Klub Sambut Indonesia Womens League 2026 sebagai Momentum Bangun Ekosistem Sepak Bola Wanita

- Senin, 17 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Klub Sambut Indonesia Womens League 2026 sebagai Momentum Bangun Ekosistem Sepak Bola Wanita

PARADAPOS.COM - Jakarta, 14 Agustus 2026. Gelaran perdana Indonesia Women's League (IWL) yang dijadwalkan bergulir pada 17 Oktober 2026 di Stadion Soemantri Brojonegoro, Kuningan, Jakarta, mendapat respons positif dari klub-klub peserta. Kompetisi ini dinilai sebagai momentum strategis untuk membangun ekosistem sepak bola wanita yang berkelanjutan, profesional, dan memiliki prospek bisnis yang semakin kuat ke depannya. Sambutan hangat datang dari para petinggi klub, yang melihat turnamen ini bukan sekadar ajang bertanding, melainkan sebuah titik tolak bagi masa depan pesepak bola putri Tanah Air. Setelah sekian lama menantikan kepastian kompetisi, kehadiran IWL akhirnya memberikan secercah harapan baru bagi regenerasi atlet wanita di Indonesia. Persita: Membuka Jalan Karier bagi Generasi Muda Commercial and Operational Director Persita, Evelyn Chaty, menyampaikan bahwa kehadiran IWL merupakan langkah yang sangat dinantikan. Menurutnya, kompetisi ini bukan hanya menyediakan panggung bagi para pemain untuk beraksi, tetapi juga membuka jalur karier yang lebih jelas bagi generasi muda putri yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional. “Hadirnya Indonesia Women's League merupakan langkah yang sangat penting bagi perkembangan sepak bola wanita di Indonesia,” ujar Evelyn di Jakarta, Jumat (14/8/2026). Ia menilai para pemain kini memiliki kesempatan nyata untuk mengejar mimpi. Bagi Persita, keikutsertaan di IWL adalah bagian dari upaya kolektif meletakkan fondasi ekosistem sepak bola wanita nasional, bukan semata mengikuti kompetisi anyar. Evelyn menegaskan bahwa pengembangan sepak bola wanita adalah perjalanan panjang yang tidak bisa diukur hanya dari satu musim. Regulasi dan kebijakan kompetisi pun dinilainya perlu berpihak pada keberlanjutan klub, terutama dari sisi operasional dan finansial. Ia juga mendukung sistem drafting pemain untuk menciptakan pemerataan kualitas di antara enam tim peserta, selama penerapannya transparan, adil, dan memberikan kesempatan yang setara. Format Terpusat: Efisiensi Biaya dan Daya Tarik Sponsor Dari sisi penyelenggaraan, konsep centralized stadium di Stadion Soemantri Brodjonegoro dinilai realistis untuk musim perdana. Format terpusat ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi, memastikan kualitas lapangan yang konsisten, mempermudah koordinasi pertandingan, dan mengurangi kompleksitas logistik yang kerap menjadi kendala. Persita sendiri berkomitmen menyediakan lingkungan profesional bagi pemain, mencakup aspek kontrak, fasilitas latihan, medis, nutrisi, hingga manajemen yang disesuaikan dengan tahap perkembangan klub. Pandangan senada juga datang dari Owner Persikad, Abdullah Alatas. Ia mengapresiasi keterlibatan timnya sejak awal kelahiran IWL dan menyebutnya sebagai gagasan positif dari PSSI, Erick Thohir, Vivin Cahyani, para Exco, serta I.League. “Gagasan yang positif dari PSSI, Pak Erick, Bu Vivin, para Exco dan juga I.League karena Persikad sudah dilibatkan sejak awal kelahiran IWL,” kata Abdullah Alatas. Sosok yang akrab disapa Dolly ini menilai sistem drafting sangat tepat diterapkan pada fase awal liga. Menurutnya, mekanisme ini mendukung keberlanjutan dan keseimbangan kekuatan antar tim. “Dengan drafting dan pembagian pemain timnas akan terjadi keseimbangan, serta pembinaan berkelanjutan bagi pemain-pemain muda putri,” ujarnya. Lebih lanjut, Dolly melihat format centralized stadium memiliki manfaat ganda, baik secara operasional maupun komersial. “Bermain dengan sistem centralized ini bagus dalam banyak hal. Pertama, menekan cost, kedua kita bangun ekosistem baru di Soemantri sehingga akan menjadi hub. Ketiga itu juga bagus untuk sponsor,” tutur Abdullah. Ia membayangkan format tersebut dapat menjadikan IWL layaknya sebuah festival yang memadukan pertandingan, aktivasi merek, dan kegiatan sponsor dalam satu kawasan. Persikad, lanjut Dolly, siap memenuhi standar profesional yang diminta, termasuk kontrak, gaji, mess pemain, dan program latihan yang memadai. Soal pembiayaan, subsidi dari operator dan PSSI dinilai cukup untuk menopang satu musim kompetisi. Namun, klub tetap menyiapkan strategi pemasaran guna menarik brand yang relevan. Dengan meningkatnya kualitas kompetisi serta nilai komersialnya, IWL diyakini berpotensi menjadi medium bisnis baru yang mampu berkembang mandiri dalam jangka panjang.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar