Menteri PU Dody Hanggodo Disorot Usai Video Viral Tak Jabat Tangan dan Polemik Perjalanan Dinas ke New York

- Rabu, 15 Juli 2026 | 15:50 WIB
Menteri PU Dody Hanggodo Disorot Usai Video Viral Tak Jabat Tangan dan Polemik Perjalanan Dinas ke New York
PARADAPOS.COM - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang memperlihatkan gesturnya saat kunjungan kerja viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Dody terlihat tidak menyambut uluran tangan seorang pria yang hendak berjabat tangan, memicu beragam reaksi dari warganet. Peristiwa ini terjadi di tengah polemik lain yang membayangi sang menteri, yakni soal rencana perjalanan dinas ke New York yang melibatkan nama anggota keluarganya.

Gestur yang Viral

Video yang beredar luas di platform Instagram itu memperlihatkan Dody baru saja turun dari pesawat. Ia berjalan menghampiri sejumlah pihak yang sudah menunggu. Dalam suasana penyambutan, Dody tampak menerima pengalungan kain dan menyalami perempuan yang mengenakannya. Namun, perhatian publik justru tertuju pada momen berikutnya. Seorang pria mengulurkan tangan untuk bersalaman, tetapi Dody tidak menyambutnya. Ia terus berjalan meninggalkan pria tersebut. Potongan video itulah yang kemudian memicu perdebatan. Sebagian warganet menilai gestur tersebut sebagai sikap yang kurang pantas. Namun, tidak sedikit pula yang mengingatkan agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dari video yang belum diketahui konteks utuhnya.

Polemik Perjalanan ke New York

Sebelum insiden gestur itu ramai, nama Dody Hanggodo sudah lebih dulu menjadi bahan perbincangan. Sebuah dokumen yang diklaim sebagai surat dinas Kementerian PU ke Amerika Serikat beredar di media sosial. Surat itu memuat nama istri Dody, Irma Hermawati, dan putrinya, Aurellia Tsabitha, sebagai bagian dari rombongan agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 13–19 Juli 2026. Yang kemudian menarik perhatian adalah penggunaan paspor diplomatik oleh Irma, sementara sang putri menggunakan paspor biasa. Surat tersebut ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kementerian PU, Apri Artoto. Menanggapi polemik yang berkembang, Apri memberikan klarifikasi. Ia membantah anggapan bahwa perjalanan keluarga Menteri PU akan dibiayai menggunakan uang negara. "Perlu saya tegaskan di sini, untuk pembiayaan terhadap keluarga, itu tidak akan menggunakan dana APBN. Kalau memang terjadi ada pemberangkatan dari anggota keluarga, maka pembiayaan akan menggunakan dana pribadi," kata Apri. Ia menjelaskan bahwa pencantuman nama istri dan anak Dody dalam surat delegasi semata-mata untuk keperluan pengurusan visa melalui Kementerian Luar Negeri. Dokumen yang beredar, lanjutnya, masih berupa rencana perjalanan dan belum direalisasikan. "Terkait di dalam list itu ada anggota keluarga, itu memang di dalam komunikasi kami dengan Kementerian Luar Negeri dalam rangka pengurusan visa, itu sebaiknya memang dijadikan di dalam satu daftar," ujarnya. Apri juga menerangkan bahwa penggunaan paspor diplomatik oleh istri pejabat yang sedang menjalankan tugas dinas diperbolehkan sesuai ketentuan yang berlaku. "Secara aturan, spouse dari pejabat yang dinas itu boleh menggunakan paspor diplomatik mengikuti suami," ungkapnya. Meski klarifikasi telah disampaikan, dokumen itu tetap memicu spekulasi. Sebab, jadwal agenda dinas tersebut bertepatan dengan laga final Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Stadion MetLife, New Jersey, pada 19 Juli 2026. Lokasi stadion yang tidak jauh dari New York turut memperkuat asumsi publik.

Profil Dody Hanggodo

Di tengah berbagai sorotan, penting untuk melihat latar belakang sang menteri. Dody Hanggodo lahir di Mojokerto, Jawa Timur, pada 7 Februari 1966. Ia adalah seorang insinyur dan pengusaha yang dilantik sebagai Menteri Pekerjaan Umum dalam Kabinet Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto pada 21 Oktober 2024. Dalam kehidupan keluarga, Dody dikenal sebagai ayah dari Aushaf Fajr Herdiansyah, tokoh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Putranya itu sempat dikabarkan mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Nganjuk pada Pilkada 2024. Riwayat pendidikannya cukup panjang. Dody memulai pendidikan di SD Rajawali Banjarmasin, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 2 Temanggung, dan SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Ia kemudian menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus pada 1989 dengan gelar Sarjana Teknik Perminyakan. Tiga tahun berselang, ia meraih gelar Magister Petroleum Engineering dari University of Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat. Karier profesional Dody dimulai sebagai Petroleum Engineer di ASAMERA Oil Co. pada 1989–1990. Ia kemudian menjabat sebagai Oil Field Production Supervisor hingga 1995 dan sempat berkarier di sektor perbankan sebagai Assistant Vice President Citibank N.A. pada periode 1993–1998. Pengalaman di dunia usaha juga tidak kalah panjang. Dody pernah menjabat Executive Vice President Marketing & Business Development PT Dual Samudera Perkasa pada 2007–2011 sebelum akhirnya terjun ke dunia politik. Ia bergabung dengan Partai Demokrat dan kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat periode 2025–2030. Selain itu, ia juga dipercaya sebagai Dewan Pembina Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar