"Selain distribusi ke 25 negara, buku itu akan kami kirimkan kepada kantor Human Right Watch di lima negara," kata Agus.
Tak berhenti di situ, sejumlah institusi dan tokoh penting lainnya juga menjadi target distribusi.
Agus mengungkap, lembaga seperti Amnesti Internasional di dua negara, tiga senator di Amerika Serikat, hingga Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dipastikan akan menerima salinan buku tersebut.
"Kami juga mulai menghubungi YouTuber-YouTuber internasional yang memang sangat konsen dengan masalah pemalsuan-pemalsuan identitas. Kami mengirim buku ini kepada kantor-kantor berita internasional Reuters, BBC, dan CNBC," lanjutnya.
Dugaan Intimidasi Hingga Makna 'White Paper'
Peluncuran buku di Yogyakarta diwarnai insiden yang disebut Tifa sebagai upaya pembungkaman.
Ia menyinggung soal pendingin udara (AC) dan lampu di lokasi acara yang tiba-tiba dimatikan oleh pihak manajemen saat acara baru dimulai.
"Jika kebenaran itu sudah mengeluarkan dirinya, tidak ada lagi yang bisa untuk membungkamnya. Walaupun Rektor UGM meminta AC dan lampu dimatikan kami tidak akan kepanasan," sindir Tifa.
Di dalam negeri, buku ini ditargetkan menjadi koleksi di 4.000 perpustakaan kampus, berbagai lembaga pendidikan, hingga pesantren.
Tifa menjelaskan, judul "White Paper" dipilih karena memiliki makna filosofis untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
"Maka, white paper dalam buku ini ibarat membuka diri manusia yang paling superficial, yang luarnya ditutupi kulit, yang bisa putih karena skincare, yang diubah dari hitam jadi putih, yang dibaliknya ada lapisan lemak, lapisan otot, lalu tulang, di tengahnya ada sumsum tulang, itulah makna white paper," jelas Tifa.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
Analisis APBN 2025: Penerimaan Turun, Belanja & Utang Naik, Defisit Nyentuh 2,92%
PDI Perjuangan Larang Kader Korupsi: Isi Surat Edaran & Arahan Rakernas 2026
Respons PDIP Soal Ambisi Kaesang & PSI Kuasai Jawa Tengah di Pemilu 2029
Megawati Institute Resmi Berdiri: Ketua Umum PDIP Resmikan Think Tank di HUT ke-53 Partai