PARADAPOS.COM - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikabarkan telah menyiapkan instruksi darurat dan rencana suksesi kepemimpinan untuk mengantisipasi kemungkinan dirinya gugur dalam konflik bersenjata dengan Amerika Serikat. Laporan eksklusif dari New York Times, yang mengutip sejumlah sumber dalam pemerintahan dan militer Iran, mengungkap bahwa instruksi tersebut justru diberikan kepada penasihat senior Ali Larijani, bukan kepada Presiden Masoud Pezeshkian. Persiapan kontingensi ini muncul di tengah tensi tinggi antara Washington dan Teheran, dengan kedua belah pihak saling mengeluarkan peringatan keras.
Rencana Darurat dan Penunjukan Kunci
Menurut laporan yang beredar, instruksi dari Ayatollah Khamenei mencakup delegasi wewenang dan rantai komando dalam situasi darurat, dengan menetapkan beberapa lapis penerus untuk posisi-posisi strategis baik di bidang militer maupun politik. Intinya, jika komunikasi terputus dan Khamenei terbunuh, proses pengambilan keputusan akan dialihkan kepada lingkaran dalam penasihatnya.
New York Times lebih lanjut mengklaim bahwa Khamenei menunjuk sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani, untuk mengambil alih urusan negara dalam skenario terburuk tersebut. Larijani, yang dikenal sebagai politisi veteran, disebut-sebut memiliki rekam jejak dalam menangani masalah sensitif seperti perundingan nuklir dan koordinasi dengan kekuatan regional, di samping perannya dalam mengelola dinamika domestik.
Postur Militer dan Peringatan Publik
Di lapangan, Iran dilaporkan telah menempatkan angkatan bersenjatanya dalam status siaga tinggi. Pengerahan kekuatan rudal di sekitar wilayah Irak dan Teluk Persia, disertai latihan militer intensif, menggambarkan kesiapsiagaan menghadapi eskalasi. Postur ini sejalan dengan pernyataan publik Khamenei yang belakangan tetap berisi tantangan, menjanjikan respons keras atas serangan apa pun.
Langkah-langkah militer ini tampaknya mencerminkan penilaian di Teheran bahwa ruang diplomasi mungkin semakin menyempit. Situasi ini diperparah oleh pernyataan dari Presiden AS Donald Trump yang, meski menyebut kesepakatan masih mungkin, tetap memberikan ancaman terselubung mengenai konsekuensi jika perundingan gagal.
Larijani: Bukan Penerus Tetap, Tapi Penjaga Krisis
Sumber-sumber yang diwawancarai menekankan bahwa penunjukan Ali Larijani tidak serta-merta menjadikannya calon penerus tetap Ayatollah Khamenei. Alih-alih, ia dilihat sebagai figur yang paling dipercaya untuk memandu negara dalam momen krisis akut. Rencana suksesi darurat ini sendiri menunjukkan betapa seriusnya pemerintah Iran memandang ancaman keamanan saat ini, sehingga mempersiapkan kontingensi hingga level tertinggi.
Dengan Washington yang tidak menutup skenario serangan militer—dari operasi terbatas hingga perang berkepanjangan—langkah Teheran ini dinilai sebagai sebuah persiapan luar biasa untuk memastikan kelangsungan kepemimpinan negara.
Pidato Menantang dari Khamenei
Ketegangan ini semakin terasa dalam pidato Ayatollah Khamenei di hadapan masyarakat Provinsi Azerbaijan Timur pada Selasa (17/2/2026). Dalam kesempatan itu, ia secara khusus menyoroti pergerakan militer AS di kawasan.
"Mereka terus bilang bahwa mereka mengirim kapal induk menuju Iran. Sebuah kapal induk adalah alat berbahaya, tapi lebih berbahaya dari kapal induk adalah senjata yang bisa mengirimnya ke dasar laut," ujarnya dengan tegas.
Khamenei juga menegaskan ketangguhan Republik Islam, menyatakan bahwa AS tidak akan pernah berhasil menggulingkan pemerintahan di Teheran. Ia mengingatkan bahwa kekuatan militer terhebat sekalipun bisa menemui kehancuran.
"Presiden AS mengatakan dalam pernyataannya baru-baru ini bahwa selama 47 tahun Amerika tak bisa melenyapkan Republik Islam: dia mengeluhkan hal itu kepada rakyatnya. Selama 47 tahun, Amerika tidak bisa melenyapkan Republik Islam. Itu pengakuan yang baik. Saya katakan, Anda (Trump), juga tidak bisa melakukan itu," tegas Khamenei.
Peringatan Resmi di PBB
Posisi keras Iran tidak hanya disampaikan di dalam negeri. Melalui saluran diplomatik resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemerintah Iran kembali menegaskan prinsipnya. Dalam surat yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB dan Dewan Keamanan pada Kamis (19/2/2026), perwakilan tetap Iran menyampaikan peringatan yang tidak kalah gamblang.
"Republik Islam Iran telah berulang kali menyatakan di tingkat tertinggi bahwa mereka tidak mencari ketegangan atau perang dan tidak akan memulai perang apa pun," bunyi surat tersebut.
"Namun, jika Iran menjadi sasaran agresi militer, kami akan menanggapi secara tegas dan proporsional dalam menjalankan haknya untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa," lanjut surat itu, seraya memperingatkan bahwa semua aset militer musuh di kawasan akan menjadi target sah.
Surat tersebut ditutup dengan pernyataan bahwa Amerika Serikat akan memikul "tanggung jawab penuh dan langsung atas konsekuensi yang tidak terduga dan tidak terkendali" dari setiap aksi militer yang dilancarkan.
Artikel Terkait
Dubes AS untuk Israel Dukung Klaim Teritorial Israel Berdasarkan Alkitab, Picu Kecaman
AS dan Iran Siagakan Pasukan, Kapal Induk USS Gerald Ford Dikerahkan ke Kawasan Rawan
Iran Ancam Balas AS Lewat PBB Jika Serangan Militer Dilancarkan
Video Trump Memejamkan Mata di Forum Perdamaian Picu Sorotan Kebugaran