Baku Tembak di Gedung Putih: Pria Bersenjata Tewas Usai Lepaskan Puluhan Tembakan, Trump Selamat

- Minggu, 24 Mei 2026 | 06:00 WIB
Baku Tembak di Gedung Putih: Pria Bersenjata Tewas Usai Lepaskan Puluhan Tembakan, Trump Selamat

PARADAPOS.COM - Kompleks Gedung Putih menjadi lokasi baku tembak pada Sabtu malam, 23 Mei 2026, ketika seorang pria bersenjata melepaskan puluhan tembakan ke arah pos pemeriksaan Secret Service. Pelaku, yang diidentifikasi sebagai Nasire Best (21), tewas setelah agen membalas tembakan. Presiden Donald Trump yang sedang berada di dalam Ruang Oval bersama para ajudan dilaporkan selamat dan tidak menjadi sasaran langsung. Peristiwa ini terjadi pukul 18.00 waktu setempat atau Minggu pukul 05.00 WIB di persimpangan Pennsylvania Avenue dan 17th Street Northwest, memicu pengamanan total dan kepanikan di kalangan staf serta jurnalis yang tengah bertugas.

Detik-Detik Mencekam di Halaman Utara

Suasana di halaman utara Gedung Putih berubah mencekam dalam sekejap. Rentetan peluru yang diperkirakan mencapai 15 hingga 30 kali tembakan memecah kesunyian petang. Sejumlah jurnalis senior yang sedang menyelesaikan laporan harian terpaksa berlari pontang-panting mencari perlindungan.

Salah satu saksi mata, koresponden ABC News Selena Wang, tengah merekam video menggunakan ponselnya saat insiden terjadi. Rekaman itu menangkap momen ketika ia merunduk ketakutan, sementara agen Secret Service berteriak memerintahkan semua orang untuk "tiarap dan berjongkok" sebelum akhirnya digiring masuk ke ruang konferensi pers.

"Kedengarannya seperti puluhan tembakan. Kami diperintahkan untuk berlari secepat mungkin ke ruang pers," ungkap Selena Wang dengan raut wajah yang masih tampak syok.

Di dalam Ruang Oval, ketegangan juga terasa. Presiden Donald Trump yang kini menginjak usia 79 tahun, sedang membahas negosiasi perdamaian Timur Tengah bersama para ajudan utamanya, termasuk Steven Cheung, Natalie Harp, dan Margo Martin. Begitu tembakan terdengar, kompleks kepresidenan langsung dinyatakan dalam status lockdown total.

Respons Mematikan Secret Service

Agen Secret Service bergerak cepat. Mereka langsung membalas tembakan dengan akurasi tinggi, membuat Nasire Best roboh bersimbah darah di trotoar luar perimeter Gedung Putih. Pelaku sempat dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis, namun akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Sayangnya, baku tembak ini juga menimbulkan korban lain. Seorang warga sipil yang berada di sekitar lokasi terkena peluru dan kini dirawat di rumah sakit dalam kondisi serius. Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah korban terluka akibat tembakan pelaku atau terjebak dalam peluru silang.

Motif Pelaku: Ilusi Religius dan Catatan Medis

Penyelidikan awal yang didukung penuh oleh FBI mengungkap fakta mengejutkan mengenai latar belakang Nasire Best. Ternyata, ia bukanlah sosok asing bagi aparat penegak hukum. Pada Juli 2025, Best pernah ditangkap oleh Secret Service karena mencoba menerobos masuk secara ilegal ke kompleks Gedung Putih. Setelah insiden itu, ia sempat dimasukkan ke bangsal psikiatri karena gangguan kesehatan mental yang parah.

Sumber penegak hukum menyebutkan bahwa Best memiliki delusi religius yang akut. Ia secara terbuka mengklaim dirinya sebagai Yesus Kristus. Meskipun pengadilan telah mengeluarkan perintah larangan mendekat, ia tetap berhasil kembali ke lokasi dengan membawa senjata.

Ancaman Pembunuhan Berulang terhadap Trump

Insiden berdarah ini menambah panjang daftar kelam ancaman yang mengincar Donald Trump. Ini merupakan serangan besar keempat yang mengancam nyawanya, menyusul insiden penembakan massal di Butler, Pennsylvania pada Juli 2024, ancaman di lapangan golf West Palm Beach, serta peristiwa dramatis beberapa minggu lalu di acara White House Correspondents' Dinner pada 25 April 2026.

Hingga berita ini diturunkan, garis polisi dan puluhan penanda bukti berwarna oranye masih menghiasi trotoar 17th Street. Direktur FBI, Kash Patel, menegaskan pihaknya bersama Secret Service akan terus mengusut tuntas bagaimana seorang pria dengan riwayat gangguan mental berat bisa membawa senjata api sedekat itu ke ring satu Amerika Serikat.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar