Psikolog klinis Ronen Sidi dari Emek Medical Center menyoroti bahwa trauma tentara Israel tidak hanya berasal dari rasa takut, tetapi juga dari "cedera moral" (moral injury).
"Cedera moral muncul ketika tindakan di medan perang bertentangan dengan hati nurani. Banyak tentara bergulat dengan rasa bersalah karena keputusan sepersekian detik yang berujung pada korban di pihak sipil," jelas Sidi, seperti dikutip Japan Times.
Ia menambahkan, "Hidup dengan perasaan telah membunuh orang yang tidak bersalah adalah perasaan yang sangat sulit dan tidak dapat diperbaiki."
Sistem yang Kewalahan dan Hambatan Birokrasi
Upaya tentara untuk mendapatkan bantuan sering terhambat birokrasi berbelit. Mereka harus melalui proses penilaian Kementerian Pertahanan yang bisa memakan waktu berbulan-bulan, membuat banyak yang enggan melanjutkan.
"Institusi kesehatan mental di Israel kewalahan. Banyak orang tidak bisa mendapatkan terapi atau bahkan tidak menyadari bahwa tekanan mereka berkaitan dengan pengalaman di medan perang," tutur Sidi, dikutip dari The Economic Times.
Dampak Jangka Panjang dan Peringatan Para Ahli
Para ahli psikologi memperingatkan bahwa risiko bunuh diri atau menyakiti diri sendiri akan meningkat drastis jika trauma ini tidak segera ditangani. Krisis ini terjadi di tengah operasi militer berkepanjangan yang telah menewaskan puluhan ribu warga Gaza dan menyebabkan kerusakan infrastruktur masif.
Dampak perang terlihat nyata dalam kehidupan veteran seperti Paul (28), seorang ayah tiga anak yang terus-menerus waspada dan mendengar desingan peluru di pikirannya, meski telah jauh dari medan tempur.
Artikel Terkait
Necla Ozmen Klaim Putri Donald Trump, Desak Tes DNA: Fakta & Kronologi Lengkap
Debat AS vs Iran di DK PBB Memanas: Ancaman Militer dan Saling Kecam
Warganet Malaysia Khawatir Jadi Target AS Usai Unggahan Foto Satelit, Bercanda: Kami Cuma Punya Minyak Goreng!
India Desak 10.765 Warganya Segera Tinggalkan Iran, Ini Penyebab & Imbauannya