk di meja bukanlah sekadar rutinitas. “Bagaimana, cocok makanannya?” ujarnya ramah, satu per satu. Ia mengaku bahwa sapaan ini adalah alat untuk mendapatkan respons langsung dari konsumen, sekaligus memperbaiki mutu hidangan. Namun, ada misi yang lebih dalam: memperkenalkan Indonesia seutuhnya kepada masyarakat Philadelphia.
Dengan pendekatan emosional ini, Warung Filadelphia menampilkan dua sisi positif negeri asalnya. Pertama, makanan dan minuman menjadi duta terbaik untuk mempererat hubungan antarbangsa. Kedua, keramahan yang ditawarkan membuat pelanggan merasa seperti pulang ke rumah. “Saya tidak ingin mereka yang ke sini cuma makan. Kalau bisa, mereka dan saya bisa menambah kenalan, dengan mengobrol,” tutur Cie Siang.
Dari Sayap Ayam hingga Rujak Cingur
Perjalanan memperkenalkan lidah nusantara tidaklah mudah. Cie Siang mengakui bahwa tekstur, bumbu, dan karakter hidangan Indonesia awalnya sulit diterima warga Philadelphia. Saat warung ini pertama kali berdiri pada 2024, ia menjual sayap ayam atau chicken wings sebagai umpan. “Begitu mereka masuk ke sini, kami menawarkan banyak pilihan makanan Indonesia. Mereka kemudian mencoba dan, puji Tuhan, ternyata suka,” jelasnya.
Kini, menu yang disajikan beragam: nasi padang, tahu telor, sate, bakso, sayur asem, sop buntut, rujak cingur, hingga urap. Minumannya pun tak kalah khas, seperti wedang jahe, jamu kunyit asem, es campur, dan teh hangat. Untuk menjaga keaslian rasa, Cie Siang bahkan mengimpor bumbu dari Indonesia, terutama untuk rendang. “Kerupuk-kerupuk juga dari Indonesia,” katanya.
Perjalanan Panjang Sejak 2012
Warung Filadelphia tidak lahir dalam semalam. Cie Siang hijrah ke Amerika Serikat pada 2002, mengikuti tunangan sambil mencari stabilitas ekonomi. Di sana, ia melihat restoran khas Vietnam dan Thailand sudah menjamur, sementara restoran Indonesia masih langka. Pada 2012, ia memberanikan diri membuka jasa katering kecil-kecilan. Rupanya, masakannya disukai dan menyebar ke berbagai lokasi di AS.
Para pelanggan setia kemudian mendorongnya untuk membuka restoran agar masyarakat Indonesia di Philadelphia lebih mudah menemukan masakan kampung halaman. Sejalan dengan peningkatan penjualan, Cie Siang mencari tempat dan mewujudkan mimpinya pada 2024. Dalam proses pendirian, ia tidak mengalami kesulitan berarti. Pemerintah setempat mendukung selama tidak melanggar aturan. “Apalagi saya perempuan. Mereka lebih menghargai saya,” tuturnya.
Suasana Sederhana, Pelayanan Hangat
Warung yang tergolong sederhana ini cukup mencolok karena berada tepat di pojok persimpangan. Dengan kapasitas maksimal 20 pelanggan, tempat ini buka setiap hari dari pukul 11.00 siang hingga 20.00 malam. Di dapur, hanya tiga orang yang bahu-membahu, termasuk Cie Siang dan ibunya. Ia pun merangkap sebagai koki dan kasir, terutama saat ramai.
Salah satu pengunjung, Jessica, warga Jakarta yang tengah berada di Philadelphia, mengaku singgah karena bosan dengan makanan AS yang dinilainya hambar. Makan di Warung Filadelphia membuatnya menuntaskan rindu akan masakan Indonesia. “Rasanya pun enak,” ucapnya.
Rencana Masa Depan dan Tantangan
Pelan-pelan, nama Warung Filadelphia mulai menancap. Banyak permintaan datang untuk membuka cabang di New Jersey, Maryland, hingga Las Vegas. Namun, Cie Siang mengaku belum mampu melakukannya karena jarak yang jauh dari Philadelphia dan keterbatasan tenaga kerja. “Soal buka di tempat lain, kami masih melihat perkembangannya. Buat apa punya restoran besar, tetapi tidak ada pelanggan?” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Warung Filadelphia sudah melebarkan sayap ke bisnis daring, berjualan melalui laman web dan aplikasi makanan. Di sela lelah dan perjuangannya, walau tidak selalu disampaikan secara gamblang, diaspora Indonesia seperti Cie Siang tidak pernah berhenti mencintai negara kelahirannya. Tentu dengan caranya sendiri-sendiri.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Lima Destinasi Wisata Andalan di Lembang, dari Farmhouse hingga The Lodge Maribaya
MUI: Zina Tak Sekadar Hubungan Fisik, Mata hingga Hati Juga Bisa Berzina
Paus Leo XIV Serukan Pendekatan Lebih Manusiawi dalam Krisis Migrasi saat Kunjungi Lampedusa
Persija Resmi Perpanjang Kontrak Witan Sulaeman Tiga Musim, Shin Tae-yong Jadi Faktor Kunci