Mantan Menhan Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di Usia 76 Tahun

- Minggu, 31 Mei 2026 | 23:25 WIB
Mantan Menhan Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di Usia 76 Tahun
PARADAPOS.COM - Jenderal (Purn) TNI Ryamizard Ryacudu, mantan Menteri Pertahanan dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, meninggal dunia pada Minggu, 31 Mei 2026, pukul 14.03 WIB di CICU RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Putra kelahiran Palembang, 21 April 1950 itu mengembuskan napas terakhir di usia 76 tahun setelah bergulat dengan penyakit kronis. Kepergiannya hanya berselang tiga bulan setelah mertuanya, mantan Panglima TNI dan Wakil Presiden Jenderal (Purn) Try Sutrisno, wafat pada 2 Maret 2026 lalu. Jenazah sang jenderal disemayamkan di rumah duka Cikeas, Bogor, sebelum dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta Selatan, keesokan harinya.

Darah Prajurit Sejak Lahir

Ryamizard adalah putra dari Mayor Jenderal TNI Musannif Ryacudu, seorang perwira yang namanya cukup disegani pada era Presiden Soekarno. Ia menikah dengan Nora Tristyana, putri Try Sutrisno, dan dikaruniai tiga orang anak. Pendidikan militernya dimulai di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), lulus pada 1974 dari kecabangan infanteri. Sejak itu, hampir seluruh kariernya dihabiskan sebagai perwira lapangan yang kerap bertugas di daerah operasi militer. Jabatan-jabatan strategis pernah diembannya, mulai dari Panglima Kodam V/Brawijaya, Panglima Kodam Jaya, hingga Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) pada 2000–2002. Puncak karier militernya diraih ketika dipercaya menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) periode 2002–2005. Pengalaman tempurnya yang luas membuatnya kerap dijuluki sebagai salah satu "jenderal tempur" TNI.

Dari Medan Tempur ke Panggung Politik

Setelah purnawirawan, Ryamizard tidak benar-benar meninggalkan panggung nasional. Pada era Presiden Joko Widodo, ia diangkat menjadi Menteri Pertahanan Republik Indonesia untuk periode 2014–2019. Dalam masa jabatannya, ia getol menekankan penguatan pertahanan nasional, penanggulangan terorisme, serta pembangunan industri pertahanan dalam negeri. Atas pengabdiannya, ia menerima berbagai tanda kehormatan, termasuk Bintang Mahaputera dan sejumlah penghargaan militer tingkat tinggi. Namun, sosok nasionalis yang tegas ini juga tak luput dari perdebatan. Beberapa kebijakan dan pandangannya kerap menjadi bahan diskusi hangat di kalangan pengamat pertahanan dan pegiat hak asasi manusia. Ia dikenang sebagai salah satu tokoh militer paling berpengaruh di era reformasi, yang konsisten menjaga keutuhan NKRI.

Kesan dari Seorang Jurnalis di Kamboja

Bagi para jurnalis yang pernah meliput langsung di lapangan, ada kesan mendalam yang sulit terlupakan. Saat itu, tahun 1992, Letnan Kolonel Infanteri Ryamizard Ryacudu bertugas sebagai Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 305/Kostrad. Ia memimpin Kontingen Garuda XII-B yang bermarkas di Kampong Thom, Kamboja, dalam misi perdamaian PBB (UNTAC). "Selama 10 hari berada dalam camp yang sama, sikapnya terbuka dan bersahabat. Hubungan personal pun terjalin hingga ia berpangkat jenderal bintang empat," kenang seorang jurnalis yang menjadi mitra kerjanya kala itu. Indonesia, sebagai negara sahabat, turut ambil bagian dalam pasukan perdamaian PBB di Kamboja. Selama dua tahun bertugas di daerah rawan konflik yang berbatasan dengan Thailand, nama Letkol Inf Ryamizard Ryacudu cukup harum. Pendekatannya yang humanis dengan masyarakat setempat dan para tokoh di Provinsi Kampong Thom menjadi kunci keberhasilannya. Kebetulan, di daerah konflik tersebut banyak penduduk beragama Muslim yang fasih berbahasa Melayu. Nama Proklamator RI, Ir. Soekarno, juga masih dikenang luas di Kamboja karena merupakan sahabat dekat Pangeran Norodom Sihanouk. Ketika masa tugasnya berakhir, Ryamizard dielu-elukan bak pahlawan. Pasukan yang dipimpinnya berhasil membebaskan 11 orang sandera di daerah perbatasan dengan Thailand.

Gagasan Pasukan Raider

Salah satu warisan paling signifikan dari Ryamizard adalah pembentukan pasukan Raider. Ketika menjabat sebagai Kasad pada 2003, ia menggagas unit pemukul dengan mobilitas tinggi dan kemampuan antigerilya. Tujuannya jelas: merespons ancaman separatis dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia merasa perlu adanya pasukan elite yang mampu bergerak cepat, senyap, dan tepat. Sebanyak 10 Batalyon Infanteri dari Kodam dan Kostrad dibentuk dan menjalani pelatihan ulang selama 84 hari. Kualifikasi prajurit ditingkatkan menjadi pasukan Raider, yang dibekali tiga kemampuan utama: anti-teror, lawan gerilya, dan pertempuran berkepanjangan. Selamat jalan, Jenderal.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar