Kapal Induk USS Abraham Lincoln Siaga Serang Iran, AS Kerahkan Pesawat Tempur Tambahan
Kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan akan siap melancarkan operasi militer terhadap Iran dalam waktu 1 hingga 2 hari ke depan. Informasi ini dikutip dari laporan The New York Times yang menyoroti peningkatan ketegangan di kawasan.
Sebagai bagian dari penguatan, pasukan Amerika Serikat juga telah mengirimkan belasan pesawat tempur tambahan untuk mendukung kelompok penyerang mereka di wilayah Timur Tengah. Langkah ini semakin mengukuhkan kesiapan tempur AS.
Posisi Armada AS dan Pernyataan Presiden Trump
Sebelumnya, jaringan berita Fox News melaporkan bahwa kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah memasuki wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM) di Samudra Hindia. Pergerakan ini merupakan bagian dari antisipasi.
Presiden AS kala itu, Donald Trump, pada 22 Januari menyatakan bahwa kapal-kapal Angkatan Laut AS bergerak menuju Iran untuk berjaga-jaga. Trump menolak menghapus opsi intervensi militer, menyatakan bahwa segala kemungkinan tetap terbuka untuk menangani Tehran.
Uni Emirat Arab Tegaskan Penolakan Jadi Pangkalan Serangan
Menanggapi eskalasi ini, Uni Emirat Arab (UEA) secara tegas menolak wilayahnya digunakan untuk aksi militer terhadap Iran. Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan komitmen untuk tidak mengizinkan penggunaan wilayah udara, darat, atau perairannya untuk operasi bermusuhan, serta tidak memberikan dukungan logistik apapun.
UEA menekankan bahwa dialog, de-eskalasi, dan penghormatan hukum internasional adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan krisis, mendorong penyelesaian secara diplomatik.
Latar Belakang Ketegangan AS-Iran yang Meningkat
Ketegangan antara Washington dan Tehran kembali memanas menyusul gejolak dalam negeri Iran dan kebijakan luar negeri AS. Media AS melaporkan, pergerakan USS Abraham Lincoln ke Teluk Oman adalah antisipasi kemungkinan serangan.
Pemerintahan AS menyatakan semua opsi, termasuk militer, masih dipertimbangkan dalam menangani Iran. Di sisi lain, pejabat Iran telah memperingatkan bahwa serangan apa pun akan dibalas dengan respons yang cepat dan meluas, mengingatkan pada konflik singkat pada Juni 2025 yang melibatkan serangan drone dan rudal balasan.
Situasi ini terus dipantau secara ketat oleh komunitas internasional, dengan kekhawatiran akan potensi konflik terbuka yang berdampak luas pada stabilitas kawasan Timur Tengah.
Artikel Terkait
Spekulasi Kondisi Netanyahu Berkembang di Tengah Ketidakhadirannya dari Publik
AS Akui Keliru Abaikan Tawaran Bantuan Anti-Drone Ukraina Jelang Ketegangan dengan Iran
Hizbullah dan Iran Lancarkan Serangan Roket Besar-besaran ke Israel Utara
Paus Leo XIV Pecat Uskup San Diego Terkait Dugaan Korupsi dan Skandal Perilaku