OIKN dan TNI AU Gelar Modifikasi Cuaca di IKN untuk Atasi Kekeringan

- Jumat, 21 Agustus 2026 | 15:50 WIB
OIKN dan TNI AU Gelar Modifikasi Cuaca di IKN untuk Atasi Kekeringan

PARADAPOS.COM - Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersama TNI Angkatan Udara dan BMKG resmi menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di kawasan IKN, Kalimantan Timur, pada Jumat, 21 Agustus 2026. Langkah ini diambil untuk memicu hujan buatan di tengah musim kemarau yang telah berlangsung hampir dua pekan, dengan fokus menjaga ketersediaan dan menambah volume air permukaan. Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga, menyatakan operasi ini dilakukan dengan menaburkan garam natrium klorida (NaCl) ke awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa pekan terakhir, kondisi cuaca di Kalimantan Timur memang tengah berada di titik kritis. Kawasan tersebut nyaris tidak diguyur hujan selama hampir dua minggu, membuat permukaan air di sejumlah titik mulai menurun. Situasi ini tentu menjadi perhatian serius, terutama bagi keberlanjutan pembangunan dan kebutuhan dasar di wilayah IKN.

Menabur Garam ke Langit untuk Menjaga Pasokan Air

Secara teknis, operasi ini mengandalkan penyemaian awan menggunakan garam natrium klorida. Material tersebut ditaburkan ke awan-awan yang dinilai memiliki potensi untuk menjadi hujan. Harapannya, proses ini bisa memicu turunnya hujan lebih cepat dari siklus alaminya, sehingga air permukaan di IKN dan sekitarnya dapat bertambah.

Danis Hidayat Sumadilaga menegaskan bahwa ketersediaan air menjadi prioritas utama yang harus diantisipasi sejak dini. Menurutnya, modifikasi cuaca adalah salah satu cara sederhana namun efektif untuk mengatasi kekeringan yang berpotensi mengganggu aktivitas di ibu kota baru.

"Kita mencoba melakukan modifikasi cuaca untuk secara sederhana menambah volume air permukaan yang ada di wilayah IKN dan sekitarnya," ujarnya dalam tayangan Headline News Metro TV, Jumat, 21 Agustus 2026.

Tantangan di Lapangan: Awan Langka di Musim Kemarau

Meski terdengar menjanjikan, pelaksanaan OMC di tengah musim kemarau bukanlah perkara mudah. Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan, Djoko Sumardiono, mengungkapkan bahwa tingkat keberhasilan operasi ini sangat bergantung pada ketersediaan awan di atmosfer. Secara historis, peluang keberhasilannya hanya berkisar di angka 30 persen.

"Secara historis itu 30 persen keberhasilannya bisa, karena sekarang ini musim kemarau yang memang langka awan," jelas Djoko.

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa tipisnya peluang yang ada. Namun, tim gabungan tidak tinggal diam. Saat ini, mereka terus memantau pergerakan awan dan kondisi cuaca harian secara intensif. Penyemaian garam dilakukan hanya pada waktu yang paling tepat, demi memaksimalkan hasil yang bisa didapat.

Di lapangan, koordinasi antara OIKN, TNI AU, dan BMKG menjadi kunci. Setiap hari, data cuaca dianalisis, pergerakan awan dilacak, dan keputusan cepat diambil. Semua dilakukan dengan satu tujuan: memastikan air tetap tersedia di tanah Nusantara yang baru.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar