PARADAPOS.COM - Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Rabu, 15 Juli 2026, didorong oleh eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran. Peningkatan ketegangan ini terjadi setelah AS melancarkan serangan militer baru dan beredar laporan bahwa pemerintahan Donald Trump tengah mempertimbangkan pengerahan pasukan darat di dekat Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling kritis di dunia. Lonjakan ini menandai reli terbesar dalam lebih dari sebulan terakhir, dengan harga acuan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masing-masing menyentuh level USD85,58 dan USD80,38 per barel.
Serangan Balasan dan Ancaman di Selat Hormuz
Ketegangan di kawasan Teluk mencapai titik didih baru setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengkonfirmasi telah melancarkan dua putaran serangan pada hari yang sama. Sasaran operasi ini, menurut pernyataan resmi, adalah fasilitas militer Iran yang digunakan untuk mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Komandan CENTCOM, Brad Cooper, sebelumnya mengungkapkan bahwa dalam sepekan terakhir saja, Iran telah menyerang tujuh kapal komersial. "Akibatnya, hampir selusin awak sipil tewas, hilang, atau terluka," jelasnya dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa.
Situasi semakin memanas setelah laporan dari Wall Street Journal, yang mengutip sumber pejabat AS, menyebutkan bahwa Presiden Trump tengah mengkaji opsi operasi militer yang lebih luas. Rencana tersebut mencakup intensifikasi serangan udara, pengerahan pasukan darat untuk merebut pulau-pulau strategis milik Iran di dekat Selat Hormuz, hingga pemboman terhadap situs-situs yang diduga kuat menjadi pusat aktivitas nuklir rahasia.
Retorika keras juga keluar langsung dari Gedung Putih. Dalam wawancara dengan Fox News pada hari Selasa, Trump memberikan peringatan terbuka: "Kita akan menghancurkan semua pembangkit listrik mereka, kita akan menghancurkan semua jembatan mereka, kecuali mereka mau duduk di meja perundingan dan bernegosiasi."
Keeseokan harinya, saat ditanya apakah ia akan memberikan tenggat waktu bagi Iran sebelum melancarkan serangan terhadap infrastruktur sipil, Trump menjawab singkat. "Saya tidak suka memberi tenggat waktu, tetapi mereka cukup tahu—mereka tahu ceritanya. Mereka sebaiknya bersikap baik," ujarnya.
Proyeksi Harga dan Risiko Pasar Global
Para analis dari Goldman Sachs menilai bahwa situasi ini membawa risiko dua sisi terhadap proyeksi harga minyak. Mereka masih mempertahankan perkiraan harga Brent sebesar USD80 per barel pada kuartal IV 2026 dan USD75 per barel pada 2027. Namun, mereka mengakui bahwa dalam jangka pendek, risiko lebih condong ke atas. "Risiko serangan lebih lanjut terhadap kapal tanker dan infrastruktur energi Timur Tengah telah meningkat," tulis mereka dalam sebuah catatan riset.
Dalam skenario terburuk, Goldman Sachs memproyeksikan Brent bisa melonjak hingga lebih dari USD110 per barel pada akhir 2026 jika aliran minyak dari Teluk terus terhambat. Sebaliknya, harga bisa ambrol ke kisaran USD60-an jika aliran minyak pulih cepat dan permintaan global mendingin akibat harga bahan bakar ritel yang tinggi.
Tekanan pada Pasokan Domestik AS
Di luar faktor geopolitik, data dari Administrasi Informasi Energi (EIA) AS menunjukkan tekanan tambahan pada pasokan. Persediaan minyak mentah komersial AS, tidak termasuk Cadangan Minyak Strategis (SPR), tercatat turun sebesar 1,7 juta barel pada pekan yang berakhir 10 Juli. Angka ini sedikit lebih rendah dari perkiraan pasar yang sebesar 1,8 juta barel.
Yang lebih mengkhawatirkan, total persediaan minyak mentah komersial saat ini berada pada level terendah dalam delapan tahun terakhir. Jika dihitung bersama dengan stok di SPR, penurunan mencapai 4,6 juta barel pada pekan yang sama, menjadikan total keseluruhan hanya 726,2 juta barel. Angka tersebut merupakan level terendah yang pernah tercatat sejak Mei 1984.
Artikel Terkait
IHSG Berbalik Melemah di Awal Perdagangan, Investor Wait and See Sentimen Geopolitik
Dolar AS Terus Melemah Setelah Data Inflasi Produsen Juni Tunjukkan Pendinginan
Koperasi Merah Putih Mulai Beroperasi di Jakarta Timur, Raup Untung Tipis Lewat Efisiensi Pasokan
Kualitas Udara di Jabodetabek Memburuk, Kadar PM2,5 Tiga Kali Lipat dari Ambang Aman WHO