"Publik pun tertawa kecil karena ini bukan lompatan ideologis. Ini lompatan oportunis," ujar Guntur.
Pembelaan kepada Jokowi Dikaitkan dengan Strategi Bertahan Hidup
Guntur menilai, pembelaan vokal Ahmad Ali terhadap Presiden Jokowi bukanlah bentuk loyalitas, melainkan sebuah strategi bertahan hidup untuk mencari ruang aman secara politik. Hal ini disebutkannya sebagai respons atas sindiran Ahmad Ali yang menyinggung soal "nenek-nenek" yang masih menjabat ketua umum partai.
"Dengan situasi seperti itu, sangat mudah membaca kenapa hari ini ia menjadi pembela Jokowi paling vokal. Itu bukan soal loyalitas melainkan strategi bertahan hidup," tegas Guntur.
Guntur menyimpulkan bahwa sindiran dan suara keras Ahmad Ali bukanlah wujud keberanian, melainkan cerminan dari ketakutan yang ditutupi dengan teriakan untuk menyelamatkan citra dan sandaran politiknya saat ini.
Artikel Terkait
Eggi Sudjana Akui Keaslian Ijazah Jokowi? Klarifikasi Peradi Bersatu
Analisis APBN 2025: Penerimaan Turun, Belanja & Utang Naik, Defisit Nyentuh 2,92%
PDI Perjuangan Larang Kader Korupsi: Isi Surat Edaran & Arahan Rakernas 2026
Respons PDIP Soal Ambisi Kaesang & PSI Kuasai Jawa Tengah di Pemilu 2029