Rupiah Tertekan ke Rp17.837 per Dolar AS di Awal Perdagangan, Mata Uang Asia Kompak Menguat

- Selasa, 18 Agustus 2026 | 03:01 WIB
Rupiah Tertekan ke Rp17.837 per Dolar AS di Awal Perdagangan, Mata Uang Asia Kompak Menguat

PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, 18 Agustus 2026. Berdasarkan data pasar, Dolar AS menguat 0,21% atau 36,7 poin ke level Rp17.837,4, menekan laju rupiah setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level Rp17.813. Pelemahan ini terjadi di tengah indeks Dolar AS (DXY) yang bergerak stabil dengan kenaikan tipis 0,01% ke posisi 99,485, sementara mayoritas mata uang kawasan Asia justru menunjukkan penguatan terhadap rupiah.

Pantauan pasar pagi ini memperlihatkan tekanan jual masih mendominasi pergerakan rupiah. Kondisi ini sejalan dengan pola beberapa hari terakhir, di mana penguatan Dolar AS kerap kali menjadi pemicu koreksi mata uang garuda. Namun, yang menarik perhatian pelaku pasar adalah respons mata uang regional yang justru bergerak variatif—sebagian menguat tajam, sebagian lainnya ikut tertekan.

Mata Uang Asia Kompak Menguat

Di antara mata uang kawasan, Won Korea Selatan mencatatkan apresiasi paling tinggi terhadap rupiah. Nilai tukar Won naik 0,48% ke level 12,64, disusul Ringgit Malaysia yang menguat 0,30% ke posisi Rp4.403,52. Penguatan dua mata uang ini cukup signifikan dan menjadi indikator awal adanya pergeseran aliran dana di pasar Asia.

Mata uang Asia lainnya juga bergerak seirama. Baht Thailand menguat tipis 0,04% ke level 539,70, sementara Dolar Singapura naik 0,04% menjadi Rp13.959,89. Yen Jepang pun turut menguat 0,03% ke level 111,83. Meski kenaikannya tipis, pola ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bersifat menyeluruh dari berbagai arah.

Sebagian Mata Uang Justru Tertekan

Di tengah dominasi penguatan mata uang asing, ada beberapa yang justru melemah terhadap rupiah. Euro tercatat turun 0,05% ke level Rp20.655,0, sementara Yuan China melemah 0,08% ke level 2.644,99. Kondisi ini memberi sedikit ruang napas bagi rupiah di tengah tekanan yang cukup besar dari Dolar AS dan mata uang Asia lainnya.

Pelemahan Yuan China menarik untuk dicermati, mengingat pergerakannya sering kali menjadi sinyal bagi mata uang kawasan. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin tekanan terhadap rupiah akan sedikit mereda pada sesi perdagangan berikutnya.

Harga Emas Ikut Terkoreksi

Di pasar komoditas, harga emas dunia juga bergerak melemah. Harga emas spot (XAU/USD) turun 0,20% atau sekitar USD8,64 ke level USD4.408,11 per troy ons. Koreksi ini terjadi setelah emas sempat berada di level tinggi, dan pelaku pasar tampaknya mulai mengambil posisi wait and see terhadap arah pergerakan selanjutnya.

Koreksi emas ini menarik untuk disorot karena biasanya emas menjadi aset safe haven saat ketidakpastian meninggi. Pelemahan hari ini bisa jadi merupakan sinyal bahwa pelaku pasar mulai lebih optimistis terhadap prospek ekonomi global, atau sekadar aksi ambil untung setelah kenaikan sebelumnya.

Secara keseluruhan, pergerakan pagi ini masih didominasi oleh sentimen eksternal, terutama arah kebijakan moneter AS dan data ekonomi terbaru yang akan dirilis. Pelaku pasar tampaknya masih mencermati dinamika ini dengan hati-hati, mengingat volatilitas yang cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Para analis di lapangan menilai bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika Dolar AS terus menguat. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa faktor domestik seperti cadangan devisa dan kebijakan Bank Indonesia akan menjadi penyeimbang yang penting.

"Penguatan Dolar AS memang menjadi faktor utama yang menekan rupiah saat ini," ujar seorang pengamat pasar keuangan saat dihubungi, Selasa pagi. "Namun, kita juga perlu melihat bagaimana respons Bank Indonesia dan fundamental ekonomi domestik ke depannya."

Dengan kondisi yang masih dinamis ini, para pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan data ekonomi global yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Pergerakan rupiah pagi ini menjadi pengingat bahwa volatilitas masih akan mewarnai perdagangan dalam waktu dekat.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar