Pengamat Politik Pangi Syarwi Tanggapi Sindiran Sekretaris Kabinet Soal Inflasi Pengamat

- Kamis, 16 April 2026 | 00:25 WIB
Pengamat Politik Pangi Syarwi Tanggapi Sindiran Sekretaris Kabinet Soal Inflasi Pengamat

PARADAPOS.COM - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menanggapi pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengenai fenomena "inflasi pengamat" yang belakangan ramai diperbincangkan. Pangi menilai sindiran tersebut juga tertuju padanya, sebagai pengamat yang aktif mengkritisi pemerintahan. Respons ini muncul beberapa hari setelah Teddy menyoroti maraknya komentar dari para pengamat di luar bidang keahlian mereka, yang dinilai dapat mengacaukan informasi publik.

Pengamat Nilai Kritik Juga untuk Dirinya

Pangi Syarwi Chaniago, yang telah belasan tahun berkecimpung dalam analisis politik, merasa bahwa pernyataan Sekretaris Kabinet itu turut menyasar figur seperti dirinya. Ia menegaskan bahwa komentar-komentarnya selama ini selalu dilandasi oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman panjang di bidang politik, sehingga tidak termasuk dalam kategori yang dimaksud oleh Teddy.

“Saya kan sudah 17 tahun jadi pengamat. Ya kalau misalnya Teddy bilang inflasi pengamat, saya rasa, saya tidak inflasi. Karena ya background saya S1 politik, S2 politik, S3 politik ya. Kemudian jadi pengamat (politik) hampir 17 tahun. Jadi artinya saya ngomong sesuai dengan background saya,” ungkapnya dalam sebuah wawancara yang ditayangkan pada Rabu, 15 April 2026.

Dukungan dan Kritik Balik untuk Pemerintah

Di balik tanggapannya, Pangi memahami bahwa pernyataan Teddy dilatarbelakangi oleh fenomena nyata di lapangan, di mana sejumlah pengamat kerap berbicara tanpa data yang memadai atau keluar dari ranah keahliannya. Namun, ia mengingatkan bahwa kritik serupa seharusnya juga berlaku bagi jajaran pemerintahan.

“Kan yang dikritik Teddy itu kan banyak pengamat yang inflasi itu, ya datanya salah, ngomong tidak sesuai dengan bidang keilmuan. Nah akhirnya dilempar sama publik lagi, ‘menteri lu bukan the right men in the right place nih’, gitu. Artinya banyak juga menteri tidak sesuai bidang gitu, jangan hanya pengamat saja,” tegas pendiri Voxpol Center Research and Consulting ini.

Meski demikian, Pangi sepaham bahwa para pengamat memang seharusnya berbicara sesuai kompetensi. Hanya saja, menurutnya, prinsip yang sama harus diterapkan secara lebih ketat pada level pembuat kebijakan.

“Tapi saya mendukung juga memang pengamat harus sesuai dengan bidang juga, supaya ngomongnya sesuai dengan keahlian. Tapi menteri (yang lebih penting) juga harus sesuai dengan keahlian,” pungkasnya.

Asal Muasal Polemik "Inflasi Pengamat"

Polemik ini berawal dari pernyataan resmi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, pada Rabu, 10 April 2026. Saat itu, Teddy menyampaikan keprihatinannya terhadap tren yang ia sebut sebagai "inflasi pengamat", yaitu meningkatnya jumlah orang yang memberikan analisis publik meski tidak memiliki keahlian spesifik pada topik yang dibahas.

“Sekarang ini ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi banyak sekali pengamat, oke,” ujar Teddy, menyoroti potensi distorsi informasi yang bisa timbul dari kondisi tersebut.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar