PARADAPOS.COM - Mantan diplomat Indonesia, PLE Priatna, mengungkapkan bahwa pandangan Iran terhadap pemerintah Indonesia semakin memburuk. Menurut analisisnya, Iran menilai Indonesia terlalu berpihak kepada Amerika Serikat dan Israel, suatu persepsi yang berpotensi memengaruhi hubungan bilateral dan keamanan operasional kapal-kapal Indonesia di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
Analisis Diplomat Senior Soal Dampak Persepsi Iran
Dalam sebuah wawancara dengan Forum Keadilan TV pada Minggu malam, 29 Maret 2026, Priatna, yang memiliki pengalaman bertugas di sejumlah ibu kota dunia, menjelaskan kompleksitas situasi ini. Ia menyoroti bagaimana posisi Indonesia dianggap ambigu di mata Teheran.
“Nah, kita kan seolah-olah terganjal nih. Karena BoP, karena ATR, karena kita (dianggap) terlalu pro-western, terlalu pro-AS gitu. Jadi sikap kita pun menjadi apa ya, jadi banci gitu,” tuturnya.
Dampak Langsung dan Upaya Perbaikan Hubungan
Persepsi negatif tersebut, lanjut Priatna, tidak berdiri sendiri. Ia melihat kaitannya dengan insiden penahanan dua kapal tanker milik Pertamina di Selat Hormuz beberapa waktu lalu. Meski demikian, mantan diplomat yang pernah bertugas di Beijing, Tokyo, dan Brussels ini tetap optimis. Menurutnya, hubungan baik antara Jakarta dan Teheran masih dapat diperbaiki dengan kecakapan dan inisiatif diplomasi yang tepat dari Kementerian Luar Negeri RI.
“Pintunya banyak. Kita mau kirim utusan khusus, bisa. Siapa pun bicara di mana dengan orang mana yang bisa dipercaya. Pasti masih ada atensi (dari Iran),” jelasnya.
Modal Sejarah dan Peluang Kerja Sama Strategis
Priatna menggarisbawahi bahwa Indonesia memiliki modal sejarah yang kuat. Reputasi negara dalam menggalang solidaritas dunia ketiga, melalui forum Asia-Afrika dan Non-Blok, bisa menjadi fondasi untuk membangun kembali kepercayaan. Ia bahkan membuka imajinasi tentang potensi kerja sama strategis yang bisa dijajaki jika hubungan membaik.
“Karena kita termasuk yang punya sejarah hubungan baik. Misalnya diperjelas saja sekarang buat kerja sama Indonesia-Iran. (Misalnya) pembuatan drone, pembuatan misil, pembuatan peluru-peluru yang canggih langsung dengan Iran. Tapi itu bisa dilakukan kalau hubungan itu cair antara level paling atas, (contohnya) presiden dengan presiden. Jadi persahabatan yang tulus,” imbuhnya.
Indikator Hubungan yang Belum Retak Total
Di akhir analisisnya, Priatna memberikan penilaian yang cukup berhati-hati. Ia menekankan bahwa situasi saat ini belum sampai pada titik terburuk dalam skala hubungan diplomatik. Dalam dunia diplomasi, ada indikator-indikator keras yang menjadi tanda puncak krisis.
“Saya percaya (hubungan masih baik), karena ukuran yang paling keras adalah kalau duta besarnya ditarik,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Partai Demokrat dan BMI Siapkan Langkah Hukum dan Investigasi atas Tuduhan ke AHY di YouTube
Roy Suryo Soroti Tiga Masalah Besar yang Dihadapi Ahli Forensik Rismon
Susi Sindir Imbauan Bahlil Soal Kompor: Ketahuan Ndak Pernah Masak
Partai Demokrat Tegaskan Anies Tamu Tak Diundang di Halalbihalal SBY