PDHI: Merawat Hewan Peliharaan Bagian dari Upaya Jaga Kesehatan Keluarga

- Jumat, 21 Agustus 2026 | 05:25 WIB
PDHI: Merawat Hewan Peliharaan Bagian dari Upaya Jaga Kesehatan Keluarga

PARADAPOS.COM - Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V, Mirjawal, menegaskan bahwa merawat hewan peliharaan merupakan bagian integral dari upaya menjaga kesehatan keluarga dan masyarakat. Pernyataan ini disampaikan di sela-sela acara Baksos Steril Kucing Gratis di Puskeswan Setu, Kabupaten Bekasi, pada Kamis, 20 Agustus 2026. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa komitmen pemilik hewan tidak hanya diuji saat hewan sakit, tetapi juga melalui perawatan harian, kebersihan lingkungan, hingga pencegahan penyakit seperti vaksinasi dan pemberian obat cacing.

Di tengah meningkatnya tren memelihara hewan, para ahli mengingatkan bahwa keputusan ini harus dilandasi kesiapan dan tanggung jawab jangka panjang. Bukan sekadar mengikuti gaya hidup atau tren sesaat di lingkungan sekitar. Sebab, kesehatan hewan peliharaan pada akhirnya akan berkorelasi langsung dengan kesehatan orang-orang yang berinteraksi dengannya.

Kebersihan: Fondasi Utama Perawatan

Menurut Mirjawal, aspek paling mendasar yang kerap terlewat oleh pemilik hewan adalah kebersihan. Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang memelihara kucing di dalam rumah. Kebiasaan sederhana seperti rutin membersihkan kotak pasir atau litter box menjadi poin penting yang tidak boleh diabaikan.

“Yang paling sering dilupakan itu mungkin saat membersihkan litter box, lupa mencuci tangan, kemudian lupa membuang pup yang sudah menumpuk di litter box,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa setelah membersihkan tempat pembuangan kotoran tersebut, mencuci tangan dengan sabun adalah langkah wajib yang sering kali dilupakan. Tumpukan kotoran yang dibiarkan terlalu lama tidak hanya menimbulkan bau tak sedap, tetapi juga menjadi sarang bakteri yang dapat membahayakan kesehatan penghuni rumah.

Waspada Luka Tersembunyi Setelah Kucing Berkelahi

Perawatan tidak hanya berkutat pada kebersihan lingkungan, tetapi juga kondisi fisik hewan secara langsung. Salah satu situasi yang perlu diwaspadai adalah setelah kucing peliharaan terlibat perkelahian dengan kucing lain. Mirjawal menjelaskan, luka akibat gigitan atau cakaran sering kali tidak terlihat jelas dari permukaan kulit.

“Misalkan dia berantem sama temannya, habis dicakar bisa bengkak, di bawahnya isi nanah, infeksi, jadi abses. Itu sering terjadi, padahal di luarnya enggak terlihat luka,” kata Mirjawal.

Luka tusuk yang dalam dapat menutup permukaannya dengan cepat, namun meninggalkan bakteri di dalam jaringan. Kondisi ini berpotensi berkembang menjadi abses atau kumpulan nanah yang baru terdeteksi setelah muncul pembengkakan. Oleh karena itu, pemeriksaan menyeluruh pada tubuh kucing setelah berkelahi sangat dianjurkan. Jika ditemukan luka, segera bersihkan bagian tersebut. Namun, jika muncul pembengkakan atau tanda-tanda infeksi lainnya, pemeriksaan oleh dokter hewan menjadi sebuah keharusan.

Vaksinasi dan Pencegahan Penyakit

Selain kebersihan dan penanganan luka, pencegahan penyakit merupakan pilar penting lainnya dalam pemeliharaan hewan. Mirjawal mengingatkan para pemilik anjing dan kucing untuk tidak menunda jadwal vaksinasi serta pemberian obat cacing dan obat kutu secara rutin.

Ia menjelaskan, vaksinasi dasar pada anjing dan kucing umumnya dimulai saat hewan berusia sekitar dua bulan. Dosis berikutnya diberikan sekitar satu bulan setelah vaksin pertama, kemudian dilanjutkan secara berkala sesuai dengan jenis vaksin dan kondisi hewan. Jenis vaksin pun disesuaikan dengan spesies dan penyakit yang menjadi sasaran perlindungan.

Pada kucing, vaksinasi inti biasanya ditujukan untuk melindungi dari panleukopenia, calicivirus, dan rhinotracheitis. Sementara itu, untuk anjing, cakupan vaksin lebih luas, meliputi distemper, parvovirus, parainfluenza, hepatitis, coronavirus, dan leptospirosis. Yang tidak kalah penting, vaksin rabies juga wajib diberikan kepada hewan penular rabies, termasuk anjing dan kucing, sebagai bentuk perlindungan bagi hewan dan manusia di sekitarnya.

Komitmen Jangka Panjang dan Prinsip Kesejahteraan Hewan

Mirjawal menilai, keputusan untuk memelihara hewan kerap diambil tanpa pertimbangan matang. Banyak orang yang tiba-tiba ingin memelihara kucing atau anjing karena melihat teman atau tetangganya, tanpa benar-benar menyukai atau siap menghadapi konsekuensinya.

“Jangan ikut ikutan lihat teman atau tetangga piara kucing, kita ikut ikutan piara kucing. Padahal kita enggak suka. Kasihan hewannya karena harus menanggung akibat gara gara ego kita,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, ia kembali menekankan pentingnya prinsip Five Freedoms atau lima kebebasan dalam kesejahteraan hewan. Prinsip ini mencakup kebebasan dari rasa lapar dan haus, kebebasan dari ketidaknyamanan, kebebasan dari rasa sakit dan penyakit, kebebasan dari rasa takut dan tertekan, serta kebebasan untuk mengekspresikan perilaku alami. Semua aspek ini harus terpenuhi sejak awal seseorang memutuskan untuk memelihara hewan.

“Pastikan Anda piara hewan karena memang Anda siap berkomitmen,” kata Mirjawal.

Komitmen tersebut, lanjutnya, tercermin dari konsistensi dalam perawatan sehari-hari, menjaga kebersihan, melakukan pencegahan penyakit, serta sigap menangani luka. Pada akhirnya, kesehatan hewan peliharaan tidak bisa dipisahkan dari kesehatan lingkungan dan manusia yang hidup berdampingan dengannya.

“Jadi pastikan hewan sehat, keluarga dan masyarakat juga sehat,” ujarnya.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar