BNPB Targetkan Tanggap Darurat Gempa NTT Rampung dalam 2-3 Pekan

- Senin, 17 Agustus 2026 | 02:00 WIB
BNPB Targetkan Tanggap Darurat Gempa NTT Rampung dalam 2-3 Pekan

PARADAPOS.COM - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan fase tanggap darurat gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) rampung dalam 2–3 pekan. Target ini disampaikan Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers daring pada Minggu, 16 Agustus 2025. Pemerintah memastikan tim gabungan lintas kementerian/lembaga telah dikerahkan, dengan fokus utama pada pencarian korban, pemenuhan logistik, serta pendataan kerusakan yang mulai berjalan di lapangan.

Hari-hari pertama pascagempa menjadi ujian nyata bagi koordinasi di lapangan. Di tengah kondisi yang masih dinamis, pemerintah pusat dan daerah bahu-membahu mempercepat penanganan. Namun, semua pihak sadar bahwa waktu bukanlah satu-satunya penentu; situasi di lokasi bencana bisa berubah sewaktu-waktu.

Target Waktu yang Fleksibel

Dalam keterangannya, Aam—sapaan akrab Abdul Muhari—mengungkapkan bahwa target penyelesaian tanggap darurat tersebut merupakan hasil rapat koordinasi pagi harinya. Meski optimistis, ia memberi catatan penting.

“Tim gabungan dari pemerintah pusat, lintas kementerian/lembaga menargetkan fase tanggap darurat bisa kita selesaikan dalam 2–3 minggu ke depan,” kata Aam.

“Tentu saja ini sangat tergantung dengan dinamika yang kita hadapi di lapangan. Tetapi hasil rapat koordinasi tadi pagi, di awal kita menetapkan target supaya tanggap darurat ini tidak terlalu lama dan kita bisa nanti langsung masuk ke fase transisi darurat,” imbuhnya.

Artinya, angka 2–3 pekan itu bukan harga mati. Jika ditemukan kondisi tak terduga—entah soal aksesibilitas atau kebutuhan korban—target bisa direvisi. Yang jelas, pemerintah ingin segera beralih dari fase darurat ke masa transisi agar pemulihan berjalan lebih cepat.

Status Tanggap Darurat di Daerah

Di tingkat kabupaten, status tanggap darurat sudah lebih dulu diberlakukan. Kabupaten Manggarai, misalnya, telah menetapkan status tersebut untuk durasi 90 hari. Sementara itu, Kabupaten Manggarai Timur masih dalam proses penetapan dengan rencana durasi 14 hari. Adapun untuk level provinsi, penetapan status tanggap darurat NTT juga tengah diproses oleh otoritas terkait.

Perbedaan durasi ini menunjukkan bahwa dampak gempa tidak merata. Ada wilayah yang membutuhkan penanganan lebih lama, sementara yang lain relatif lebih cepat pulih. Pemerintah tampaknya ingin memetakan kebutuhan secara lebih presisi sebelum mengambil langkah berikutnya.

Fokus pada Pendataan Kerusakan

Selain evakuasi dan logistik, pemerintah mulai menyentuh aspek lain yang tak kalah penting: pendataan kerugian materiil. Langkah ini dinilai krusial untuk merancang strategi pemulihan jangka panjang.

“Kita harapkan di lapangan pemerintah daerah, dibantu oleh personel dari pemerintah pusat, juga sudah bisa melakukan pendataan dan identifikasi kerugian materiil, terutama berkaitan dengan rumah rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat,” ujarnya.

Data kerusakan ini akan menjadi fondasi untuk menentukan langkah selanjutnya. Menurut Aam, identifikasi sejak dini akan membantu pemerintah mempersiapkan tahapan transisi dan rekonstruksi secara lebih efektif.

“Ini sangat penting supaya proses early recovery nantinya bisa kita lakukan, kita percepat, dan kita akselerasi,” katanya.

Posko dan Logistik Disiagakan

Pada hari kedua pascagempa, BNPB bergerak cepat. Atas arahan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), dibuka Posko Pendamping Nasional di Labuan Bajo dan Posko Taktis Lapangan di Maumere. Media Center juga telah disiapkan di Kantor Bupati Manggarai Barat untuk memastikan arus informasi berjalan transparan.

“Kita harapkan ini bisa menjadi Posko Nasional selama fase tanggap darurat berlangsung untuk benar-benar bisa mendampingi pemerintah daerah supaya fase tanggap darurat ini bisa kita efektifkan dan optimalkan,” terang Aam.

Di sisi logistik, pemerintah menyiapkan Posko Logistik Nasional di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Adapun Posko Penerimaan Logistik Utama berada di Bandara Labuan Bajo, dengan Posko Logistik Pendukung di Maumere. Rantai pasok ini diharapkan mampu menjangkau wilayah terdampak secara lebih merata dan tepat sasaran.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar